
Faisal dan Aurel sulit dipisah sekali pun ada perempuan atau lelaki keren mendekati mereka. Menurut Faisal, amanah Skala adalah prioritas utama. Orang tuanya juga mendorong Faisal untuk selalu menjaga Aurel di mana dan kapan pun jika pergi.
Aurel tidak risih dengan pengawalan ketat Faisal. Dia terlindungi tiap kali menginjak kaki di sekolah, banyak gunjingan mengenai pewaris yayasan selanjutnya. Mereka menganggap Aurel adalah pewaris selanjutnya karena hanya ia anak Skala si pemilik gedung sekolah dan perusahaan properti.
Kali ini Faisal membantu Aurel melepas pengait helm.
"Kata Papa, dulu Papa sering pasangin sabuk pengaman kalau pergi sama Mama." Aurel merasa perlakuan Faisal seperti Skala pada ibunya.
"Gue gak akan bisa nandingin Om Skala. Dia masih yang terbaik. Gue belum ada apa-apanya," ujar Faisal merendah demi meroket.
Mereka jalan beriringan melewati koridor yang didominasi warna biru muda. Di depan tiap kelas tersedia beberapa bangku untuk guru piket, terkadang digunakan murid jika jam istirahat untuk foto. Halaman depan kelas ada sebuah tanaman bunga, tidak boleh diinjak atau dipetik demi kenyamanan lingkungan belajar. Di dalam kelas juga banyak fasilitas yang memadai mulai dari loker baju, televisi untuk tim penyiaran, dan papan tulis toucscreen yang bisa ditulis menggunakan stylus pen. Dahulu stylus pen digunakan untuk menggambar, sekarang sudah diperbarui untuk menulis di papan tulis. Beberapa tahun sudah dilewati Skala dan teman-teman hingga adanya zaman serba canggih karena kemajuan teknologi yang bekerja sama dengan perusahaan manca negara untuk membuat alatnya.
"Lo tau gak? Itu anak yang punya yayasan."
"Cantik banget. Itu Kak Aurel sama Kak Faisal kan?"
"Iya, mereka sahabatan dari kecil. Orang tuanya juga sahabatan dari SMK."
"Serius? Kalau gue jadi Kak Aurel, langsung gue pacarin Kak Faisal."
Adik kelas mungkin ada yang baru tahu mengenai hubungan mereka. Percayalah, jika Bara -Om Aurel- dengar maka sudah dipastikan mereka tidak bisa berkata-kata karena Bara menolak tua dan pekerjaan tetap sebagai dokter spesialis saraf di Rumah Sakit sang Kakek -Alatas- .
__ADS_1
Bumi berputar sangat cepat, waktu pun mengikutinya.
Aurel melihat Faisal yang menatap mereka dengan tenang walaupun pasti di hatinya ada unek-unek yang menggumpal. Untuk menjaganya, Faisal banyak mengalami kesulitan.
"Aku harus ke perpustakaan. Kamu duluan ke kelas," ujar Aurel berhenti agar Faisal juga berhenti.
Faisal melihat sekitarnya sebentar. "Jangan lama-lama, udah mau bel."
"Hm." Aurel pergi terlebih dahulu ke perpustakaan yang ada di gedung sebelumnya. Menurut sang Ayah, dahulu sekolah ini tidak sebesar sekarang. Dikarenakan banyak siswa yang mendaftar, kebanyakan anak rekan kerjanya, jadi Skala memperluas bangunan.
Jalan kaki ke perpustakaan saja seperti ke warung jika dari rumah Aurel. Cukup jauh, mungkin itu sebabnya sedikit orang yang membaca di perpustakaan kalau jam istirahat. Mereka ingin makan untuk mengisi tenaga saat belajar.
Sesampainya di perpustakaan, Aurel langsung mencari buku yang dicari sebelum Faisal berlari padanya dan mengomel karena terlalu lama pergi. Sahabat lelakinya terkadang bersikap seperti pacar posesif yang ada di novel.
Aurel hendak keluar namun ada yang menghalanginya di ambang pintu. "Hans? Ada apa?"
Hans atau Hansel, berada di tingkat kelas paling bawah atau biasa disebut kelas biang onar. Wajah asianya sangat kentara, kulitnya kuning langsat, dan suka sekali memakai sepatu berwarna putih walaupun dilarang. Hans dibicarakan akhir-akhir ini setelah berkelahi Faisal di lapangan saat jam olahraga berlangsung. Namanya tampak tercemar karena sebelum terlibat dengan Faisal, dia juga merundung banyak siswi yang dalam tanda kutip kurang mampu.
"Pengawal lo mana? Tumben gak ikut," kata Hans melihat tidak ada Faisal di sekitar Aurel.
Dan yang paling aneh diantara gosip, ada yang menyebar rumor kalau Hans menyukai Aurel.
__ADS_1
"Faisal ke kelas duluan."
"Lo nanti mau gak makan siang sama gue?"
"Hm. Ada Faisal juga, kita makan bertiga."
"Bukan bertiga, tapi berdua."
"Aku kurang yakin Faisal setuju. Kenapa gak bertiga aja? Kan biar ramai," ujar Aurel.
Namun jika dipandang lama, Hans hanya menganggap Aurel sebagai teman baru. Tidak mungkin Hans menyukainya.
"Tiap kali gue liat lo sama Faisal. Gue mau pukul salah satu di antara kalian. Karena gue gak bisa lukain perempuan, jadi gue berencana hajar Faisal."
Aurel tersenyum, membuat ekspresi Hans datar. Kalau begini rasa kagumnya terhadap Aurel akan bertambah tanpa bisa dikendalikan.
"Tugas aku bertambah. Selain jaga Faisal dari kamu, aku juga jaga kamu dari orang-orang yang suka sama Faisal. Kamu gak mau dikeroyok siswi satu sekolah, kan?"
Hans berkacak pinggang. Kenapa juga Aurel menambah tugasnya? Itu malah membuat Hans tidak bisa memisahkan mereka.
"Gimana caranya supaya bisa jadi Faisal? Bisa deket sama lo, terus disukai banyak orang. Kasih tau gue caranya," kata Hans.
__ADS_1
"Berbuat baik ke semua orang."