
Kalau bukan karena ia ingin pulang dalam keadaan amnesia, tidak mau tuh pulang dengan Skala yang sudah nge-tem di depan gerbang sambil bersandar di kap mobil. Mana gayanya sok pakai kacamata hitam. Perasaan ini tidak terik kok.
Ghaisan sedari tadi menyuruh kembarannya untuk tidak seperti cacing kepanasan kalau melihat Skala dengan pose kecenya.
"Lo bisa diem gak? Gue iket di pohon kalo lo masih kek cacing kepanasan," ocehnya kesal.
"Gila, gila, gila...! Itu Skala, woii, idaman gueee." Bukan hanya Fina yang berisik tapi semua perempuan di belakang Aurel juga loncat-loncat karena kagum.
Ghaisan menyentil Fina, "Dia udah punya Aurel..."
Seketika Fina minder, "Lo mah gak bisa liat gue bahagia dikit. Jangan bilang faktanya dong, baru aja gue ngebayangin."
"Jaga sikap lo atau gak bakal dapet kesempatan ke rumahnya." Ghaisan memperingatinya begitu berdiri disamping Aurel.
Skala melirik jam tangannya, "Ini setengah tiga."
Ya memang...
"Tadi mampir ke perpus buat minjem buku," ujar Aurel jujur.
Skala menurunkan kacamatanya sampai ujung hidung, "Kalian ngapain? Bodyguard-nya Aurel?"
"Kurangasem.." batin Ghaisan tersenyum tipis.
"Gapapa, asal bisa tinggal bareng serumah," batin Fina bertolak belakang dengan Ghaisan.
"Kenalin, ini Ghaisan." Aurel menunjuk Ghaisan. "ini Fina, mereka kembar." Ia menunjuk Fina.
Skala manggut-manggut, "Ada keperluan apa?" Ia melepas kacamatanya.
"Kamu kenal Ayah mereka? Katanya, partner kamu."
"Siapa ya?"
Ghaisan jadi eneg kalau model Skala sok cool begini. Tapi menurut Fina, Skala is number one on heart. Bagaimanapun Skala, akan tetap keren di mata Fina.
Karena Fina tidak menjawab karena sibuk memandang kagum Skala, akhirnya Ghaisan yang jawab, "Hermawan dari CV Darma Wangsa."
Skala tampak diam sebentar. "Ohhh, Pak Hermawan... iya saya kenal."
Aurel tersenyum, "Mereka mau mampir ke rumah kamu. Boleh?"
"Boleh." Skala mengangguk.
Fina tambah tidak karuan sekarang. Ghaisan rasa, kakaknya sudah gila.
"Kalo sama Pak Hermawan..." Habis itu Skala terkekeh. "kalian bilang aja sama Pak Hermawan... mau ke rumah Pak Skala, nanti saya atur jadwalnya karna saya sibuk."
Ghaisan ingin tertawa kencang saat melihat wajah datar Fina, lucu sekali.
"Kalo gak sama Ayah, gak bisa ya, Pak?" Fina bernegosiasi. Ini termasuk usaha, jadi jangan dihujat ya.
"Bisa aja... siapa tau kalian ada kerja kelompok, bisa di rumah saya karna sementara Aurel tinggal disana."
Aurel langsung mencubit perut Skala, "Ngapain bilang segala, Skala."
Skala meng'aduh' pelan, "Ya kan biar tau dulu..."
"Kalian tinggal bareng?" tanya Ghaisan.
"Iya," jawab Skala dengan mantap.
"Jangan-jangan kalian udah nikah?" Pertanyaan mengejutkan dari Ghaisan.
Skala terkekeh geli.
Mendengar obrolan unfaedah mereka, Aurel membuang muka ke arah lain dan tak sengaja menangkap Bintang dan Nabila sedang jalan berdua. Katanya mereka pacaran, tapi kenapa aneh begitu? batin Aurel.
__ADS_1
Rasa-rasanya Aurel pernah ada ditengah-tengah mereka. Tapi kapan? Aurel pun meringis pelan sambil menepuk kepalanya.
"Sadar, Aurel. Kamu gak boleh mikirin yang aneh-aneh," batinnya lagi. Tapi ia justru melihat mereka lagi dan mengeryit saat Bintang melihatnya sebentar lalu mengajak Nabila bicara. Seharian ini di sekolah juga ia tidak bertemu Nabila ataupun Bintang untuk bertanya sesuatu. Mungkin karena mereka beda kelas dan sibuk juga.
"Skala, tunggu disini sebentar ya." Aurel pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Ya." Skala melihat Aurel mengejar seseorang.
"Kalian gak pulang?"
"Nunggu supir," jawab Ghaisan.
"Jangan liatin saya begitu." Skala mengibaskan tangannya didepan wajah Fina. Skala jadi takut, karena Fina melihatnya dengan berseri-seri. "karna kalian temennya Aurel, tolong bantu ya. Terus kalo ada apa-apa kasih tau saya."
"Eum, Pak, emang Aurel kecelakaan apa sih?" Ghaisan penasaran. Fina pun ikut mengangguk.
"Gapapa kali ya bilang ke mereka," batin Skala.
"Kalian masuk mobil saya dulu, nanti saya ceritain. Sebentar ya." Skala berniat mencari Aurel.
Fina loncat-loncat kegirangan, "Gue bilang apa!! Dia nyuruh kita masuk mobilnya coy!"
Ia menarik-narik tangan Ghaisan, "ayo, San!"
"Yaelah sabar kek." Mereka pun masuk mobil Skala yang mewahnya tidak karuan.
***
"Nabila!" Aurel meneriakinya.
Nabila dan Bintang balik badan.
"Aurel???" Nabila tampak melihat sekelilingnya. "gue kira gosip lo sekolah disini hoaks."
Aurel tersenyum, "Aku baru aja."
"Kamu Bintang, kan? Yang waktu itu jenguk aku di rumah sakit?" Aurel ingin memastikan.
"Iya, lo udah baik-baik aja?"
"Iya. Kalian kapan-kapan mampir ke rumah aku bisa?"
"Emang gapapa?" tanya Nabila.
"Kamu tau??"
"Kita sahabatan dari kelas satu SMA, jadi apapun tentang lo, kita tau," ucap Nabila sambil menepuk pundak Aurel. "gue sama Bintang pulang duluan ya. Udah dijemput supir."
"Hati-hati ya."
Aneh. Alya bilang Bintang bisa membuatnya ceria, tapi ini biasa saja. Justru dia sibuk main HP seakan-akan tidak peduli.
"EH!" Skala mengejutkan Aurel sampai gadis itu terlonjak.
"Abis ngapain sih?" Skala melihat arah pandang Aurel. "ohh, mereka..."
"Mereka aneh."
"Iya makanya mau aku wawancara," gumam Skala.
"Apa?"
"Gapapa. Ayo pulang, udah sore." Skala mengambil tas gendong milik Aurel.
Aurel merebut tasnya, "Aku bisa bawa sendiri... ini gak berat."
Namun Skala mengambilnya lagi dan memakai di punggungnya. "Biar aku aja.. ini berat, banyak buku."
__ADS_1
Aurel tertawa, "Kamu nostalgia jadi anak SMA ya?" Ia berjalan disamping Skala.
Skala ikut tertawa, "Ayo buruannn."
Begitu Aurel menutup pintu mobil, ia terkejut karena Ghaisan dan Fina ada di belakang. "Kalian??"
Skala memasang sabuk pengamannya.
"Kalian kok bisa—"
"Langsung pulang aja ya, keburu sore," putus Skala sebelum Aurel kritis bertanya.
*
Untuk kali ini Ghaisan kagum pada Skala dengan rumah besarnya. Simpel namun mewah dari dalam, padahal luarnya biasa saja.
Kalau kakaknya si Fina jelas tambah tidak bisa diam.
"Fina, mau pakai baju aku dulu?" tawar Aurel sebelum masuk kamar.
"Gak usah..."
"Silahkan duduk." Skala mempersilahkan mereka sebagai tamu. "biar saya siapin makanan sama minuman sambil ngobrol ringan."
"Aku gimana??" Kepala Aurel nongol di pintu kamar.
"Kamu diem aja di kamar, belajar biar inget pelajaran," ujar Skala. Pasalnya ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan mereka tanpa Aurel.
"Mana minumnya, Pak?" Ghaisan sudah haus rupanya.
"Di dalam mejanya. Gih, digeser." Skala menyandarkan punggungnya ke sofa.
Bingung. Itulah yang ada dipikiran si kembar. Dengan polosnya Ghaisan menggeser alas mejanya seperti tempat es krim di toko-toko.
Fina mengerjap melihat banyak makanan ringan yang ada di minimarket ada semua didalam meja. Benar-benar mewah.
"Wah." Ghaisan memandang takjub. Ia mengambil susu kotak rasa pisang dan roti isi keju karena lapar. Sedangkan Fina mengambil kopi dingin dan chiki-chiki.
Mereka menikmati minuman dinginnya.
"Aurel bukan kecelakaan, tapi bunuh diri."
BHUK! UHUK!
Mereka tersedak sampai menepuk dadanya karena merasa air masuk ke paru-paru mereka.
"Bunuh diri?" Ghaisan mengulang kalimat itu.
"Apa? Kenapa?" tanya Fina.
"Dia lompat dari jembatan trus tenggelam di sungai."
"Jadi, Pak Skala, yang nolong Aurel?"
"Tetap jaga rahasia ini ya."
"Imbalannya saya boleh kesini ya, Pak." Jiwa nego Fina keluar lagi.
"Ya.. silahkan."
"Aurel bunuh diri kenapa?" Ghaisan bertanya-tanya.
"Kalian mau bantu saya?"
Mereka saling pandang.
***
__ADS_1