
Katakanlah bahwa Aurel banyak yang melindungi karena terlalu naif dan tidak pantas disakiti. Bahkan saat seperti ini, Bara tidak ingin membangunkan dua macan betina (Re: Fina dan Nabila) yang kapan saja bisa mencakar wajah eksotisnya.
Kalaupun bertemu Aurel, Bara harus mencari waktu yang tepat dan sembunyi-sembunyi seperti taktik memenangi perang. Perang dengan macan, maksudnya.
Bara berjuang sendiri? Oh jelas tidak, Ferguso. Semuaaaanya pasti ada campur tangan Skala yang mendandani keadaan selalu kondusif.
"Rel, kamu mendingan buka mata, buka hati. Jangan ikut sama Bapak kamu, mending ikut sama Ibu kamu yang jelas-jelas buat hidup kamu terjamin selamat." Skala bicara penuh dramatis supaya Aurel menuruti perkataannya. Tidak semata-mata ia setuju Alya dan Alatas menikah, namun demi keselamatan Aurel antara di tangan Damar atau sang Pencipta. Eh?
"Ya gak, Bar?" tanya Skala kepada pria di sebelah kiri Aurel karena ia dia di sebelah kanan Aurel.
Bara sejak tadi diam saja mendengarkan ocehan Skala yang (tidak) berguna. Aurel tidak akan merubah keputusannya kecuali ada hidayah yang turun dari langit, atau tidak membuktikan bahwa Damar adalah seburuk-buruk manusia yang hidup di bumi.
Emang mulut mereka gak ada yang becus.
"Skala... Aku gak mau punya kakak kayak Bara. Dia tuh tembok, bukan manusia."
Bara melotot tidak terima. "Ngomong apa kamu?" Dia berdiri dan menunjuk Aurel. "Gini aja. TERSERAH kamu mau setuju atau nggak. Kamu gak mikir kalo seandainya Ibu kamu sedih cuma nunggu jawaban kamu? Jangan lupa jasa Ibu kamu, Rel. Selama ini yang ngelindungin kamu itu Dia. Bukan siapapun."
Skala memijat pelipisnya yang berdenyut karena Bara mudah tersulut, sama sepertinya. Ditambah lagi Bara langsung pergi, saking marahnya.
Aurel hendak mengejar Bara, "Bara!"
Tapi Bara tidak menggubris panggilannya. Pria itu terlihat jengkel.
Skala menyuruh Aurel duduk lagi, "Udah gak usah dikejar. Nanti kamu capek."
"Bara ada benarnya. Aku mikirin Dia juga harusnya... jadi gak enak hati." Aurel jadi merasa bersalah karena mengulur jawabannya. Bagaimana ini? Apa ia harus setuju saja?
"Rel, hari ini kamu nginep di rumah Aku gak?"
Plak'
Skala mengusap pahanya yang ditabok Aurel. "Lah kok nabok?"
"Orang lagi pusing mikirin jawaban! Kamu malah nanya yang gak penting!" omelnya tanpa rem.
"Ya kan siapa tau... nanti yang kasih kamu makan siapa? Di rumah aku kan gak ada pembantu, Aurel."
"Ya nanti kek tanyanya!"
Skala berdiri dan berjalan disisi Aurel. "Yaudah, maaf. Marah terus, keriputnya nambah lho."
Aurel menyipitkan mata ke Skala. "Biar tua sekalian!"
__ADS_1
"Bagus tuh, jadi gak ada perbedaan kalo kita nikah nanti."
Aurel menunjukkan kepalan tangannya, "Minta ditampol?"
"Hehe.. Ampun bosku."
Aurel tersenyum. Begitulah Skala, dia suka membuatnya kesal dan senang dalam selingan detik. Baginya, Skala adalah orang ketiga yang berharga setelah orangtuanya.
Sebelum pulang, Aurel menyempatkan diri mampir ke Kantor Polisi untuk menjenguk Damar sekaligus meminta doa karena sebentar lagi Ujian Nasional.
Setelah Damar datang dan duduk di seberangnya, Aurel langsung to-the-point ke bahasan inti.
"Pak, jadi gini..-"
"Soal Ibu yang mau nikah lagi?" sergah Damar dengan wajah sulit dijelaskan.
Skala menunggu di luar karena Aurel rasa ini privasi keluarganya. Jadi dia tidak ikut bicara.
Aurel terkejut, "Iya, Pak."
"Nikah aja.. Kamu juga butuh orangtua yang lengkap."
Mata Aurel memanas saat Damar memanggilnya dengan "Kamu" bukan "Lo" seperti dulu. Gaya bicaranya juga tidak pernah se-tenang ini.
Aurel memegang tangan Damar dan menangis, "Bapak... Aurel bahagia Bapak berubah. Ibu juga pasti bahagia, Pak."
Damar ikut menangis. Menyesali tiap perbuatannya yang mungkin menyiksa anak semata wayangnya hingga hampir mati karena melakukan bunuh diri. Semenjak masuk bui, banyak kajian-kajian yang membuatnya merasa berdosa karena menyia-nyiakan istri dan anaknya, sedangkan ia sibuk dengan duniawi.
"Pak Damar. Pintu taubat Allah terus terbuka bagi hamba-hamba yang mau menjemput Hidayah-Nya. Kita bertemu adalah takdir. Semuanya juga takdir, namun keutuhan keluarga tidak sepenuhnya mutlak. Kita bisa merubahnya menjadi lebih baik kalau terus ikhtiar. Perbaiki hubungan Pak Damar dengan anak.. katakan kalau Bapak menyesali semuanya. Lalu perbaiki hubungan dengan mantan istri Bapak. Walaupun sudah mantan istri, anak tetaplah anak yang menjadi amanah dari Allah 'Azza Wa Jalla."
Sekiranya itulah perkataan dari salah satu penceramah yang bernama Angkasa yang jauh-jauh datang ke Jakarta untuk mengisi kajian di Kantor Polisi selesai Sholat Jum'at. Damar dengan keberaniannya menghampiri Angkasa dan mengungkapkan permasalahan keluarganya.
Skala mendengar semuanya. Dialah yang merekomendasikan Angkasa -kawannya untuk mengisi ceramah di Kantor Polisi dimana Damar dipenjara. Mumpung kawan baikny masih di Jakarta, Skala berusaha walaupun tidak diketahui Aurel.
Damar memeluk Aurel dimenit terakhirnya. "Jaga Ibu ya, Nak. Bapak mau kamu yang membuat Ibu bahagia karna Bapak selalu buat Ibu menderita." Lalu dia melepas Aurel.
"Bapak selalu buat kita bahagia," ralat Aurel sembari tertawa. "Bapak juga sehat-sehat disini ya."
"Semoga Bapak bisa ke pernikahan kamu sama Skala."
"Aamiin- Bapak! Ihh, jangan gitu." Aurel menghapus jejak air mata di pipinya.
Damar terkekeh, "Dia selalu kesini."
__ADS_1
"Ngapain?"
"Minta restu."
"Bapak... jangan mulai deh."
"Dia ngasih info tentang kamu... Bapak kan gak bisa liat kamu sama Ibu terus."
Selesai melepas rindu. Aurel keluar dan menjumpai Skala yang sedang duduk manis di kursi.
"Udah?" tanya Skala sambil berdiri. Dia pura-pura menunggu padahal daritadi nguping depan pintu.
Aurel mengangguk. "Udah. Tapi aku laper, bisa ke perempatan gak?"
"Perempatan mana? Komplek?"
"Iya. Beli nasi goreng."
Skala mengiyakan permintaan Aurel. Mereka masuk mobil dan melaju dengan kecepatan normal. Setelah beli nasi goreng, mereka langsung pulang -ke rumah Skala untuk makan sejenak lalu mengantar Aurel pulang.
Aurel merasa ini anugrah dari Tuhan karena doa-doanya dijabah begitu cepat. Skala yang melihat Aurel senyum-senyum sendiri hanya bisa memaklumi. Gadis itu pasti bahagia sekali.
"Kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Gapapa," ujar Aurel menggeleng pelan.
Dasar. Tapi ya sudahlah kalau memang tidak mau cerita, yang penting dia tahu kalau Aurel dan Damar sudah berbaikan. Damar juga setuju kalau Alya menikah dengan Alatas.
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Jawaban kamu."
"Iya."
Skala tersenyum lalu mendorong dahi Aurel dengan telunjuknya, "Jangan senyum terus. Bikin candu."
Aurel mengusap dahinya, "Ishh."
Bersambung...
😂 Maaf ya update-nya lama... karena pandemi gini terusin hobi rebahan (ngakak jahat)
__ADS_1