Si Culun Menikahi Ceo Tampan

Si Culun Menikahi Ceo Tampan
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Mey mey memakai gaun pernikahan yang sangat indah, sekretaris bay yang memberikan gaun itu kemarin.


Di hari pernikahannya, ia masih saja tidak menggunakan riasan wajah sedikitpun dan masih memakai kacamata besarnya.


Sejenak, pupil matanya itu menatap ke sekeliling ruangan kamarnya tersebut.


"Mungkin saja suatu hari nanti aku akan merindukan suasana rumah ini, rumah dimana aku di besarkan dan di rawat dengan penuh kasih sayng oleh kedua orang tuaku".


Mey tersenyum, tanpa di sadari tetesan embun jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya yang mulus, tapi apalah daya, setelah ini semua akan jadi kenangan, mey mengusap air mata itu dan kemudian segera turun ke bawah.


Saat ia menurunin anak tangga, terlihat bahwa ibu dan saudari tirinya sudah menunggunya di bawah sana, kemudian dua orang itu mengantarkan mey menuju mobil yang sudah menunggunya dari tadi.


Mey memandangi rumah besarnya dari luar, pelan² matanya mulai ia pejamkan, dan batinnya pun berkata.


Waktu begitu cepat berlalu, tak ku sangka aku akan berjalan mengikuti alur dan meninggalkan semuanya, kukira akan ada pelangi setelah hujan, tapi mungkin dalam hidupku hanya akan ada awan hitam setelah hujan, seperti hembusan angin, perjalanan hidup seseorang tidak akan berhenti di sini saja, ntah apa yang akan terjadi, ikuti saja alurnya.


Mey membuka pejaman matanya kembali, kemudian tanpa berkata sepatah katapun pada kedua keluarga laknatnya itu, dia langsung saja masuk ke dalam mobil.


Mobil mewah berwarna hitam tersebut mulai bergerak meninggalkan kediaman rumah mewah itu.


Walaupun roda mobil itu terus berputar, mey tak henti²nya memandang ke arah rumahnya dari dalam kaca mobil, ia mendapati ibu dan saudari tirinya sedang tersenyum bahagia atas kepergiannya sekrang, seolah² mereka senang karena sudah berhasil menyingkirkannya dan membuatnya pergi.


SESAMPAINYA DIKEDIAMAN RUMAH ALAN GERVAIS


Para penjaga membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi.


Bagaikan bayangan hitam mengikuti, perasaan mey seketika menjadi gelisah gundah, mendapati dirinya telah masuk kedalam lubang suram, ia tak tau lagi harus berbuat apa, sekarang dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar dirinya selalu dilindungi.


Setelah masuk kedalam gerbang, ada sebuah bangunan besar seperti kastil mewah di dalamnya, mey tidak menyangka akan melihat rumah seperti itu didalam hidupnya.


Mey turun dari mobil tersebut, ratusan pegawai yang berdiri dari pelayan, koki, tukang kebun, penjaga dan lain sebagainya berbaris berderet rapi hingga kedepan pintu menyambutnya.


"Selamat datang nona muda".


Semuanya mengucapkan kalimat tersebut bersamaan sembari membungkukkan badannya memberi hormat kepada nyonya baru mereka.

__ADS_1


Mey yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu merasa terkejut sekaligus heran, kakinya berjalan melangkah ke dalam rumah yang nampak seperti sebuah kerajaan.


"Ya tuhan....apa ini benar² nyata, rumah ini sepuluh kali lipat lebih besar dari rumahku dulu, ini seperti rumah dongeng yang di ceritakan ibuku saat aku masik kecil, apa ini mimpi?" batin mey.


Mey mey memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian melihat kembali sekeliling rumah tersebut.


Benar ini bukan mimpi.


"Anda kenapa nona" Tanya paman Li.


"Ah.....tidak apa²".


"Perkenalkan nona, saya pengurus rumah disini, panggil saja saya paman Li" sembari membungkuk dan tersenyum kearah mey.


"Oh...iya paman Li" membalas senyuman paman Li tersebut.


"Baiklah nona, mari saya antar ke kamar anda".


Paman Li menunjukkan jalan kepada mey.


Dengan beribu² rasa kesedihan yang tertanam di hatinya, mey mencoba menabahkan dirinya sendiri, berusaha untuk yakin bahwa keputusannya ini tidak akan menyulitkannya di kemudian hari.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Tanpa butuh waktu lama, akhirnya sampailah mereka di sebuah gereja, lalu sang supir membukakan pintu mobil mey keluar dari dalam mobil tersebut.


Tempat itu sepi, tidak ada tamu yang datang satupun, hanya terlihat seorang pria yang berjas hitam dengan tatapan mata mengintimidasi di depan sana.


"Aku sadar diri aku hanya istri kontrak, tidak mungkin dia repot² membuang² uangnya hanya untuk pernikahan konyol seperti ini, bahkan keluarganya saja tidak ada yang datang" batin mey.


Dengan langkah berat, mey berjalan mendekat kearah pria dingin yang sudah berdiri diatas altar bersama dengan seorang penghulu, pria itu adalah seseorang yang akan menjadi suaminya, bahkan laki² itu akan memberikan kehidupan yang tidak pernah mey bayangkan selama ini.


"Aku kira aku akan menikah dengan penuh kebahagiaan, bersanding dengan seseorang yang kucintai, seperti yang sudah ibu dongengkan padaku dulu, yaitu menjadi seperti seorang tuan putri yang cantik dan anggun dengan para tamu yang bersorak penuh kebahagiaan" Batin mey.


Mata mey berkaca² menahan tangis, hatinya sesak, bahkan saat sang pastur itu bertanya akan kesediaannya menikah, bibirnya seakan tak bisa dibuka.

__ADS_1


Di dalam ruang pernikahan yang hening dan sepi itu, mereka mengucapkan janji suci pernikahan, akhirnya merekapun sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Setelah resepsi pernikahan itu, alan tak lagi menampakkan batang hidungnya.


Karena merasa kasihan melihat mey duduk sendirian di bangku gereja, sekretaris bay pun meminta supir untuk mengantarkan mey pulang kerumah kediaman tuannya.


"Rumah ini terlalu besar, sampai² mau ke kamar saja sampai berjalan sejauh ini dan masih menaiki tangga pula, kenapa tidak di kasih lift saja biar cepat" batin mey.


Mey mengeluh kesal dalam hatinya.


Mey melihat ke arah paman Li yang sedang berjalan di depannya.


"Apa ini alasan kenapa yang bekerja di rumah ini semuanya kurus" batin mey


Sambil menahan tawanya....


Beberapa saat kemudian..


"Nona ini sudah sampai, koper anda juga sudah ada di dalam".


"Iya terimakasih paman Li".


Mey membuka pintu kamarny.


Ia tertegun takjub setelah melihat kamar barunya tersebut.


"Wah.....apa ini benar² kamar, luas sekali jika semua anak² panti tinggal di kamar ini pasti muat, mimpi apa aku semalam hingga bisa masuk kedalam rumah sebesar ini?".


Mey membereskan koper bajunya kedalam lemari baju yang sudah di sediakan.


Setelah itu, ia pergi mandi dan berganti pakaian, kemudian ia menyisir rambutnya di depan kaca besar pada meja rias.


"Dia sungguh kaya, benar² kaya, tapi jika dia sangat kaya kenapa dia mau menikahiku, apa dia benar² adalah seorang rentenir yang sangat sukses?".


Itulah yang di pikirkan mey dalam benaknya.

__ADS_1


Kemudian dia berbaring di atas ranjang besar tersebut dan tanpa di sadari, perlahan matanya mulai terpejam.


__ADS_2