Si Culun Menikahi Ceo Tampan

Si Culun Menikahi Ceo Tampan
Bab 119


__ADS_3

*


aku dan ibu mertua masih berada di panti, sekarang kami sedang bermain dengan anak² panti tersebut. sungguh menyenangkan, tidak ku sangka aku akan cepat akrab dengan mereka.


kira² ada sekitar 50 anak kecil dan 10 diantaranya adalah anak² yang akan memasuki fase remaja. aku berdongeng tentang cerita yang ku ketahui, seperti dugaanku, mereka semua sangat antusias dan duduk rapi mendengarkan ku bercerita.


ku tatap mereka satu persatu, nampak senyuman cerah dari wajah mereka yang membuat hatiku tenang. sama seperti mereka, aku juga merasa sangat senang. walaupun aku masih termasuk dalam golongan remaja, entah kenapa aku merasa bahwa aku sudah mempunyai naluri keibuan.


saat aku sedang bercanda gurau dengan anak² itu, aku menoleh ke arah ibu mertua yang sedang duduk di kursi sendirian seraya memandangi kami. entah karena mataku yang salah lihat atau pandanganku yang kabur, aku seperti melihat senyuman di bibirnya yang mengarah padaku. karena tak begitu jelas sebab jarak kami yang lumayan jauh, aku pun menganggapnya sebagai halusinasi. ya bagaimana tidak, mustahil mertuaku yang selalu bersikap acuh padaku tiba² berubah menjadi hangat seperti itu.


aku meninggalkan anak² sebentar agar mereka bisa bermain lebih leluasa, ku berjalan mendekati ibu ratu dan duduk di sampingnya, kami sama² menatap ke arah depan, melihat para anak kecil itu yang sedang bermain dengan perasaan gembira.


tiba² aku mendengar suara ibu mertua yang sedang bicara padaku, aku menoleh, menatapnya dengan heran, mulutnya terus berbicara tapi pandangan matanya tertuju ke arah depan.


aku mendengarkannya, ternyata dia sedang bicara tentang perjalanan hidupnya sebelum ia menjadi ratu. tak seperti yang ku bayangkan, ternyata kisah hidupnya tak jauh berbeda sepertiku.


"dulu aku hanya anak haram, kelahiran ku tidak di harapkan oleh siapapun. saat usiaku 7 tahun, aku di bawa ke istana ayahku dan di besarkan di sana karena ibu yang selalu menyia²kan ku telah tiada. aku tumbuh di istana tanpa cinta dan belas kasih, aku mulai belajar dan belajar untuk menjadi yang pertama agar di akui oleh ayahku, tapi hasilnya nihil, dia tetap acuh padaku. dan pada suatu hari, kakak tiri perempuanku yang sangat di sayang oleh Ayah meninggal karena terjatuh di kolam" setelah berbicara sampai situ tiba² ibu mertuaku terdiam, dia seperti sedang menyembunyikan banyak hal, tapi entah apa yang sedang dia tutup²i, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.


"apa setelah itu ibu mendapatkan perhatian dari beliau? " aku bertanya karena penasaran, aku kurang puas jika harus mendengarkan cerita hanya setengahnya saja.

__ADS_1


dan ibu pun melanjutkannya "aku terus berusaha untuk meningkatkan nilai akademik ku, dan lambat laun, ayah mulai menoleh padaku. dan pada akhirnya, saat aku berhasil menjadi ratu, dia baru mengakui ku sebagai anak".


entah kenapa ibu mertuaku menceritakan itu semua padaku, aku yakin dia sedang mencoba menyampaikan suatu hal yang tidak aku pahami. aku mencoba menelaah setiap kata²nya, tapi saat aku mencoba memikirkannya lebih dalam kepalaku malah terasa sakit. sungguh terkutuk, kenapa aku hanya bisa memahami kata² dari suamiku sedangkan kata² dari ibu mertuaku tidak.


tidak terasa hari sudah semakin sore, aku dan ibu mertuaku pun pulang. anak² panti asuhan itu beserta pengasuh mereka mengantar kepergian kami hingga kami memasuki mobil.


mereka semua melambaikan tangan di saat mobil yang ku kendarai sudah mulai berjalan, aku yang melihat itu pun ikut membalas lambaian tangan mereka semua. dalam hati aku berharap bahwa semoga saja aku dapat bertemu dengan anak² panti itu kembali.


*


____________


terlihat Alan berdiri kaki di sana, sedangkan mey dan ratu Elizza berjalan mendekat. Alan langsung membungkukkan badan memberi salam kepada ibunya saat ibunya itu sudah berdiri di hadapannya, sama halnya dengan bay, ia pun juga ikut membungkuk.


setelah memberi salam, Alan pun bertanya "kalian habis darimana? ".


" aku dan ibu habis dari panti, di sana menyenangkan, pankapan aku akan mengajakmu ke sana, kau pasti akan sangat senang jika bertemu dengan mereka" sahut mey dengan wajah yang sumringah. jika di artikan dengan segi yang berbeda, sebenarnya ia sedang berkata 'aku sangat senang pergi dengan ibumu' begitulah makna yang sesungguhnya.


"benarkah? " tanya Alan sembari mengangkat satu alisnya ke atas. lalu mey menjawabnya dengan anggukan meyakinkan.

__ADS_1


"baiklah, lain kali aku akan menagih janjimu untuk membawaku ke sana" Alan membalas senyuman itu, lalu menggandeng tangan istrinya dan berkata "terimakasih telah membawa istri saya untuk jalan², jika tidak ada hal lain lagi, saya pamit undur diri" pungkasnya, kemudian ia menarik lengan mey dan membawanya ke kamar.


tanpa mereka sadari, ratu Elizza tengah memperhatikan mereka yang sedang berjalan menjauhinya, dan bahkan ratu Elizza sendiri pun tidak sadar akan senyuman kecil di bibirnya saat melihat anak dan menantunya itu sedang bergandengan tangan. entah apa yang ada dalam benaknya sekarang, cukup hanya dia yang tau.


setelah sampai di dalam kamar, mey langsung ambruk di atas kasur.tubuhnya sangat lelah, entah kenapa setelah menaiki tangga tadi energi dalam tubuhnya seperti terkuras habis.


"heh... kau itu kenapa? " tanya Alan yang sedang duduk di atas sofa sembari melonggarkan dasi dan kemeja yang masih ia kenakan.


"aku lelah, aku ingin tidur, tolong jangan mengajakku bicara sekarang" jawab mey dengan suara lesu. tidak seperti biasanya, tiba² tubuhnya terasa sangat lemas. baru pertama kalinya mey merasakan hal ini, padahal sebelumnya saat ia melakukan aktifitas yang lebih banyak, tubuhnya baik² saja dan tak serapuh sekarang.


"apa barusan ibuku menyuruhmu untuk menenteng batu hingga kau terlihat seperti orang yang hampir sekarat?! " Alan terus mengoceh, tapi mey tidak menyahut satu pun dari ucapannya.


lalu Alan melangkah mendekati mey, dan ternyata istrinya itu sudah tertidur pulas seperti bayi. karena melihat mey yang sudah nyenyak akan tidurnya membuat Alan mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang masalah pesan di HPnya. kemudian ia membenarkan posisi tidur mey dan menutup tubuh istrinya itu menggunakan selimut.


Alan menatap mey sebentar seraya mengelus² rambut halus mey dengan wajah tersenyum, setelah itu dia melanjutkannya dengan mencium kening istrinya tersebut.


______________


keesokan harinya mey merasa tidak enak badan, bahkan saat makan bersama dengan keluarga pun ia sampai muntah².

__ADS_1


__ADS_2