
setelah beberapa menit, akhirnya acara makan malam yang menegangkan itu pun selesai, mey merasa lega karena dapat terbebas dari orang² yang memandangnya dengan tatapan sinis.
entah kenapa mey merasa semua anggota keluarga ini terlihat tidak menyukainya, mereka seperti tidak ingin ia masuk ke dalam keluarga tersebut. kecuali pangeran antonio, hanya dia saja yang tak menampakkan wajah masam ke arah mey. laki² tampan yang memiliki mata biru tua itu terlihat biasa saja dan sesekali mengukir senyuman yang tak di buat². mungkin di keluarga ini, cuma dia saja yang mempunyai sisi hangat.
_______________
kepala pelayan membimbing Alan dan mey berjalan menuju kamar, mereka pun mengikuti langkah kaki pelayan itu di belakang.
mey memandang arah kanan kiri dengan mata yang tampak takjub melihat sekeliling istana. bagaimana tidak, arsitektur di sana sungguh indah, bahkan warna temboknya saja berwarna emas.
cagak penyangga yang kokoh dan besar berbaris di sepanjang sudut istana dengan ukiran lambang kerajaan, serta ada banyak lukisan yang terpampang di setiap dinding hingga menambah kesan keindahan.
lorong demi lorong telah mereka lewati, bahkan sudah dua tangga telah mereka naiki. dan akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pintu, kepala pelayan itu mengatakan bahwa itu adalah kamar Alan dan mey, serta barang² mereka pun sudah di bawa masuk kedalam.
Alan dan Mey memasuki pintu tersebut, nampak sebuah kamar dengan dekorasi yang indah. segar mata memandang saat melihat warna biru dari dalam kamar tersebut, mey melangkah mendekati ranjang. di depan ranjang ternyata ada sebuah televisi besar yang tergantung di atas tembok.
di dekat sofa ada sebuah karpet, mey melepas alas kaki yang ia kenakan untuk merasakan karpet yang berbulu lembut tersebut, seakan² bulu karpet itu dapat memanjakan kakinya.
"suamiku, seharusnya kau membeli karpet seperti ini di rumah" ucap mey yang asal bicara, sedangkan dia masih sibuk menunduk dan menggesek²kan kakinya di benda tersebut.
"kau suka? " tanya Alan dengan menarik sudut bibirnya.
mey langsung menoleh dan melihat ke arah Alan yang sedang duduk di sisi ranjang, ia pun menghampirinya dan berbaring di sebelah suaminya "sedikit, aku hanya memberi pendapat saja" jawabnya sembari memejamkan mata.
"aku bisa memberikanmu yang lebih baik dari itu" Alan melirik ke arah mey dengan tersenyum, seperti ada maksud terselubung di dalamnya. sontak mey langsung membuka pejaman matanya kembali, "apa? " sebuah pertanyaan singkat itu terucap dari bibir mungilnya sembari menampakkan wajah penasaran.
sebelum menjawab pertanyaan mey, Alan membaringkan tubuhnya terlebih dahulu di samping istrinya "aku akan memberikan sesuatu yang membuatmu senang di sini" ujarnya seraya menunjuk ke arah perut mey.
"haa..? di sini?? " sembari menunjuk perutnya sendiri dengan jari telunjuk, mey mengulang kata² yang Alan lontarkan barusan. seketika seperti ada sebuah tanda tanya besar di otaknya, ia tidak mengerti sedikitpun tentang perkataan Alan tadi.
__ADS_1
"apa? makanan? " lanjutnya.
senyuman aneh itu mulai terukir lagi di bibir Alan, entah kenapa setelah melihat senyuman tersebut membuat mey jadi mengerti dengan maksud perkataan suaminya tadi.
jangan bilang kalau dia ingin menabur benih.
Alan melingkarkan tangannya di pinggang mey, mendekapnya dalam pelukannya.
"ak.. aku ingin mandi" mey dengan suara gugup.
"mandi terlalu malam itu tidak baik bagi tulang, lebih baik kau tidur, mandi besok saja".
Alan bangun, ia mulai mengangkat mey lalu meletakkannya di atas ranjang dan menyelimuti nya dengan selimut.
kemudian dia juga ikut berbaring di sebelah istrinya. jam telah menunjukkan pukul 11 malam. "good night" ucap mey seraya mencium singkat bibir Alan, setelah itu tak ada percakapan yang berlanjut, mungkin itu adalah faktor kelelahan karena habis menempuh perjalanan jauh.
di bawah selimut yang hangat itu, mereka mulai terlelap dalam tidurnya.
_______________
lagi² mey harus ikut berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, di sana ia melihat wajah² baru yang belum ia lihat sebelumnya. yaitu adik ipar ratu yang bernama frederick dan ponakannya yang masih berumur 6 tahun bernama lily.
tidak ada yang berubah, sama seperti kemarin, semua hanya diam dan fokus pada makanan mereka masing² hingga membuat suasana menjadi hening.
mulai sekarang mey berusaha menyesuaikan diri di tempat itu, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menerimanya dengan lapang dada. siapa suruh dia menikahi seseorang dari keluarga bangsawan???
setelah sarapan bersama itu selesai, semua langsung pergi meninggalkan meja makan. hanya ada tiga orang yang masih terduduk di atas kursi tersebut, yaitu Alan, mey dan Antonio.
"lama tidak bertemu dengan mu, ternyata kau sudah besar dan pandai memilih istri sendiri" kata Antonio kepada Alan.
__ADS_1
Alan menarik sudut bibirnya, belum juga ia menjawab perkataan kakaknya, Antonio sudah bicara lagi. sekarang dia bukan bicara kepada Alan, melainkan kepada mey.
"Hai adik ipar, senang bertemu denganmu. kalau boleh tau, siapa namamu" terdapat senyuman kecil di bibirnya, dapat terlihat bahwa dia sebenarnya adalah seorang yang ramah.
"saya juga merasa senang bertemu dengan kakak ipar, nama saya adalah mey mey aisya. panggil saja, mey" karena Antonio terlihat baik, mey pun tak takut menjawab perkataan Antonio barusan. dia malah senang karena akhirnya ada salah seorang di keluarga itu yang mengajaknya bicara.
"apa aku boleh meminjam suamimu untuk berbincang sebentar? tenang saja, aku pasti akan mengembalikan suamimu lagi" ucap Antonio meminta izin dengan sedikit memberikan guyonan.
"tentu saja" jawab mey dengan senang hati.
Alan mengosak ngasik rambut istrinya sebentar, lalu berjalan pergi bersama dengan Antonio dan meninggalkan mey sendirian di sana.
karena tidak tau harus berbuat apa, mey pun bermaksud untuk berjalan² menyusuri istana itu.
mey bingung mau kemana, dia tak tau arah maupun jalan di istana itu. mau bertanya pada salah satu pelayan yang ada di sana pun ia merasa tidak enak, takut mengganggu mereka yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing².
akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti langkah kakinya sendiri yang tak tau akan membawanya ke mana, dia terus berjalan hingga ia terhenti karena sebuah bola kecil yang menyentuh kakinya, dan dia pun mengambil bola tersebut.
seorang anak kecil berlari menghampiri mey, dan meminta mey untuk mengembalikan bolanya "kak kembalikan bola ku" ucapnya dengan suara agak celat, ia menengadahkan tangannya ke arah mey untuk meminta bolanya kembali.
dengan tersenyum mey membungkuk "kalau kau memberi tau siapa namamu, kakak akan memberikan bola ini".
" lily" jawab anak kecil itu. lalu mey pun mengembalikan bola tersebut kepada si pemiliknya.
"Lily..! " seru salah seorang wanita memanggil nama anaknya, Lily yang mendengar suara ibunya pun langsung menghampirinya.
" jangan bicara pada orang tak di kenal, kalau dia orang jahat gimana? lily bisa di apa²in" ujar si ibu menasihati anaknya.
apa wajahku ini terlihat seperti seorang kriminal? enak aja kalo bicara. dasar emak lebay huh..
__ADS_1
batin mey.
"iya ibu" jawab Lily, kemudian sang ibu menarik tangan anaknya agar pergi menjauh dari mey.