Si Culun Menikahi Ceo Tampan

Si Culun Menikahi Ceo Tampan
zero


__ADS_3

setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang mey tunggu² dari tadi pun tiba. bibi Li membawakan semangkuk bubur dan beberapa buah²an untuk mey.


"silahkan di makan nona, semoga cepat sembuh" ucap bibi Li dengan tersenyum ramah memberikan bubur itu kepada mey.


"Terima kasih bibi Li" jawab mey seraya membalas senyuman tersebut.


setelah meletakkan buah itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur, bibi Li langsung unjuk pergi karena tidak mau mengganggu mereka berdua.


mey langsung saja melahap bubur tersebut, dia memang lapar, karena dari kemarin malam dia belum makan sebab menunggu alan yang tak kunjung datang. jika mey tau bahwa kemarin malam akan turun hujan, dan Alan akan telat datang, mey pasti sudah memakannya sampai habis. sia² sekali dia membuat masakan itu dari sore hingga petang jika akhirnya hidangan itu malah kebanjiran.


Alan mengambil buah apel merah yang ia pegang di tangan kirinya dan memegang pisau dapur di tangan sebelah kanan, ia bermaksud ingin mengupas apel tersebut untuk mey.


"aku akan mengupaskan buah ini untukmu" begitu katanya.


mey membalasnya dengan anggukan serta senyuman yang tersungging di bibirnya, menandakan jika dia mau.


Mey sibuk makan, sedangkan suaminya sibuk mengupaskan buah untuknya.


beberapa saat kemudian, apel tersebut sudah selesai di kupas. bukan hanya kulitnya yang hilang, dagingnya pun juga ikut hilang, entah kemana daging buah itu pergi, ternyata ikut terkupas.


"ini" kata Alan dengan suara datar, ia memberikan buah yang telah ia kupas itu kepada mey.


mey terdiam sejenak seraya mengamati buah tersebut "kok gini? " tanya mey sembari mengambil buah itu dari tangan Alan.


ini yang mau di makan apanya? bijinya? .


"lalu gimana? " jawab Alan dengan balik bertanya.


"seharusnya kau mengupas kulitnya, bukan dagingnya".


" ini masih ada dagingnya.. " ucap Alan tidak mau di salahkan sembari menunjuk² buah apel itu.

__ADS_1


mey hanya mengiyakan apa yang suaminya katakan, karena dia tidak mau berdebat hanya gara² sebuah apel.


dari dulu Alan memang tidak pernah memegang pisau dapur, ya untuk apa? dia sudah mempunyai banyak pembantu, tentu saja para pelayannya itu lah yang mengerjakan pekerjaan tersebut.


dia hanya perlu duduk tenang dan semua bawahannya lah yang akan melakukan semua yang ia perintahkan, tanpa terkecuali.


__________________


setelah pulang dari bekerja, sela di hampiri oleh seorang laki² yang berperawakan tinggi, memakai masker, bertopi dan juga berkacamata hitam, tanpa melihat wajahnya, sela sangat yakin bahwa itu adalah zero.


"hay" begitu sapanya.


"ada apa? " tanya sela dengan tersenyum ria.


"aku ingin mengajakmu jalan²" ujar zero kemudian menggandeng tangan sela tanpa menunggu jawaban sela terlebih dahulu.


saat di gandeng oleh zero, sesekali sela mendongakkan kepalanya ke atas, melihat wajah zero yang tertutup masker.


lalu sela menundukkan kepalanya kembali sembari tersenyum malu², menyembunyikan pipinya yang sedang memerah.


"aku tau tempat yang bagus" kata sela memberi tau.


"baiklah kita pergi ke sana".


tanpa selang waktu lama, mereka berdua sampai di tempat yang sela maksud, yaitu di sebuah taman indah yang di penuhi bunga² warna warni di dalamnya.


sela dan zero duduk berdampingan di atas kursi kayu yang sudah ada di taman itu.


"emm... apa aku boleh bertanya sesuatu" ujar sela dengan mata yang melihat zero.


"tanya apa? ".

__ADS_1


" kenapa kau selalu pergi di saat kau ada konser? dan bukankah seorang superstar sangat sibuk, kenapa kau bisa keluar kesana kemari dengan tenang tanpa takut ada paparazi yang membuntuti mu" begitulah rentetan pertanyaan sela yang sudah ia pikirkan dari beberapa hari yang lalu.


zero melepaskan kacamata dan maskernya, terlihat senyuman aneh yang terlihat dari bibirnya. sela tidak mengerti maksud dari senyuman itu, entah itu senyuman karena dia merasa tersinggung atau karena pertanyaan itu yang kebanyakan,sela tidak tau. yang jelas sekarang ia sedang terpesona saat melihat senyuman zero yang membuat hatinya meleleh, sampai² dia ingin sekali memotret nya untuk kenang²an.


"mungkin itu karena aku tidak suka berada di panggung".


" kenapa? " sela tambah penasaran karena jawaban itu.


"sebenarnya cita² ku bukan menjadi seorang bintang di dunia hiburan, itu semua karena ibuku yang memintanya. aku seakan terkekang, tidak boleh melakukan ini, tidak boleh melakukan itu, semua kamera seakan menyorot ke arahku, semua yang ku lakukan pasti selalu ekspos ke media. aku ingin bebas, pergi ke sana ke mari tanpa memakai penutup wajah, aku bosan. sebenarnya aku ingin menjadi seorang pilot, pergi untuk mengelilingi dunia dengan menaiki pesawat, itu impianku " terlihat bahwa raut wajah zero sedang sedih sekarang, sela menjadi kasian, tidak di sangka bahwa menjadi seorang bintang akan sesulit itu.


sela meraih pipi zero, mengarahkan wajah zero ke arahnya, lalu ia berkata "tidak apa², aku tau kau pasti bisa melalui semua ini. mungkin ibumu melakukan itu karena dia tau bahwa kau mempunyai bakat menyanyi, ibumu hanya ingin kau sukses. percayalah, tidak ada orang tua yang ingin melihat hidup anaknya menderita" ujar sela menyemangati dengan senyuman hangat, memberikan pencerahan kepada zero dengan suara lembutnya.


zero tidak menyangka, bahwa seorang wanita yang biasa bersikap konyol itu memiliki sisi yang hangat, perhatian dan juga punya hati yang baik.


"apa kau tau, katanya taman ini di buat pertama kali oleh dua anak kecil loh" ucap sela merubah situasi yang canggung tadi menjadi ceria.


"eh benarkah? ".


" iya, katanya dulu anak kecil itu bersahabat baik. karena si anak laki² itu lumpuh, jadi sahabatnya itu selalu mendorong kursi rodanya dan mengajaknya bermain di sini. tanah ini dulunya bukan taman, cuma lahan tandus yang gersang. karena si anak laki² itu kaya, dia pun menyuruh orang tuanya membeli lahan ini" sela menceritakan kepada zero tentang apa yang ia dengar dari salah satu pengunjung di sini.


zero hanya mendengarkannya dengan seksama, sebenarnya ia tidak begitu menggubris celotehan sela yang menceritakan sesuatu yang menurutnya tidak penting, ia malah fokus menatap wajah sela yang menurutnya imut.


*zero lae**n*.


ini adalah visual zero kak, pemuda tampan yang berprofesi menjadi artis.


warna rambutnya sudah nggak pirang lagi, udah di semir warna coklat😅.


pastinya tampan yekannn..😆🥰.


ini fotonya di ambil pas dia lagi konser, ia sedang berdo'a agar konsernya hari ini berjalan dengan mulus tanpa hambatan seperti jalan tol hahaha...😹.

__ADS_1



__ADS_2