
mey melihat berita dari ponselnya tentang presdir dari grup LU yang jatuh pingsan saat menjenguk istrinya yang sedang di kurung di penjara. mey terkejut melihat berita tersebut, ia berniat menjenguk luisa esok hari.
pagi harinya, mey pergi ke rumah sakit. saat ia masuk ke dalam ruang rawat, ia tertegun melihat sara yang sedang duduk tertidur di sisi luisa sembari memegangi tangannya.
sara? dia sudah bebas? apakah kemarin Alan menuruti permintaanku?
kemudian ia menutup pintu dan berjalan maju mendekat ke arah luisa dan sara.
sara yang mendengar suara langkah kaki pun terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke arah mey yang sedang berdiri di sampingnya.
"apa kabar, gimana keadaan luisa" sapa mey.
sara berdiri dari duduknya dan menjawab "dari tadi malam dia belum sadarkan diri".
mereka berdua sama² menoleh ke arah luisa dengan tatapan sedih, tiba² jari luisa nampak bergerak pelan², mereka berdua pun langsung terkejut senang melihat kejadian tersebut.
sara meneteskan air mata bahagia, ia meraih tangan suaminya dan menciumnya.
luisa perlahan mulai membuka matanya, pandangan matanya samar² mulai jelas,
ia melihat sara sembari tersenyum.
__ADS_1
"jangan menangis" ucap luisa sembari mengelus² rambut sara.
"aku bahagia kau sudah sadar, maafkan aku, aku yang telah membuatmu seperti ini" air matanya terus berlinang membasahi pipi.
"tidak apa²,ku harap kau akan selalu bahagia" luisa berusaha menggerakkan tangannya lagi untuk mengusap air mata sara dengan gemetar.
"bolehkah aku bicara berdua saja dengan mey? " suaranya agak serak, meminta sara untuk pergi sebentar.
sara pun menganggukkan kepalanya, ia segera keluar dari ruangan itu.
saat sara menutup pintu, kedua orang tua luisa dan paman an bersama² ingin menjenguk luisa, tapi di hentikan oleh sara karena luisa berpesan ingin bicara berdua dengan mey, mereka pun menunggu obrolan itu selesai sembari duduk di luar.
"maaf karena beberapa tahun ini telah membuatmu sedih, aku hanya mau berterima kasih karena kau sudah mau menjadi sahabatku dan mengajariku berjalan" perkataannya membuat mey tertegun.
" iya" jawab luisa dengan senyuman kecil di bibirnya.
"apa aku boleh, memegang tanganmu untuk terakhir kalinya" mey mengangguk.
luisa pun meraih tangan mey dan menggenggamnya.
"aku sungguh sahabat yang buruk, aku telah melupakanmu dan mengingkari janji kita,bisakah kau memaafkan kesalahanku? " perlahan air mata luisa mulai menetes.
__ADS_1
" tidak, kau sahabat yang baik. aku tau kau tidak bermaksud untuk melupakanku, aku tidak menyalahkan mu untuk semua yang telah terjadi, mungkin ini semua hanyalah takdir, kita hanya berjalan mengikuti alur".
luisa tersenyum dengan tangannya yang masih menggenggam tangan mey.
untuk terakhir kali saat aku menghembuskan nafas terakhir, aku ingin selalu menggenggam tanganmu, sama seperti saat kita masih kecil, kau menggenggam tanganku erat dan membantuku untuk berjalan. di kehidupanku ini,aku menyesal karena telah melepas genggaman mu dan berjalan sendiri.
aku berterimakasih pada Tuhan karena telah mempertemukan ku padamu, aku bahagia telah mempunyai kesempatan menjadi bagian dari hidupmu walau hanya sebagai sahabat.walau pada akhirnya, kita harus berpisah untuk selamanya.
mata luisa, sudah mulai terpejam.
"tuttt... tut... tuuttt.. " bunyi monitor rumah sakit dengan gambar garis lurus.
mey terkejut, dia pun berteriak memanggil dokter dengan panik.
para dokter dan keluarga luisa pun masuk kedalam ruang rawat tersebut, mereka ikut panik, namun pada akhirnya dokter mengatakan pasien telah tiada.semuanya menangis penuh haru, ruang kamar itu di penuhi air mata kesedihan.
bagai badai menerpaku, seakan hawa gelap menyelimuti tubuhku, semua orang yang ku sayangi dalam hidupku satu persatu sirna dan pergi meninggalkanku sendirian, seakan aku di kutuk seseorang agar aku tak pernah bahagia.
hatiku perih, aku sempat berfikir apakah aku pembawa sial?.
air mataku mulai menetes melihat luisa yang terbujur tidak bernyawa yang sudah di tutupi kain putih, aku melepas kaca mataku untuk mengusap air mata yang terus mengalir di pipiku.
__ADS_1
awan pun berubah gelap kemudian turun hujan lebat,seakan² mewakili perasaan hatiku. mungkinkah aku tak seharusnya ada di kehidupan ini? apakah hidupku ini adalah sebuah kesalahan? apa mungkin aku di takdir kan untuk tidak menyayangi seseorang?
perasaanku hampa, aku tak mengerti kenapa kesedihan selalu mengikuti ku. aku seperti masuk kedalam alur gelap yang di takdir kan untuk hidup sendirian tanpa cinta dan kasih sayang.