SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
MABA Tanpa OSPEK


__ADS_3

Skala sudah menerbitkan surat edaran untuk mahasiswa dan mahasiswi Bina University 2 yang isinya peraturan dan pedoman mereka selama kuliah disini. Menggantikan MPLS dengan materi Dosen tidak buruk kan? Yap. Tiga hari kedepan akan diisi perkenalan Dosen tiap jurusan, lalu jadwal kelas diumumkan lewat website resmi.


Aurel tidak masalah kalau jadwalnya tiap pagi dan siang. Sengaja tak ambil sore karena ia daftar juga Penambahan Materi Mandiri (PMM) sampai malam. Maba sepertinya yang jenius ya biasa saja, makanya di Kampus hanya 50 orang yang mendaftar untuk pulang sampai sore atau malam paling lambat jam 7 malam.


Intinya Skala menggerakkan program PMM agar mahasiswa/i yang mampu mengejar materi untuk disampaikan ke kawan-kawannya. Dia bilang, BU 2 sudah bekerja sama dengan perusahaan swasta nasional dan kampus lain.


Kampus BU doang yang ada PMM... di Indonesia aja kagak ada kayaknya.


Aurel menoleh ke kanan dan melihat Nabila sedang menutup mulut karena nguap. Kebiasaan yang sulit hilang, yaitu mengantuk saat guru menerangkan dan panik begitu ujian dadakan.


Dilihatnya lagi ke kiri, ada Yuan yang sibuk menulis apa yang disampaikan Dosen.


Yuan menghentikan tulisannya karena merasa diperhatikan, "Apa?"


Aurel menggeleng, "Gapapa."


"Awas jatuh cinta," candanya.


Aurel terkekeh pelan, "Gak bakal."


"Lo berdua bisik-bisik apaan sih?" tanya Nabila ikut berbisik. "Gue bilangin Skala ya kalian berani main di belakang dia."


"Coba aja," tantang Aurel menjulurkan lidah.


Nabila mendengus, "Kurangasem!"


Yuan kembali menulis, Aurel memperhatikan Dosen, dan Nabila menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan.


3 jam berlalu, semua dipulangkan karena masih perkenalan sekolah. Bintang menarik tangan Nabila ke suatu tempat yang ramai orang. "Mau kemana sih? Gue mau tidur, Tang. Lo mah gak bisa liat gue santai!"


Ternyata Bintang membawa Nabila ke Mading tempat pemberitahuan dari Rektor maupun Wakilnya yang tak lain adalah Skala.


"Ta-da!"


Nabila merasa jalur nafasnya berhenti saat itu juga. Ia menatap Aurel sedang mengacungkan dua jempol ke arahnya.


"Lo berdua..." desis Nabila ngenes. "Daftarin gue PMM?"


Bintang menangkup kedua pipi pacarnya, "Semangat dong.. masa lemes gini."


"Pala lo! Ku menangis... membayangkan... betapa kejamnya kalian atas diriku..." Nabila mendramatisir sekali sambil mengusap matanya yang tidak keluar air.


"Lebay lo ah," ujar Bintang tertawa singkat.


Nabila menatap dua orang didepannya dengan datar, "Visi misi kalian daftarin gue PMM mau bikin gue mati muda?"


Aurel menyanggah, "Ih, ya gak gitu, Bil."


"Terusss?" Nabila terus berkata sabar dalam hati.


"Kita mau bikin lo jadi rajin, gak males-malesan kayak SMA dulu. Masa lo gak mau maju sih?" Bintang memang kalau bicara itu rada somplak.


"Maju kemana, Tang? Maju ke jalan raya? Apa otak gue suruh maju? Maju ke jidat, hah?" Nabila menatap urutan mahasiswi yang terdaftar PMM di Mading dengan nanar. Kali ini, ia tidak akan bisa holiday dengan tenang. Sungguh mengenaskan.


Aurel mengepalkan tangannya di udara, "Semangat! Kamu pasti bisa!" Gadis itu izin pergi lebih dulu, "Aku mau ke Kantin beli makan siang. Habis itu ke Perpustakaan buat nyalin materi. Selesai itu, aku PMM cuma sampai jam 5 sore. Dah, Bintang, Nabila." Ia melambaikan tangan dengan raut bahagia.


Bahu Nabila lemas, "Niat banget bikin gue mati berdiri, lo berdua."


Bintang menegakkan bahu Nabila, "Lo semangat dong... kalo nanti IPK lo di semester pertama dapet 3,8 gue turutin apa mau lo. Gimana?"


"Termasuk beli skincare sama ke Korea?" tanya Nabila.

__ADS_1


Bintang berpikir sebentar, "Iya, makanya lo semangat."


"Beli tiket konser EXO juga?"


"In your dream..."


"Gue juga mau cari pacar baru..."


"Gue gibeng lo."


Nabila tertawa lantas menarik tangan Bintang, "Lo temenin gue belajar di Perpus sambil nunggu Aurel makan."


...***...


Aurel makan siang sendiri. Ia tidak berharap ada yang menemani karena paham mereka sibuk sendiri. Rencananya dengan Bintang ternyata tidak berakhir buruk. Sengaja mendaftarkan Nabila PMM agar nilainya meningkat karena sebenarnya dia punya potensi dan daya tangkapnya bagus. Jadi percuma kalau malas-malasan sampai semester akhir, yang ada potensinya terpendam.


Dari : Skala


Dimana?


Aurel membalas, Kantin. Aku lagi makan siang. Kenapa?


Dari : Skala


Ke koridor barat samping ruang rektor, bisa?


Ia balas lagi, Bisa. Tapi agak lama ya, baru aja mau makan.


Dari : Skala


Gak pa-pa, makan aja dulu


.


"Maaf, Mbak Aurel. Gak usah bayar," kata pemilik salah satu kantin.


"Lho? Kok gak bayar, nanti saya ngutang dong."


"Udah ditanggung Pak Skala, Mbak."


Kalau nama Skala sudah disebut, ia hanya tersenyum. "Gapapa, ini buat tambahan ya. Gak boleh nolak."


"Makasih, Mbak."


Aurel berbalik dan tidak sengaja hampir menabrak Angkasa, "Maaf, Pak."


"Gapapa. Muka kamu kenapa?"


"Saya mau hajar Skala, Pak."


"Waduh, kenapa nih?"


"Masa saya yang makan, tapi dia yang bayar."


Angkasa tertawa, "Sabar ya."


"Permisi, Pak." Aurel lanjut berjalan menuju tempat yang dikirim Skala.


...ΩΩΩ...


"Aku gak bisa tolerir lagi sama kamu, Rum. Kamu berani ngunci Aurel di kelas sendirian." Skala berhadapan langsung dengan sahabatnya yang sudah berubah.

__ADS_1


"Ya gak usah lebay gitu... kan dia juga bisa keluar." Rumi masih bersikap santai dan menganggap Skala-lah yang berlebihan.


"Rumi, kamu kenapa sih? Kenapa kamu begini sama Aurel? Dia salah apa ke kamu?"


"Salah dia ngambil waktu kita."


Aurel hadir mendengar ucapan mereka, "Apa? Aku?" Kembali lagi wajah sangar Aurel, "Aku ngambil waktu kamu?"


Skala memijit dahinya yang berdenyut. Ia janjian dengan Aurel disini, namun Rumi menemuinya tanpa disuruh.


"Sekalipun kamu bisa bayar waktu. Memangnya orang itu mau menghabiskan waktu sama kamu?" tanya Aurel cukup menampar Rumi. "Bahkan Skala lagi disini pun kamu nyamperin dia. Sekarang siapa yang ganggu waktunya siapa?"


Skala berkacak pinggang, "Udah cukup." Pusing juga melihat mereka saling tatap sinis.


"Kamu sekarang bisa debat ya," ujar Rumi.


"Gak juga," jawab Aurel.


Rumi pergi menahan malu dan marah karena Aurel sudah berani melawan ucapannya.


Setelah Rumi menghilang dari pandangan mereka. Barulah Skala memeluk Aurel dengan erat, "Wahh, sekarang kamu bisa pasang muka ganas ya.. Hebat!"


Aurel mengangguk, "Lama-lama dia aneh." Ia melepas pelukan Skala, "Kamu kenapa bayarin orang kantin?" tanyanya serius.


Skala menggaruk kepalanya, "Hehe... kenapa emang?"


"Gak usah gitu. Aku masih mampu kok bayar sendiri, kalaupun gak bisa, kan ada Bara."


"Iya udah. Gimana reaksi Nabila? Dia pingsan gak, pas tau ikut PMM?"


"Gak pingsan, dia cuma ngenes aja."


"Sedikit-sedikit pasti bisa lah dia."


"Kamu kenapa nyuruh aku kesini?" tanya Aurel ke intinya.


"Kamu harus hati-hati sekarang. Rumi kayaknya berubah banyak. Apalagi orang-orangnya banyak yang ngintai kamu karena Ayah suruh."


"Ayah kamu nyuruh orang ngintai aku? Kenapa?"


"Ya karena... calon aku kan Rumi, tapi aku maunya sama kamu."


Aurel memukul pelan lengan Skala, "Makanya, kamu sama Rumi aja sana. Simpel kan?"


"Se-simpel itu bisa bikin hati kamu jatuh, Rel. Stop-lah korbanin perasaan terus."


Skala ada benarnya. "Terus gimana?"


"Usahain kamu gak pulang sendiri ya."


"Iya. Itu aja?"


Skala mengangguk. "Terus apa lagi?"


"Nggak. Tapi, Skala. Kuatin diri kamu, jangan telat makan, kita semua ada buat kamu, jadi jangan pernah merasa sendiri. Aku mau ke Perpus nemenin Bintang sama Nabila." Aurel balik badan lalu menghilang setelah belok kiri untuk naik tangga.


Skala tidak percaya Aurel sudah dewasa. "Harusnya dia bilang itu ke dirinya sendiri."


BERSAMBUNG...


Uwuw gak mereka? Hehe..

__ADS_1



...-Aurel kesayangan Skala-...


__ADS_2