
Di dalam kondisi yang seperti itu, mey hanya bisa menangis dan menundukkan wajahnya karna takut dengan kegelapan.
Tiba² ada mobil mewah berwarna hitam berhenti di dekat mey, ada seorang pria berbadan tinggi keluar dari dalam mobil tersebut menghampiri ke arah mey yang sedang duduk tersipu dengan air matanya yang terus mengalir, pria tersebut menggendong mey dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
Saat di dalam mobil, pria itu mengusap air mata mey dengan tangannya, mey yang awalnya menunduk akhirnya melihat kearah pria tersebut, ia tidak percaya bahwa orang yang menyelamatkannya adalah orang yang dibencinya selama ini dan selalu ia kutuki setiap hari, pria itu tidak lain adalah alan suaminya sendiri.
Kenapa orang ini bisa ada disini, kenapa orang ini membantuku.
Itulah pertanyaan yang terlintas dari benaknya.
Mey tidak henti²nya memandangi wajah suaminya tersebut.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau menangis di sisi jalan seperti itu".
Sembari menatap ke arah mey dengan pandangan agak kesal.
Mey hanya terdiam, dan kembali menundukkan wajahnya, ia tidak tau harus menjawab apa, rasa takutnya tadi membuat dia tidak bisa berkata² lagi.
Alan membantu mey memakaikan sabuk pengamannya, kemudian ia menyetir mobilnya dengan laju yang cukup cepat, sehingga beberapa menit kemudian merekapun sudah sampai di tempat tujuan, gerbang rumah alan terbuka lebar, mobil alan masuk ke kediaman rumahnya.
Alan keluar dari dalam mobilnya dan kemudian membukakan pintu untuk mey, ia menggendong mey masuk ke dalam rumahnya, saat alan mengangkat tubuh mey, mey memandangi wajah alan dengan lekat, ia merangkul leher alan dengan kedua tangannya hingga membuatnya tersipu malu dan membuat pipinya merah padam.
Alan menggendong mey masuk ke dalam rumahnya, membuat semua pegawai rumah yang melihat kejadian itu pun tertegun iri karna itu adalah pertama kalinya mereka melihat tuannya menggendong seorang perempuan masuk kedalam rumah.
Alan membawa mey kedalam kamar, kemudian bibik Li membawakan kotak P3K untuk mey, setelah memberikan kotak obat itu kepada alan, bibik Li pun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Alan menududukkan mey ke atas sofa, ia berjongkok membantu membalutkan obat ke kaki mey yang berdarah karna tersandung batu di jalan tadi.
Mey merasa terharu dengan sikap alan padanya.
__ADS_1
Ternyata dia punya hati nurani, aku sudah salah mengatainya iblis.
Hati mey sudah mulai luluh karna perilaku alan padanya.
"Jangan senang dulu, aku melakukan ini karna aku tidak mau kakimu sakit semakin parah dan memakai uangku untuk mengobati lukamu".
Kata alan sembari mengobati kaki mey.
Kutelan kembali semua kata²ku tadi, dia memang benar² iblis yang tidak punya hati nurani.
Hati mey menjadi kaku lagi seperti biasanya.
"Apa yang kau lakukan tadi, kenapa kau bisa jatuh hingga kakimu berdarah seperti ini, kau sudah memakai kacamata sebesar itu, apa kau masih tidak bisa melihat dengan jelas, hingga batu besar saja masih bisa kau tabrak".
Alan bicara dengan perasaan kesa, tapi mey hanya menunduk diam.
"Kenapa kau tidak bicara apa kau bisu".
Suara mey lirih mengatakan maaf.
"Bosan aku mendengar kata maafmu, apa kau tidak bisa mengatakan sesuatu selain maaf".
Suara alan marah².
Mey kembali menundukkan kepalanya dan membuat alan merasa kesal.
Alan pun keluar dari kamar tersebut dengan membanting pintu.
"Hah....menyuruhku mengatakan kata² lain selain kata maaf katanya? apa dia sudah pikun, dia sendiri yang membuat perjanjian bahwa aku tidak punya hak untuk bicara padanya selain mengatakan maaf".
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, bibik Li membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mey.
"Selamat malam nona".
Sembari tersenyum bibik Li melangkahkan kakinya mendekat kearah mey.
Ia membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Nona, tuan alan meminta saya untuk memberikan makanan ini kepada nona mey".
Masih dalam keadaan berdiri dan membawa nampan.
"Iya bibik Li terima kasih, taruh saja di meja, aku akan memakannya nanti".
Bibik Li pun menaruh makanan itu di atas meja, tempat dimana mey menyuruhnya untuk meletakkan.
"Nona, apa anda baik² saja".
Tanya bibik Li khawatir.
"Iya, tidak apa² bibik Li, aku baik² saja".
Mey tersenyum.
"Apa nona tau, saat nona pergi dan belum kembali tadi, tuan muda sangat cemas, ia mengkhawatirkan nona, tuan muda takut terjadi apa² pada nona, dengan terburu² tuan muda langsung pergi mencari sendiri keberadaan nona mey".
Kata bibik Li memberi tau bahwa suaminya tadi benar² mengkhawatirkannya saat ia tidak ada dirumah.
Hah...yang benar saja, apa tidak salah dia mengkhawatirkanku, kau salah bibik Li, dia hanya tidak mau aku bebas dengan mudah.
__ADS_1
Batin mey tidak percaya.
BERSAMBUNG...