
Alan kembali lagi duduk di atas sofa untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai, sedangkan mey masih duduk bersandar di atas ranjang sembari melihat suaminya yang sedang sibuk bekerja.
kepalanya sudah tak terasa pusing lagi, mungkin karena obat yang telah ia minum tadi manjur.
mey merasa bosan, dia ingin pergi ke luar. mey bingung mencari alasan supaya Alan memperbolehkannya pergi, mey bisa menjamin bahwa Alan 100% tidak akan memperbolehkannya pergi karena dia masih sakit.
"suamiku" serunya memanggil Alan.
Alan yang tadinya sibuk melihat laptop beralih menoleh ke arah mey karena suara panggilan tersebut "ada apa? apa kepalamu pusing lagi? apa perlu aku menyuruh dokter untuk datang lagi kemari supaya memeriksa keadaanmu ? ".
" ah tidak, itu terlalu berlebihan. aku hanya ingin pergi ke luar sebentar" ujarnya.
"tidak boleh" jawab Alan dengan suara dingin.
"kenapa? ".
" apanya yang kenapa? kau itu masih sakit, bagaimana jika sakit mu itu tambah parah. jangan bilang kau ingin pergi ke luar karena mau menemui laki² sialan itu, aisss.... siapa namanya? " Alan mencapit rahang hidungnya sendiri dengan tangan, mencoba mengingat² nama laki² yang ada di pasar malam minggu lalu. walaupun begitu dia masih tidak ingat, ya jelas saja, kenapa dia harus repot² mengingat nama seseorang yang menurutnya tidak penting?.
"ah pokoknya orang itu, jangan harap aku akan mengizinkanmu keluar untuk menemuinya! " lanjutnya dengan raut wajah kesal.
apa maksudnya? dia pikir aku ini wanita murahan?.
"aku hanya ingin bertemu dengan anak² panti saja, tidak ada hubungannya sedikit pun dengan zero. mungkin aku sakit karena aku kangen dengan anak² panti itu, dan bisa saja aku akan sembuh jika melihat mereka semua".
Alan berdiri, meletakkan laptopnya kembali di atas sofa, kakinya melangkah ke arah mey sembari berkata "heh... mana ada sakit gara² kangen, jangan mengada² yha, kau kira aku ini bodoh? kau ini sakit karena kehujanan tadi malam. apa gara² kehujanan otakmu jadi idiot karena terisi air? " ujarnya dengan tangan yang menusuk² kening istrinya.
"aduh sakit" ucapnya seraya mengelus² keningnya.
"hina saja terus" lanjut mey dengan bibir yang ia kerucut kan.
Alan duduk di sisi ranjang, kemudian menjawab "aku ini tidak menghina yha, semua yang terlontar dari mulutku ini fakta".
tidak pernah menghina? lalu yang biasa kau ucapkan padaku itu apa? sebuah pujian?... ya ampun, kenapa jika bicara dengan orang ini aku selalu terbawa emosi.
mey mencoba sabar dan tidak meladeni perkataan suaminya yang selalu membuatnya murka. dia kemudian berbaring tengkurap dengan wajah yang ia benamkan di atas bantal.
alan menjadi kesal karena perkataannya seperti di hiraukan oleh mey "heh... aku ini sedang bicara".
" dan aku sedang marah! jangan hiraukan aku, aku tidak ingin sembuh" sahutnya dengan tubuh tak bergerak.
Alan terdiam sejenak, menerjemahkan perkataan mey yang mengarah ke panti asuhan. Alan mengulurkan tangannya dan memegang kening mey, mengecek suhu badan istrinya. ia merasakan dari telapak tangannya bahwa suhu badan mey yang tinggi esok tadi sudah menurun, hingga membuatnya mengukir senyum kecil di bibirnya.
"baiklah kau boleh pergi, tapi aku akan menemanimu" ucap Alan membuat mey senang, mey langsung terduduk dari tidurnya dengan wajah gembira.
__________
Alan dan mey pergi menaiki mobil, mereka berdua duduk di kursi belakang bersebelahan, sedangkan kursi depan di isi oleh pak supir yang menjalankan mobil tersebut.
di tengah perjalanan, mey baru menyadari bahwa jalan yang mereka lewati bertolak belakang dengan arah panti asuhan itu berbeda, karena merasa heran, mey pun bertanya pada Alan "suamiku, bukankah kau berkata padaku akan membawaku ke panti asuhan? kenapa lewat jalan ini? apa si supir ini salah belok? ".
" kau akan mengetahuinya nanti" jawab Alan dengan santai.
mey terdiam, dia berfikir mungkin saja si supir itu lewat jalan pintas supaya cepat sampai, mereka berhenti sebentar di restauran untuk membelikan makanan untuk para anak² panti tersebut.
__ADS_1
hingga mungkin butuh waktu sekitar 20 menitan untuk sampai ke sana. pak supir itu keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Alan terlebih dahulu kemudian baru mey.
saat mey baru keluar dari mobil, matanya di kejutkan oleh bangunan yang berlahan luas dengan sebuah tanda yang bertulisan panti asuhan yang terukir di atas batu.
dia baru pertama kalinya berada di sana, semua anak² panti yang melihat mey, langsung berlarian mengerumuninya.
dengan tersenyum bahagia mey merentangkan tangannya membalas pelukan mereka.
Alan ikut tersenyum melihat mey yang tampak bahagia, baginya kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaannya juga.
Alan dan mey beserta anak² panti itu bersama² masuk kedalam rumah, tampak bahwa tempat berteduh itu layak di huni ketimbang rumah panti yang dulu yang sudah usang.
di ruang makan, semua anak² panti yang lebih dari 50 orang itu saling berbagi makanan dan melahap masakan itu hingga habis tak tersisa.
sedangkan mey dan Alan duduk di ruang tamu seraya berbincang dengan ibu pengurus panti.
"ibu panti, kenapa kau pindah tidak memberi tau ku. bagaimana jika seandainya aku pergi ke rumah panti yang dulu dan melihat kalian semua sudah tidak ada di sana? aku pasti bisa gila karena mencari kalian" ujar mey dengan raut kesal, tapi ibu panti itu membalasnya dengan senyuman "beberapa waktu lalu kan ibu sudah bicara kalau rumah panti yang dulu akan di gusur, kamu sih pergi tanpa mendengar perkataan ibu terlebih dahulu".
mey mengingat² kejadian waktu itu, ia cepat² pergi karena ingin segera menemui Alan, ini lah akibat tidak mendengarkan perkataan orang sampai selesai.
mey menoleh ke arah Alan yang duduk di sampingnya " kenapa kau tidak bicara dan menjelaskan semuanya pada saat itu? kau sengaja yah? ".
" tidak ada seseorang yang ingin membuang kesempatan".
"huh... ini penipuan" ucapnya sembari memanyunkan bibirnya.
"kenapa kau melakukan ini? " mey lanjut bertanya.
"di sana sudah tidak layak di huni,mana ada manusia yang betah tinggal di sana?! di sini lebih baik, di sini letaknya setrategis, anak² panti itu bisa bersekolah dengan jarak yang dekat, tidak perlu jalan kaki hingga puluhan meter" jawabnya.
"aku tau kalau aku itu baik, selain tampan aku juga dermawan" ujar Alan membanggakan dirinya sendiri.
seketika pemikiran baik mey tentang Alan tadi berubah "selain menghinaku dan mengataiku bodoh, hobimu juga meninggikan dirimu sendiri kan? " ujarnya kesal.
"heh... mana ada".
di balik pertengkaran suami istri yang konyol itu, ibu panti hanya tersenyum melihat mereka yang beradu debat menceloteh tanpa henti, membuat ibu panti itu menahan tawa.
mungkin benar kata orang, bahwa setiap pasangan akan memperlihatkan cinta mereka dengan cara yang berbeda.
setelah beberapa jam berada di sana, akhirnya Alan dan mey pamit pergi. dengan tersenyum cerah, semua penghuni panti itu melambaikan tangan mereka untuk mengucapkan selamat jalan.
hati mey terasa tenang setelah melihat senyuman yang terpancar dari wajah² para anak² yang sangat ia sayangi, dia seakan tidak ingin pisah dengan mereka semua.
setelah selesai dari panti, Alan mengajak mey ke rumah peninggalan ayahnya. sungguh mey terkejut melihat rumah itu telah berdiri kokoh lagi seperti semula.
Alan dan mey masuk beriringan menapakkan kakinya ke dalam rumah tersebut, mata mey seakan tak percaya dengan mulut melongo karena takjub sebab dekorasi rumah dari halaman sampai isinya itu persis seperti dulu lagi.
"bagaimana bisa? bukankah rumah ini sudah kau bakar? " tanya mey merasa bingung.
"aku membangunnya kembali" jawabnya dengan suara datar.
"mustahil, jika kau membangunnya lagi tidak mungkin akan sepersis ini" tiba² mey mengingat bahwa sebelum kebakaran itu terjadi, Alan pernah membawanya berkunjung ke rumahnya.
__ADS_1
"atau jangan² saat kau pergi ke rumahku itu, kau sudah punya niat untuk membakar rumah ini, dan kau menyuruh bawahanmu untuk memotret seluruh ruangan ini agar suatu saat nanti setelah kau membakarnya kau bisa merakit nya kembali seperti semula? " ucap mey menebak, tidak di sangka bahwa tebakannya itu benar.
"wah pintarnya" jawab Alan sembari mengosak ngasik rambut istrinya.
"kenapa? ".
" karena yang jahat akan mendapatkan balasannya" jawab Alan dengan mendekatkan wajahnya ke arah mey.
mey langsung berjalan menuju gudang seraya Alan mengikutinya di belakang.
dia membuka pintu gudang itu, semuanya kosong, tidak ada apa² di dalamnya.
"tidak seluruhnya sama, contohnya di gudang ini, seharusnya di sebelah sana ada tumpukan kardus yang menjulang tinggi, dan di sebelah kanan ada tumpukan baju² yang telah usang, dan di sebelah sini ada meja, semua barang² yang ada di ruangan ini di penuhi dengan debu serta atap²nya di penuhi dengan sarang laba²" ucap mey panjang lebar tentang apa saja yang ada di dalam gudang tersebut sebelumnya.
"kenapa aku harus meletakkan sampah ke ruangan ini? apa istimewanya dengan sampah? dan kenapa kau begitu tau tentang isi gudang ini? apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku? ".
ya jelas saja aku tau, gudang ini adalah tempatku tidur sewaktu kecil, tempat saksi di mana aku selalu mengalirkan air mata, di mana ibu tiriku selalu mengunci ku di dalam kegelapan dan hanya di temani oleh tikus dan serangga.
" tidak, tidak ada apa².aku hanya ingin memberi tahukan mu bahwa tidak semua yang ada di rumah ini sama seperti dulu" ucapnya dengan wajah yang ia paksa tersenyum.
"apa aku harus mengisi ruangan ini juga? jika kau mau aku akan mengisinya dengan barang² yang sudah kau sebut tadi" mey mendorong pinggang Alan untuk membawanya pergi dari gudang tersebut "tidak usah" begitu jawabnya.
tempat itu adalah sebuah luka, kenapa harus di samakan lagi seperti dulu? biarkan kenangan pait itu hilang dengan sendirinya, dan biarkan tempat itu menjadi saksi bisu atas kesedihan seorang anak yang menderita.
_____________
Alan dan mey menuju ke kamar, terdapat ranjang yang cukup besar di sana.
"kau mengganti ranjangnya? " tanya mey karena dekorasi kamar itu mirip dengan kamarnya yang sebelumnya, hanya saja ranjangnya yang berubah menjadi besar dan empuk.
"iya, aku tau waktu itu kau kesempitan, jadi aku membelikan yang baru. lagi pula ranjang mu itu terlalu keras, punggangku sampai sakit di buatnya".
Alan dan mey duduk di sisi ranjang, Alan mengambil sekantung obat dari saku celananya.
" sudah waktunya kau meminum obat mu" ucap Alan sembari meraih gelas yang ada di meja sebelah ranjang.
"eh... kau membawa obat dari rumah? " tangan mey mengambil obat itu dari tangan suaminya.
"kau harus meminumnya 3 kali sehari supaya cepat sembuh" jawaban Alan membuat mey tersenyum, tidak di sangka bahwa suaminya itu akan se perhatian ini padanya.
jika di tanya gelas minuman itu dari mana? jawabannya adalah dari seseorang yang di tugaskan oleh Alan untuk menjaga rumah tersebut. saat masih berada di panti tadi, Alan memberikan sebuah pesan untuk pak penjaga agar membereskan dan menyiapkan segalanya termasuk dengan air minum.
setelah mey meminum obat tersebut, Alan menyuruhnya beristirahat "kau pasti lelah, tidurlah dulu, malam ini kita akan bermalam di sini" ucapnya seraya membantu mey berbaring di atas kasur.
"kenapa kau melakuakan ini? ".
" karena aku ingin membuktikan bahwa aku benar² mencintaimu".
sungguh, hati mey seakan meleleh setelah mendengar perkataan semanis itu, membuat matanya berkaca² karena terharu.
"Terima kasih" ucapnya dengan tangan yang merangkul leher Alan dan mencium bibirnya singkat.
Alan hanya membalasnya dengan senyuman dan menyelimuti tubuh mey dengan selimut.
__ADS_1
"cepat sembuh" lalu ia mencium kening istrinya.