
Sore harinya, setelah pulang bekerja, mey kembali kerumahnya, mey langsung duduk di sofa sembari bersandar dan memejamkan matanya tanpa mandi terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil berbunyi, mey melihat semua para pengurus rumah berhamburan pergi ke luar untuk menyambut kedatangan tuannya. Mey hanya melihat hal tersebut dengan tatapan wajah menghiraukan. Paman Li menghampiri mey yang masih duduk santai di atas sofa, paman Li membungkukkan badannya memberi hormat kepada mey.
"Nona, kenapa anda masih duduk di sini, tuan muda sudah datang".
"Ya aku tau" kata mey dengan ekspresi wajah lesu.
Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju kehalaman rumah untuk menyambut kedatangan suaminya.
Saat di dalam kamar, setelah mey melepas sepatu alan, alan menyuruh mey duduk di sebelahnya di atas sofa.
Mey duduk manis di atas sofa dengan jarak agak jauh dari sebelah alan.
"Kenapa kau duduk jauh seperti itu, aku tidak akan menggigitmu, kemarilah".
Alan menepuk sofa di sisinya, menyuruh mey untuk duduk dekat dengannya, mey pun menuruti perintah alan, ia sekarang sudah duduk dekat di sebelahnya.
Alan mendekati wajahnya, mencium rambut mey.
"Apa kau belum mandi" tanya alan.
"Belum" jawab mey dengan tatapan polosnya.
Ya jelas saja aku belum mandi, aku baru datang dan duduk sebentar kau tiba² sudah pulang, bagaimana aku punya waktu untuk mandi, tapi anehnya, kenapa dia pulang secepat ini, biasanya dia pulang terlambat. Fikirnya dalam benak
"Aku akan membantumu mandi" dengan ekspresi datar.
"Apa?" mey sontak kaget dengan perkataan alan barusan padanya.
Yang benar saja, dia akan membantuku mandi, aku tidak tau jalan pikiran orang gila ini.
"Haha....tidak perlu, tidak perlu repot² tuan, aku tau anda pasti sedang lelah sekarang, aku bisa mandi sendiri nanti" sembari tertawa canggung.
Sore harinya, setelah pulang bekerja, mey kembali kerumahnya, mey langsung duduk di sofa sembari bersandar dan memejamkan matanya tanpa mandi terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil berbunyi, mey melihat semua para pengurus rumah berhamburan pergi ke luar untuk menyambut kedatangan tuannya. Mey hanya melihat hal tersebut dengan tatapan wajah menghiraukan. Paman Li menghampiri mey yang masih duduk santai di atas sofa, paman Li membungkukkan badannya memberi hormat kepada mey.
"Nona, kenapa anda masih duduk di sini, tuan muda sudah datang".
"Ya aku tau" kata mey dengan ekspresi wajah lesu.
Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju kehalaman rumah untuk menyambut kedatangan suaminya.
Saat di dalam kamar, setelah mey melepas sepatu alan, alan menyuruh mey duduk di sebelahnya di atas sofa.
__ADS_1
Mey duduk manis di atas sofa dengan jarak agak jauh dari sebelah alan.
"Kenapa kau duduk jauh seperti itu, aku tidak akan menggigitmu, kemarilah".
Alan menepuk sofa di sisinya menyuruh mey untuk duduk dekat dengannya, mey pun menuruti perintah alan, ia sekarang sudah duduk dekat disebelahnya.
Alan mendekatkan wajahnya mencium rambut mey.
"Apa kau belum mandi" Tanya alan.
"Belum" jawab mey dengan tatapan polosnya.
Ya jelas saja aku belum mandi, aku baru datang dan duduk sebentar kau tiba² sudah pulang, bagaimana aku punya waktu untuk mandi, tapi anehnya kenapa dia pulang secepat ini, biasanya dia pulang terlambat.
Fikirnya dalam benak.
"Aku akan membantumu mandi".
Dengan ekspresi datar.
"Apa" mey sontak kaget dengan perkataan alan barusan padanya.
Yang benar saja, dia akan membantuku mandi, aku tidak tau jalan pikiran orang gila ini.
Sembari tertawa canggung.
Alan menatap mey dengan ekspresi tidak suka, mey yang melihat tatapan alan tersebut merasa takut, ia menundukkan wajahnya kebawah sembari mencengkram roknya dengan jemari tangannya.
Kenapa ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia marah, apa yang salah dengan ucapanku.
Pikir mey.
Kemudian sontak mey menatap wajah alan dengan tatapan matanya, seperti mengetahui kesalahan kata yang diucapkannya tadi.
Apa karna kau memanggilnya tuan dan tidak memanggilnya dengan sebutan suamiku tersayang jadi dia marah padaku.
"Oh maksudku, aku tidak mau membuatmu lelah suamiku".
Mey kembali menundukkan wajahnya.
"Aku yang menginginkannya, kau tidak boleh menolak perkataanku, apa sebenarnya kau ingin mandi bersamaku".
__ADS_1
Kata alan dengan senyum liciknya.
Kata² apa itu yang keluar dari mulutnya, ingin mandi bersamanya? hah...tidak sudi sekali aku melakukannya.
Mey hanya terdiam dan masih menundukkan kepalanya kebawah.
Alan berdiri dari tempat duduknya, ia menggandeng tangan mey dan membawanya ke kamar mandi.
Mey memakai kain tipis untuk menutupi tubuhnya, ia bersandar di dalam bak mandi besar dan merendamkan tubuhnya didalam air yang bening.
Alan membantu mey mencuci rambutnya.
"Apa ini sampomu?"
Sembari memegang botol sampo milik mey.
"Iya" jawab mey singkat.
"Kenapa sampo dan sabunmu terlihat sangat murahan begini".
Dengan tatapan mata jijik melihat barang yang murah.
Apa ini, tujuanmu membantu mandi, kau hanya. Ingin mengolok²ku dan mengatakan aku miskinkan sampai² tidak bisa membeli sabun yang bermerk.
"Maaf suamiku tersayang, aku hanya bisa membeli sabun dan shampo itu dengan uang gajiku".
"Semua yang kau pakai itu murahan, sampai² aku ingin membuangnya".
Kau tidak perlu memamerkan kekayaanmu di depanku dasar sialan.
Kemudian alan membuka botol sampo tersebut dan memakaikannya kerambut mey, alan menggosok rambut mey dengan lembut kemudian membilasnya.
Setelah itu alan berdiri.
"Kau pakai sabunmu sendiri, kau tidak mungkin memintaku untuk melakukannya kan".
"Eh....tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri"
Sembari tersenyum kecut.
Alan keluar dari kamar mandi tersebut.
__ADS_1