
setelah sepulang dari perjamuan itu, mey dan ratu Elliza berseteru di sebuah ruang keluarga, hanya mereka berdua saja, tidak ada siapapun lagi.
"mey mey aisya, gadis berusia 18 tahun, anak yatim piatu yang di nikahi putraku sebagai alat penebus hutang. apa perkataan ku itu benar? ".
mey tercengang, entah sudah berapa kali dia kaget di hari ini.
tak di sangka bahwa mertuanya akan mencari tau tentang dirinya, rasanya dia sangat hina saat orang lain mengatakan bahwa dia hanya istri penebus hutang, seakan² ia tak punya harga diri. tapi mau marah bagaimana? itu memang benar, kata² itu tak bisa di janggal.
"iya benar" jawab mey.
seketika ratu Elizza menampakkan tersenyum menyeringai "seseorang sepertimu tak pantas bersanding dengan anakku apalagi untuk masuk ke keluarga ini. jangan bermimpi upik abu sepertimu akan berubah menjadi cinderella setelah menikah dengan pangeran. itik akan tetap jadi itik selamanya dan tak akan pernah berubah jadi angsa".
"saya tak pernah berharap berubah menjadi cinderella, dan saya juga tak berharap menikah dengan seorang pangeran. saya sadar bahwa saya tak dapat di bandingkan dengan keluarga anda walau hanya sepucuk kuku. tapi menurut saya, pantas atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari materi, tapi melalui hati".
ratu Elizza semakin naik pitam di buatnya, dia mulai bicara dengan nada tinggi "aku ingin anakku bersanding dengan seorang yang sederajat, berkasta dan bermartabat serta berpendidikan tinggi. apa menurutmu kau itu pantas bersanding dengan anakku?! kau saja tak punya keluarga, pendidikan juga rendah, apa yang bisa di banggakan?. kami keturunan darah biru, seorang keluarga bangsawan. sedangkan kau? anak yatim piatu sebatang kara tanpa status sosial, sangat² tidak cocok. keluargamu saja meninggalkanmu, suatu saat jika anakku bosan dia pasti juga akan meninggalkanmu sendirian".
__ADS_1
"pisah lah dengan anakku, akan ku memberikan sejumlah uang yang kau minta" lanjutnya.
hati mey tergores sakit saat mertuanya mengatakan semua itu, seolah² dia mengatakan bahwa orang yang tak punya keluarga tidak pantas untuk bahagia.
tapi mey berusaha tegar dan tidak memperlihatkan kesedihannya "maaf, tapi saya tidak tertarik dengan uang. saya tidak akan berpisah kecuali anak anda yang meminta. permisi" mey langsung pergi menjauh dari ruangan itu dan menuju ke kamarnya.
_________________
mey mengunci dirinya di dalam kamar mandi, dia menumpahkan genangan air matanya yang telah ia simpan sejak tadi, kata² mertuanya barusan seakan² bergema dalam telinganya terus menerus tanpa henti. walaupun dia menutup kedua telinganya dengan tangan ,tapi suara itu terus lolos dan berhasil masuk kedalam telinganya entah dari mana.
mey sudah berusaha menyeka air mata itu tapi tetap saja butiran embun tersebut tak henti²nya membasahi pipi.
tiba² ada ketukan pintu dari luar kamar mandi "hey... kau di dalam? " itu adalah suara Alan yang berusaha membuka pintu kamar mandi tersebut, sudah beberapa kali ia mencoba menarik gagang pintu itu tapi tetap saja tidak dapat terbuka, ya jelas saja karena pintu tersebut terkunci dari dalam.
"iya sebentar" sahut mey berteriak, ia langsung cepat² mencuci wajahnya dengan sabun dan berharap bahwa Alan tidak akan menyadari bahwa dia habis menangis.
__ADS_1
mey menghela nafas panjang, berusaha untuk menabahkan hatinya. setelah itu mey membuka kunci pintu tersebut, ia melihat Alan yang masih berdiri di depan pintu "ada apa? " tanya mey heran.
"aku ingin buang air kecil" jawabnya kemudian langsung buru² masuk kedalam kamar mandi.
mey duduk termenung di atas ranjang, dan tidak lama kemudian Alan keluar dari kamar mandi tersebut, lalu ia melangkah mendekati mey dan duduk di sebelahnya.
"kau kenapa? dan matamu itu bengkak kenapa? kau habis nangis" Alan bertanya karena melihat ekspresi istrinya yang tak sedap di pandang.
dengan secepat kilat mey merubah raut wajahnya, ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan senyuman di bibirnya, mey baru menyadari bahwa ternyata berpura² bahagia di saat sedih sangatlah sulit.
"hahaha... bukan apa², itu karena aku tadi menonton drama, dramanya menyedihkan, sampai² aku terbawa suasana" dalihnya.
"seharian ini kau melakukan apa? ".
" ah itu, ibumu tadi mengajakku ke sebuah perjamuan. dia memperkenalkan semua temannya padaku, dan kami saling berbincang², itu saja" mey menutupi segalanya dengan kebohongan, rasanya dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena takut akan ada pertengkaran antara anak dan ibu.
__ADS_1
"wah benarkah, itu bagus. itu artinya ibuku mulai menyukaimu" Alan tersenyum lalu merangkul pundak istrinya, mey pun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
biarkan ku rasakan kesedihan ini sendiri, toh dari dulu aku sudah terbiasa menyimpan kesedihanku sendirian. hatiku kuat, aku takkan rapuh hanya karena kata².