SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Saat Kesabaran Nabila Habis


__ADS_3

BRAK'


Nabila menarik rambut Leya hingga mereka masuk kamar mandi. Tak lupa Nabila menutup pintu supaya tidak ada mahasiswa lain yang dengar.


"GILA KAMU YA?!" gertak Leya menepis tangan Nabila dari rambutnya.


Bahkan rambut Leya sampai rontok karena saking kencangnya Nabila tarik.


"LO YANG GILA!" hardik Nabila tidak mau kalah. "Lo jangan sekali-kali nuduh sahabat gue. Buat dorong najis kayak lo, dia terlalu suci buat nyentuh lo!"


"Najis???"


"Iya. Sekalipun Aurel nyentuh lo, lo gak bakal jadi suci kayak dia! Najis ya tetep najis!"


Leya mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya.


"Lo nuduh Aurel kan?" tanya Nabila menyunggingkan senyuman.


Leya juga tersenyum mengerikan, "Iya. Tapi kayaknya ada yang harus aku singkirin dulu sebelum Aurel. Siapa namanya? Yuan ya? Dia terlalu gentle ikut lompat."


Deru nafas Nabila bahkan terdengar menyeramkan karena ingin membunuh orang dihadapannya, jika diizinkan. Namun tak lama, Nabila tertawa karena berhasil menjebak Leya.


Dari pintu salah satu toilet, Aurel keluar dengan wajah tenang. Dilanjut Yuan dan Bintang juga muncul dari toilet.


"Gila... Kenapa ya? Cewek yang dibangga-banggain Skala busuk semua?" Yuan melirik sinis Leya.


"Tinggal nunggu dia tobat aja," ujar Bintang sambil menepuk pundak Leya dua kali.


Rahang Leya mengeras, "Kalian... jebak aku."


"Kita keluar dulu ya, takut salah paham nanti. Masa cowok di toilet cewek," ujar Yuan mewakili. Kedua pria itu pun keluar dan menutup pintu kembali.


Aurel menunjukkan hasil rekaman tadi di ponselnya. "Sekarang pilihan kamu cuma ada satu. Aku yakin kamu tau."


"Ada dua, Rel." Nabila memberi kesempatan Leya. "Pertama, lo ngaku. Kedua, lo pergi."


Aurel menoleh sebentar, "Aku kasih kamu waktu buat berfikir."


"Kelamaan," ujar Nabila.


"Jangan ubah pandangan Skala tentang kamu, Leya. Dia tau, kamu lebih baik dari aku. Dia gak cinta Rumi, bukan berarti menyingkirkan kalian. Aku hargai semua sahabatnya. Tapi kenapa kalian selalu ngebuat aku hina di mata Skala?" curhat Aurel. "Beginilah aku, Leya. Untuk jadi seperti sekarang, aku banyak melewati hal yang gak mudah. Kamu salah buat aku jatuh dari sana karena sebelumnya aku pun ngalamin. Jadi aku gak akan takut mati sia-sia."


Kilatan marah Leya lama-lama meredup bergantikan dengan genangan air mata mendengar tutur kata Aurel.


"Saat aku terluka. Aku yakin akan ada orang yang ada disamping aku. Aku tau, kamu butuh sahabat kan buat ngelindungin kamu?" Aurel tersenyum sangat tulus. "Hukum alam, kalau kamu berbuat baik, semua orang pasti memperlakukan kamu baik. Begitu juga sebaliknya."


"Tapi kamu balas perbuatan aku baik-baik, Rel."


"Itu yang aku maksud. Gak semua hukum alam berlaku ke kita. Kalau bukan aku, kamu bakal lebih diperlakukan buruk sama orang lain."


Nabila mendengarkan sahabatnya yang sangat bijak menangani masalah. Tidak ia sadari, kalau Aurel berubah sangat banyak termasuk menambah tingkat sabar. Kalau dia, jangankan sabar, jaga kalimat aja belum mampu.


Skala menyelamatkannya saat bunuh diri.


Bara menyelamatkannya saat kecelakaan.


Juli melindunginya dari Dina.

__ADS_1


Ghaisan dan Fina sahabat pertamanya saat hilang ingatan.


Yuan menghiburnya saat bersedih.


Alatas mengobati seluruh luka di hatinya.


Bintang dan Nabila adalah sahabat setia saat semua orang meremehkannya.


Juli dan Shiren selalu membuat Aurel tertawa karena mereka bertengkar dimana-mana.


Itu semua adalah karunia-Nya yang tidak Aurel dapat sebelumnya.


Bagaimanapun juga, Aurel harus menjaga mereka dengan mengatakan kalau dirinya "baik-baik saja".


"Pilihan kamu tetap satu. Minta maaf ke semuanya."


Saat Aurel balik badan, Leya memanggilnya, "Aurel..."


Namun Aurel tidak menghadapnya, "Bilang ke Rumi, aku baik-baik aja. Kalau dia mau Skala, aku cuma bisa bilang selamat berjuang."


"Maaf," lirih Leya.


"Aku tau kamu menyesal," ujar Aurel menggandeng Nabila keluar toilet.


Di dalam sana, Leya terisak merasa dirinya terburuk di dunia. Benar, Aurel jauh lebih baik dibanding dirinya atau Rumi.


...ΩΩΩ...


"Harusnya lo jangan jambak juga, Bil. Sadis, gilee." Yuan membawa nampan berisi 4 mangkuk bakso diiringi Nabila membawa minuman.


Mereka duduk di satu meja untuk makan siang sebelum PMM dimulai.


Sebelum Aurel dan Nabila minum, tutup botol yang disegel sudah dibuka Bintang. Udah kebiasaan.


"Semua udah berlalu," ujar Aurel lantas meminum air mineralnya.


"Lo dapet hidayah ya semenjak amnesia. Jadi gampang ngelupain masalah. Hebat," puji Bintang.


"Udah ngobrolnya. Makan dulu, ntar keburu krempeng yang cewek-cewek," ujar Yuan.


Aurel tersenyum singkat, "Semoga dia bisa merubah Rumi juga."


"Rumi mah gak bakal tobat sampe langit runtuh. Mukanya aja songong, minta ditampol." Nabila sampai mencontohkan dengan merauk wajah Yuan.


Yuan memalingkan wajahnya, "Ya Allah, astagfirullah! Muka ganteng gue dirauk tangan jahanam."


"Semoga aja bisa," ujar Bintang. "Gila. Gue udah mirip Aurel belum yang suka positip tingking?"


"Hilih. Kecuali lo ganti gender," cetus Yuan.


Nabila mengetuk pelan kepalanya dengan sendok, "Lo inget deh dari pertama. Dina, Rumi, Leya, semua terobsesi sama Skala. Menurut gue nih, Skala tuh sama kayak Bintang, sama juga kayak Yuan. Gak ada spesial-spesialnya."


"Kelebihan Skala sama kayak Yuan," ujar Bintang.


"Apa tuh?"


"Hidup makmur tujuh turunan," jawab Bintang. "Mungkin ada alasan lain dari mereka. Rata-rata karena Skala terlalu perhatian seolah-olah ngasih harapan."

__ADS_1


Aurel menghentikan aktivitasnya.


Skala perhatian? Memang.


Tapi kalau kasih harapan? Itu salah si perempuan yang salah beranggapan kebaikan Skala.


Yuan mengambil tisu untuk membersihkan mulut Aurel. Namun tiba-tiba Skala datang dan membuang tisu tersebut. "Jangan modus."


Yuan terlonjak, "Kaget saya, Pak."


"Jangan coba-coba modus sama pacar saya."


Aurel memejamkan mata seraya berdiri berkacak pinggang, "Sejak kapan Bapak Skala yang terhormat jadi pacar saya? Kapan? Kapan?"


Bintang dan Nabila melongo lihat mereka adu mulut.


"Sekarang. Ini sekarang saya kasih tau semuanya, termasuk Yuan, supaya gak ada yang seenaknya modus."


"Berhenti buat keributan..." desis Yuan.


"Kamu yang mulai!" bentak Aurel dan Skala serempak.


"Urusin dulu perempuan-perempuan yang minta pertanggung jawaban kamu!"


"Apa kamu bilang? Tanggung jawab apa?"


"Kamu kasih harapan tapi gak jelas dibawa kemana arah hubungan."


"Hah?"


"Jangan harap saya mau jadi pacar Anda! Wegah!" [re : Ogah!]


Bintang menahan tawa melihat Aurel menolak Skala di depan umum.


Skala membenarkan dasinya, "Satu jam , 2 jam, atau besok, saya pastikan kamu nerima saya. Kalau gak—"


"Kalau gak, kenapa?!" sulut Aurel.


"Kalau gak ya gapapa. Saya gak butuh jawaban kamu. Yang penting Bara, Alatas, Bu Alya, udah setuju."


"Terus ngapain dia nanya, astogee.." Nabila memakan baksonya yang sejak tadi tertunda.


"Mereka lebih berani ya sekarang," ujar Bintang.


"Nanya tapi gak butuh jawaban. Ya ampun, berasa monolog sinetron dah gue disini, jadi cameo yang mondar-mandir doang."


"Juli pasti bahagia sekarang," gumam Bintang yang terdengar Nabila.


"Apa hubungannya, Ferguso? Lo juga ikut error."


"Bahagia ternyata mereka udah peka."


Yuan menahan sakit di hatinya, "Mencintai orang yang dicintai orang lain." Ia ditertawakan Nabila dan Bintang.


BERSAMBUNG...


__ADS_1


-Yuan yang mencintai Aurel sendirian-😂😂


__ADS_2