SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Drone Tersembunyi


__ADS_3

Berita mengenai kepulangan Yuan tersebar di seluruh media sosial. Aurel melihat bagaimana senyum pria itu merekah.


"Siapa tuh? Yuan?" tanya Bara yang watadosnya berhenti di depan Aurel.


Aurel menggeser tubuh Bara dan menjawab iya.


"Anak konglomerat gitu ya. Dikit-dikit diliput, udah gitu yang diliput nyengir ke kamera berasa lagi pemotretan."


"Heh, bilang aja iri."


"Bukan iri, cuma heran."


"Dasar tukang komen," ujar Aurel lantas pergi ke kamar.


"Tunggu, tunggu!"


Aurel kesal karena hampir terjungkal ke depan. "Biasa aja nahannya! Gak usah teriak."


Bara tersenyum geli karena melihat adiknya. "Iya, maaf. Kamu gak mau ke rumah Yuan?"


Aurel mengeryit, "Sejarahnya gak ada."


Bara 'ngeh' lalu manggut-manggut, "Iya juga. Ada juga dia yang ke rumah kamu." Memang, tidak menyesal dia punya Aurel yang cerdas.


"Tapi bukan ide buruk juga," ujar Aurel sembari balik badan menuju kamar. Ia duduk di depan laptopnya untuk mengirim pesan pengumuman untuk ke rumah Yuan. Pesan tersebut dituju pada para sahabatnya.


...Malam,...


...Yuan udah kembali, kita harus ke rumah dia kan? Bawa oleh-oleh gak?...


Tidak lama kemudian mereka menjawab pesan Aurel. Akhirnya, mereka setuju untuk pergi ke rumah Yuan besok siang setelah kelas selesai.


[Ringtone SMS]


Ia melirik ponsel di sebelah laptopnya menyala karena ada notifikasi pesan.


Jangan menyerah karena semua belum selesai.


2 hari setelah kasus disidang, Aurel kerap mendapat pesan dari nomor privat yang berbeda. Ia selalu membalas pesan tersebut dengan ramah.


^^^Apanya yang belum selesai?^^^


Nabila, gang 2 Komplek Argo Sentosa, 15 menit dari sekarang. Temui dia.


Tangan Aurel gemetaran. Orang ini selalu memberitahu korban yang akan hilang di Kompleknya. Ditambah lagi Nabila mengirim pesan di grup bahwa ia menuju rumahnya untuk memberi hadiah dari orangtuanya untuk orangtua Aurel.


Saya akan jaga kamu dari jauh, jangan takut.


Aurel menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan. Ia memakai gelang wearable yang diberi Divisi Kriminal, Kepolisian Daerah untuk jaga-jaga jika ada orang yang mencurigakan mengikutinya. Para gadis yang banyak jadi korban, diberikan gelang itu, tidak hanya Aurel. Ia rasa, kotanya cukup canggih.


"Bara, aku mau ke Minimarket sebentar. Stok jajan menipis," alibinya saat berhenti di Ruang Tamu.


Bara mengunyah chikinya, "Iya... Jangan lama-lama, terus waspada. Dipake kan gelangnya?"


Aurel berdehem, "Iya. Aku pamit ya." Orang ini selalu menjaganya, tanpa ia ketahui. Lebih anehnya, dia tidak pernah menunjukkan wajah atau memberitahu inisial nama.


Jaket yang ia gunakan tidak terlalu berguna karena cuaca malam sangat dingin. Kenapa juga Nabila tidak mengantarkan makanan besok saja?


Tunggu disitu, Nabila muncul dari perempatan timur.


Aurel melihat pesan baru darinya dan menunggu Nabila di tempatnya. Was-was jika ada orang yang hendak mencelakainya, Aurel memasang kuda-kuda sambil mengumpulkan kekuatan seadanya.

__ADS_1


Saya liat kamu, jangan banyak tingkah. FOKUS.


Aurel membaca pesan lagi dan langsung diam di tempat. Ia lalu melihat sekitarnya lengang, tidak ada selain dirinya karena ini hampir tengah malam. Ia pun membalas,


^^^Bohong, mana? Gak ada.^^^


Nabila mengerem langkah sampai suara wedges-nya tergesek aspal. "Aurel? Lo kok di luar malem-malem begini?" Dia berlari kecil menghampiri sahabatnya.


Aurel menjawab, "Aku mau beli jajan di Minimarket." Namun matanya tertuju pada orang yang 3 meter di belakang Nabila terkejut dan berlari menghindari mereka. Mungkin dia kira, tidak ada orang selain calon korban.


Nabila menggandeng tangan Aurel dam mereka berjalan ke rumahnya, "Kebetulan gue lewat, udah tutup."


"Tutup?" Baguslah, ia juga tak bawa uang karena dari awal niatnya menemui Nabila, bukan ke Minimarket sungguhan.


"Liat nih gue bawa apa..." Nabila mengangkat rantang makanan kesukaan orangtua Aurel.


"Kamu kalo kesini jangan pas malam lagi ya. Kamu kan tau lagi ada penculikan," ujar Aurel khawatir.


"Gue kesini juga mikir dulu kali. Tapi karena gue jago berantem, jadi modal berani aja."


"Berani juga, kalo takdirnya lain gimana?"


"Iya juga sih.. Tapi gue usahain, jangan sampe gue yang diculik. Gue makannya banyak, jadi mereka bakal bangkrut duluan sebelum meras Bokap," ujarnya lantas tertawa geli.


Aurel tersenyum, "Aku gak mau ada lagi yang hilang. Kira-kira, kenapa dia culik perempuan yang masih muda ya?"


Nabila berdehem panjang, "Mungkin karena cantik. Atau siapa tau buat tumbal pesugihan. Gue sering liat di Novel online gitu."


Aurel geleng-geleng, "Zaman sekarang masih pesugihan? Ada-ada aja kamu." Karena sudah sampai rumah, Aurel membuka pintu dan mengajak Nabila masuk bertemu Bara yang masih terjaga.


Bara terkejut karena ada Nabila, "Kamu ngapain kesini?"


Bara menerima 5 rantang yang tersusun dari Nabila. Ia membiarkan Nabila menjatuhkan tubuh ke sofa sedangkan ia pergi ke ruang makan untuk menaruh di tempat penyimpanan lauk supaya tetap hangat.


Aurel duduk di sebelahnya. "Lo masih dapet pesan misterius?"


"Masih," singkatnya membuka layar ponsel lagi.


"Daritadi di jalan lo liat HP terus. Dia ganggu lo?"


Aurel menggeleng, "Gak juga. Cuma emang sering ngontak."


"Gue penasaran siapa orangnya," gumam Nabila.


"Aku gak terlalu."


"Menurut lo, dia seumuran kita gak?"


"Bukan. Bahasanya baku, kayaknya dia udah dewasa."


"Baguslah. Seenggaknya ada dia yang otaknya waras ketimbang Bintang, Ghaisan, Skala."


^^^Tadi belum selesai,^^^


^^^kenapa pulang gitu aja?^^^


Harus gimana?


Emang ada apa?


^^^Kamu harus kejar dia supaya nemuin korban yang lain.^^^

__ADS_1


Kamu tau mereka dimana, kenapa gak kamu yang nyelametin mereka? Aneh.


^^^Aneh???^^^


Iya lah. Kamu tau semuanya, kamu aja yang nyelametin mereka. Kenapa aku harus patuh sama kamu terus!?


Aurel izin ke kamar sebentar untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang aneh ini karena menelepon.


Kamu merasa puas?


Suara apa ini? Buruk sekali, untung suara editan.


"Daripada kamu sembunyi kayak pelakunya. Lebih baik muncul sekarang ke rumah aku. Kamu pasti tau rumah aku, kan?"


Kenapa saya harus patuh juga?


Memang menyebalkan sejak awal. Harusnya pesan dari dia tidak pernah Aurel balas.


"Kamu nyuruh aku, jadi aku juga nyuruh kamu lah."


Jangan biarin Nabila pulang sendirian nanti.


"Kamu perintahin aku lagi," tegur Aurel.


Aurel meremas ponselnya karena sambungan diselesaikan sepihak. Ia keluar dan bertemu Bara, bukan Nabila.


"Dia pulang, katanya udah ngantuk."


Aurel mendesah pelan lalu cepat-cepat menyusul Nabila.


Kamu telat 5 menit. Udah saya bilang, FOKUS.


Ia mendengus sebal mendapat pesan lagi. Hendak belok ke timur di Perempatan gang, Aurel dan ponselnya terjatuh karena menahan langkahnya. Ia terkejut melihat orang yang menguntit Nabila tadi. Ia hendak teriak minta tolong namun lidahnya kaku.


[Point Of View : Pemeran Baru]


"Ck, dari dulu gak pernah tepat sasaran." Ia mendecak kesal dan menaruh remote control drone di samping tempat sampah karena ia sejak tadi berdiri disana untuk mengawasi bocah-bocah. Aurel dan Nabila itu sama bodohnya. Jadi ia tidak bisa mengandalkan salah satu untuk melindungi lainnya.


Tidak ada cara lain selain menolong bocah itu daripada jadi korban selanjutnya. Ia mendaratkan beberapa pukulan ke wajah pelaku lalu tidak lama kemudian Nabila kembali karena mendengar suara bising. Bebannya bertambah sekarang, ditambah ia memakai pakaian serba hitam seperti pelaku, saat pelaku berhasil kabur, kedua bocah itu justru memukuli tubuhnya tanpa ampun.


Ia memiting tangan Aurel dan Nabila sampai mereka memekik kesakitan.


"Jangan pukul saya. Saya gak akan culik tukang makan!"


Mereka saling pandang. Tukang makan?


"Kok dia tau kita tukang makan?" cengo Aurel.


"Lo nguntit gue sama dia selama ini, hah!" pekik Nabila berontak. "Terus kenapa kalo kita tukang makan! Apa urusannya sama lo! Lo mau ngasih kita makan?!"


Ia berdecak lalu membuat keduanya bertubrukan di jalan.


"Urusan saya udah selesai. Lain kali jadi pintar sedikit!" Ia melepas maskernya membuat mereka terkejut.


"Hah?"


Bersambung...


Juli, Damar, udah gue matiin perannya. Shiren untuk sementara gak ada karena dia pindah ke luar negeri buat nerusin perusahaan bokapnya + pemulihan mental. Jadi untuk meramaikan suasana baper, masuk lagi peran cowok tamvan dengan tingkat keromantisan pas"an.


Welcome back,

__ADS_1


__ADS_2