SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Gih, pindah -Nabila-


__ADS_3

Nabila menunggu Gemintang berkunjung ke rumahnya karena ada urusan mendadak. Kalau bukan menyangkut Dina, dia ogah menyuruh Gemintang datang sedangkan dia punya pacar plus-plus.


“Permisi.”


“Ayo masuk.”


Nabila menyuruh Gemintang duduk di ruang tamu yang sudah disiapkan kopi hitam panas dan biskuit kelapa.


“Aku masih gak percaya diundang kamu.”


Nabila bersandar di sofa, “Jangan geer. Gue mau nanya banyak soal pacar lo. Lo harus jawab jujur tapi.”


“Sadira?” Dahi Gemintang berkerut.


Nabila mengangguk, “Iyalah. Masa gue.” Ogah sangat.


“Saya gak se-sabar Bintang. Jadi kamu jangan sampai putus, soalnya dia doang yang kuat ngadepin kamu.”


“Plis ya, gue mau bahas pacar lo, bukan ghibahin pacar gue.” Lagipula Nabila tidak mau bertengkar dengan orang lain di rumahnya sendiri. Lagian mau Bintang kuat atau tidak menghadapinya bukan urusan Gemintang.


“Saya haus, sebentar.” Gemintang menyesap kopinya.


“Rencana lo kedepannya sama dia gimana?” Nabila memulai investigasinya.


Gemintang berdehem cukup lama, “Kita mau pindah ke Barcelona.”


“Apa?”


“Iya, pindah setelah nikah.”


Senyum Nabila jelas tertera jelas, matanya berbinar bahagia, “Bagus dong. Lo cepet nikah gih sama dia. Daripada kelamaan disini, ya kan?”


Gemintang mengerjap. Awalnya dia kira Nabila mendukung karena apa. Ternyata… sama saja responnya dengan Skala. “Berarti ini H-3.”


“Wih, bagus-bagus. Kalian hati-hati ya disana. Lo juga jaga tuh bini lo.”


“Pasti sih. Aku mutusin buat pindah karena situasi disini gak karuan.”


“Ya emang, kan gegara Sadira jadi begini, Tapir Jantan.” Tuh, mulai lagi mulutnya. “jujur aja ya, Gem. Sadira itu cuma mau diperhatiin orang. Keluarganya itu super sibuk makanya dia cari perhatian ke orang lain, caranya aja agak nyeremin.”

__ADS_1


“Gitu ya?”


“Gue saranin, lo jadi suami yang cerewet buat dia. Jadi dia merasa diperhatiin gitu.”


“Lo peduli sama kita?”


“Gue takut lo mati duluan nanti.”


“Astagfirullah.”


“Makanya gue wanti-wanti dari sekarang. Dia tuh creepy abis.”


“Itu kan masa lalu… sekarang dia banyak berubah kok.”


“Ya… semoga aja gitu,” ujar Nabila sangat santai. “udah, gue cuma mau nanya itu doang. Gih lo boleh balik ke habitat asli lo.”


Apa salah dan dosa Gemintang, sampai-sampai diusir begitu. Sabarnya tidak boleh ada batasan ketika berhadapan dengan Nabila. Kalau iya, sudah tinggal nama perempuan itu.


"Aku belum makan biskuitnya."


"Ohh, mau makan? Yaudah, dihabisin kalo laper."


"Alah, niat baik apaan?" Merasa tenggorokannya kering, Nabila meminum air putih dalam gelas.


"Ngelamar lah."


BHUKK UHUKK


Untung saja tidak tersembur. Nabila menepuk dadanya tiga kali untuk memastikan paru-parunya tidak kemasukan air.


"Kamu gapapa?"


"Gapapa pala lo. Jelas gue kenapa-napa! Lo ngasih info gini amat."


"Ya memang gitu."


"Gue gak setuju, sumpah."


Gemintang menghendikkan bahunya tidak tahu dan berlepas diri. “Aku pamit dulu.”

__ADS_1


“Ya…”


Berpapasan saat Gemintang keluar dari pintu, Bintang datang dengan raut penasaran seolah bertanya ngapain dia kesini? Langsung saja dia hampiri si Nabila dan bertanya.


“Kok si Gemi kesini?”


“Disuruh gue,” ucap Nabila seperti biasa memainkan kukunya sambil menyilangkan kaki.


“Arisan?”


“Ngepet,” jawabnya asal.


Bintang tertawa sebentar, “Ngepet apaan? Duda ganteng?” ledeknya.


“Ngapain ngepet? Dokter Alatas duda noh, ganteng lagi.”


“Gue siram, lo,” ancam Bintang sambil cengengesan. Yang benar saja, masa Alatas mau dia gaet.


Nabila mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ‘peace’. “Yaelah, Tang. Lo yang ngomong padahal.”


“Serius, lo berdua bahas apaan?” Baru Bintang duduk di samping Nabila.


“Dina...saurus.”


“Lo humornya tinggi ya.”


“Kan lo gurunya, beb.”


Wuiss.. enak saja.


“Jadi gak ke rumah Aurel?”


Nabila menyahut, “Jadi lah!”


“Yaudah sana siap-siap, ngapain main kuku mulu.. itu kuku gak bakal copot.”


Nabila mendecak lalu pergi ke kamarnya. Setelah dirasa rapih, Nabila kembali ke ruang tamu.


“Yok,” ucapnya menginterupsi untuk pergi.

__ADS_1


**


__ADS_2