
"Cih....berani sekali perempuan jelek ini mengataiku seorang rentenir tua" kata alan.
"Maaf nona, tuan muda alan yang akan bertemu dengan anda".
Kata bay sembari mengayunkan kedua tangannya, memberi tau bahwa orang yang ada di depannya itu adalah orang yang di tunggunya dari tadi.
Mey terkejut mendengar perkataan sekretaris bay.
"Apa? ternyata pria tampan yang ada di depanku ini? apa tidak salah? bukankah sara berkata bahwa yang ku nikahi adalah seorang rentenir tua?, matilah aku karena telah mengatainya rentenir tua di hadapannya" pikir mey.
Mey melihat ke arah alan yang berekspresi dingin dan terlihat menakutkan, ia langsung menunduk ke bawah tidak berani melihat ke arah alan lagi, ia merasa merinding.
Alan meneguk wine yang dituangkan sekretaris bay.
"Bay, beri dia catatan apa saja yang boleh dia lakukan dan tidak boleh dia lakukan setelah menjadi istriku".
Sekretaris bay memberikan semua catatan tentang aturan yang telah di tulisnya dengan detail dalam setumpuk kertas tersebut.
"Apa? sebanyak ini, yang benar saja, dia gila yah, ini catatan atau buku sejarah" pikir mey lagi.
Mey mengambil setumpuk kertas tersebut dari tangan sekretaris bay.
"Nona, tolong di baca dan di hafalkan" Kata sekeretaris bay.
Mey membaca tulisan dalam kertas tersebut.
"Apa? dia menyuruhku menghafal semua catatan yang tidak penting ini" pikir mey.
"Iya baiklah"
Sembari tersenyum paksa.
"Bay, berikan juga dia kontraknya".
__ADS_1
Bay memberikan selembar kertas pada mey.
"Eh....apa ini?" Mey merasa bingung.
Sekretaris bay memberikan penjelasan tentang apa isi dari kertas tersebut.
"Nona, ini adalah surat kontrak, setelah tiga bulan tuan akan menceraikan nona, tolong di tanda tangani di sebelah sini".
Sembari memberikan pulpen dan menunjuk kearah mey yang harus di tanda tangani mey.
Esoknya.....
Mey mey bertemu seorang pria yang akan dinikahinya esok, sebelum pergi mey mey menatap wajahnya di cermin.
"Aku akan berpenampilan sejelek mungkin, jika dia membatalkan berjodohan ini karna melihat wajahku yang dekil, itu malah lebih bagus".
Mey tersenyum melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, kemudian memakai kacamata bulat dan mengepang kedua rambutnya serta memakai pakaian yang sederhana, ia segera pergi dengan mengayuh sepedanya.
"Apa²an ini, aku telah menunggunya selama setengah jam di sini, apa dia membatalkan pertemuannya, menyebalkan sekali, membuang² waktuku saja".
Tidak lama kemudian, seseorang berpakaian jas hitam lengkap membuka pintu ruangan tersebut, dengan diikuti seorang pria tampan dengan ciri² tubuh putih bersih, bermata biru, berambut hitam pekat, dengan hidung mancung dan bibir tipis serta alis yang hitam panjang menjulang seperti pedang sehingga terlihat galak, yang berperawakan gagah dan tinggi, kemudian juga 2 pengawal yang menjaga disisinya, dua pengawal itu berdiri disisi pintu masuk dan tidak ikut masuk.
Alan masuk dengan aura dingin, tatapan wajah yang tidak berekspresi membuat suasana berubah menjadi mencekam.
Sekretaris bay menarik kursi dan mempersilahkan tuannya untuk duduk, alan duduk di kursi tersebut dan kemudian pelayan menghidangkan makanan hingga penuh di atas meja.
Bay menuangkan wine ke dalam gelas dan meletakkannya di depan alan.
Mey yang masih merasa bingung, menggerakkan kepalanya menghadap kearah pintu seperti sedang mencari seseorang.
"Nona, anda sedang mencari siapa?".
Tanya sekretaris bay kepada mey yang dari tadi masih clingak clinguk melihat ke luar pintu.
__ADS_1
"Tuan, mungkin kalian salah tempat, aku sedang menunggu rentenir tua disni".
Jawab mey dengan wajah polosnya.
"Eh.....benarkah, dia akan menceraikan ku setelah tiga bulan, kenapa harus menunggu tiga bulan, kenapa tidak satu hari saja langsung cerai, atau lebih baik tidak usah menikah sekalian" pikir mey.
Mey menandatangani kertas tersebut dengan perasaan senang.
"Saya akan berusaha menjadi istri yang baik, menaati perintah anda dengan lapang dada" ucapnya seraya menampakkan senyum cerahnya kearah alan.
Alan yang melihat senyuman wanita culun yang ada di depannya merasa agak kesal, ia membuat perjanjian itu bukan untuk membuat wanita jelek itu senang, seketika raut wajahnya berubah menjadi menyeramkan, keheningan dan hawa dingin mulai di rasakan mey kembali.
"Bukankah tadi dia sendiri yang mengatakan seperti itu? kenapa raut wajahnya jadi pahit begitu? apa ucapan ku ada yang salah?" pikir mey.
"Sebenarnya saya merasa terhormat bisa menikah dengan tuan walau dalam waktu, saya benar² bersyukur, saya akan berterima kasih kepada Tuhan".
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengikatmu sebagai istriku selamanya".
Alan mengatakan hal tersebut dengan ekspresi datarnya.
Mey mey terkejut, ia memenggenggam erat roknya dengan telapak tangannya yang dari tadi sudah panas dingin.
"Ba....bagaimana saya bisa menolak permintaan tuan".
Suara mey terbata² mengucapkan perkataan tersebut yang dilanjutkan dengan senyuman palsunya.
"Yang benar saja, dari pada terikat denganmu selamanya aku lebih memilih untuk menyicil utang ayahku dengan mengembala kambing" pikir mey.
Alan beranjak dari tempat duduknya, kemudian langsung pergi dari tempat itu tanpa mengatakan sepatah katapun dengan di ikuti sekretaris nya dan 2 pengawalnya keluar dari ruangan tersebut.
Ia melihat ke atas meja, menatap makanan yang utuh belum di sentuh sedikitpun.
Mey kemudian bertanya pada salah satu pelayan "apa semua makanan ini sudah di bayar?" pelayan itu mengatakan iya, mey pun lngsung membungkus semua makanan di meja, dan membawanya ke panti.
__ADS_1