Si Culun Menikahi Ceo Tampan

Si Culun Menikahi Ceo Tampan
pergi dari rumah


__ADS_3

mey berjalan di tepi danau,kemudian dia duduk di kursi sembari memandangi danau tersebut, sama seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.tapi bedanya, ia tau apa yang sedang ia rasakan sekarang, dia sedih. matanya mulai mengeluarkan air, tetesan demi tetesan air itu selalu membasahi pipi.


sekarang ia seperti sendiri, tidak ada teman yang bisa ia ajak curhat.


sela dan moly adalah temannya, tapi ia tidak terbiasa menceritakan kesedihannya pada orang lain, semua kesedihannya selalu ia pendam sendiri dalam hati, ntah mau sampai kapan, tapi dia tidak mempercayai siapapun.


memang sepertinya kebahagiaan selalu tidak berpihak padanya, ia melihat danau itu dengan lekat dan sempat terlintas di otaknya ingin bunuh diri.


apa jika aku mati kesedihan ini akan berakhir, apa aku akan bertemu ayah dan ibu? hiks... hiks... aku rindu kalian, kenapa kalian pergi tidak membawaku, aku lelah. ya Tuhan... kenapa cobaanmu terlalu berat? aku lelah, aku sudah lelah dengan kehidupanku.


dia terus menangis, matanya tak berpaling dari aliran air yang hening itu.


mey mulai beranjak dari tempat duduknya dan melangkah maju ke arah danau, pikirannya kosong, tapi kakinya seperti di dorong untuk terus maju.


apakah ini akhir dari semuanya?? apakah kesabaran hidupnya akan berakhir sampai di sini saja?


tapi tidak, ada seseorang yang meraih tangannya.


mey menoleh ke arah orang tersebut, ternyata dia adalah zero.


seperti biasa, zero selalu kabur saat ia tidak mau menghadiri konser. tidak di sangka pelariannya itu membuatnya bertemu dengan mey yang dalam keadaan terpuruk.


"kenapa kau bisa ada di sini? apa kau berniat untuk bunuh diri? jika kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, jangan malah bertindak konyol" ujar zero, ia melepas kaca mata milik mey dan mengusap air matanya dengan tangannya.


mey malah tambah ingin menangis setelah mendengar perkataan zero, ntah kenapa dalam benaknya tadi bisa terfikir hal sekonyol itu.


akhirnya zero pun memeluk mey,dan mey pun menangis di pundak zero.

__ADS_1


tanpa mereka sadari, seorang paparazi sedang memotret mereka di balik pohon. tanpa butuh waktu lama, foto itu pun tersebar cepat di media sosial.


Alan yang tidak sengaja melihat foto istrinya dengan pria lain berpelukan merasa sangat marah, seperti ada api yang membara di hatinya.


di sisi lain mey terus menangis di pundak zero, sekarang ia merasa mempunyai seseorang yang bisa ia buat sandaran.


"sudah jangan menangis lagi, aku tau bagaimana perasaanmu sekarang" zero mengetahui keadaan keluarga mey dari berita.


"aku mencintaimu, aku ingin menjagamu" perkataan zero membuat mey tercengang, mey pun melepas pelukan tersebut.


"kau bilang apa tadi? " mey melihat zero dengan pandangan tidak mengerti.


"aku mencintaimu, aku tidak ingin kau terluka" jawabnya.


"jangan bercanda, itu tidak lucu".


"jangan omong kosong" mey mengernyitkan alisnya "aku sudah punya suami" lanjutnya.


"apa suamimu adalah si penjual es krim itu? apa kau benar² mencintainya, jika dia juga mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu sedih seperti ini" sembari memegangi kedua pundak mey.


mey menyingkirkan tangan zero yang menyentuh pundaknya "itu bukan urusanmu" kemudian ia pun berlari pergi meninggalkan zero sendirian di tempat tersebut.


"apa kau benar² mencintainya? jika dia juga mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu sedih seperti ini". perkataan zero itu selalu berdengung di telinga mey.


cinta? kami tak saling mencintai saat menikah, pernikahan ini terjadi hanya karena kontrak, aku hanya seorang perempuan penebus hutang.


kebenaran itu selalu membekas di hatinya, mey berfikir mungkin Alan tega melakukan itu semua karena dia menganggap dirinya hanyalah sebuah mainan, seseorang yang bahagia di atas penderitaan orang lain.

__ADS_1


zero menatap mey yang sedang berlari menjauh darinya sembari memegang kaca mata milik mey yang belum sempat ia kembalikan.


sebenarnya perasaannya hancur karena di tolak mentah² dengan cinta pertamanya. jika boleh jujur, sebenarnya zero tak pernah menyukai wanita lain sebelum mey.


mey kembali ke rumah, saat ia masuk kedalam kamar,suasana kamar itu hening dan hanya di terangi lampu tidur saja yang ada di atas meja yang di letakkan di sisi ranjang. ia melihat Alan yang sedang duduk di atas sofa sembari menghisap sebatang rokok, kemudian dia beralih melihat asbak yang sudah terisi penuh dengan potongan rokok tersebut.


seperti ada hawa dingin yang terpancar dari tubuh Alan, mey mencoba menarik nafas perlahan dan melangkah maju ke hadapan suaminya.


"aku ingin kita cerai" itu adalah kata² yang terbesit dari kepalanya sejak tadi, akhirnya mey bisa mengucapkan kalimat itu walau dengan tubuh yang gemetar.


Alan tercengang mendengar perkataan mey barusan, ia membuang potongan rokok yang ia hirup ke dalam asbak, kemudian ia berdiri dan mencengkram mulut mey.


"oh hebat yah, setelah kau menemukan laki² lain kau langsung ingin bercerai dariku? jangan harap".


mey merasa tidak faham dengan apa yang Alan katakan menemukan laki² lain? apa maksudnya.


" kita tidak saling mencintai? kenapa kau selalu menjeratku kedalam hubungan pernikahan ini, bukankah ini tidak ada untungnya bagimu? jika kau melepaskanku, aku akan menyicil hutang ayahku sedikit demi sedikit".


Alan merasa lebih marah setelah mendengar ucapan mey barusan "melepaskan? jadi kau fikir pernikahan ini adalah sebuah tali yang menjerat lehermu? apa selama ini aku terlalu baik padamu, jadi kau bersikap melonjak? baiklah, mulai hari ini dan detik ini, aku akan mengajarkanmu apa arti jeratan yang sesungguhnya" kemudian Alan melepas cengkraman itu dan berjalan keluar dari kamar itu sembari menutup pintu kamar dengan keras hingga membuat mey terkejut.


mey duduk terpaku di lantai seakan² kakinya lumpuh, dia mencoba menambahkan hatinya, ia tidak merespon perkataan Alan barusan dan menganggapnya sebagai angin lalu.


tanpa selang waktu lama, mey berjalan keluar dari kamar dengan membawa koper yang hanya berisi buku² dan foto keluarganya yang ia bawa saat ia masuk ke rumah tersebut, ia tidak ingin membawa pakaian yang di belikan oleh Alan.


mey berjalan lurus tanpa melihat kanan kiri menuju pintu utama, sedangkan Alan hanya melihatnya saja sembari duduk di ruang tamu dengan tatapan dingin.


sebenarnya bibik Li sudah mencoba menasehati mey agar tidak pergi dari rumah tersebut, tapi mey sudah kokoh dengan keputusannya, tidak ada orang yang bisa menghalanginya untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2