
alan menggenggam tangan mey dan membawanya menaiki anak tangga.
alan membuka pintu yang di dalamnya adalah sebuah kamar, rapi dan indah, seperti semua desain ruangan itu khusus di buat untuk seseorang.
alan dan mey masuk kedalam kamar tersebut, kemudian alan membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memejamkan mata "nanti malam kita akan menginap di sini" ujarnya.
"kenapa? " tanya mey sembari melangkah mendekat ke arah alan dan berdiri di hadapan suaminya yang sedang berbaring di ranjang itu.
alan bangun dan duduk di tepi ranjang kemudian menjawab "kau ingin menjadi pengganggu? ".
mey mengerutkan dahinya,dia tidak mengerti apa yang di maksud alan sebagai pengganggu.
alan membaringkan tubuhnya lagi dan menutupi kedua matangnya dengan lengan tangannya " paman dan bibi Li harus mendapatkan privasi. biarkan mereka bersenang² tanpa ada orang lain yang mengganggu" lanjut alan.
privasi? bersenang²? apa maksudnya?.
"jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting" sahut alan dengan mata yang masih terpejam.
"ulurkan tanganmu".
" hah... untuk apa" mey mengulurkan tangannya, tiba² alan menarik tangan mey hingga membuatnya jatuh ke pelukannya.
dengan tersenyum, alan mendekap istrinya erat².
selalu saja begini, membuatku kesal saja.
mey memelendungkan pipinya sembari menghembuskan nafasnya melalui mulut. dia sulit melepaskan diri dari pelukan suaminya,dengan perasa geram, ia pun mengumpat dalam hati.
tidak lama kemudian, suara deringan telepon dari ponsel alan berbunyi.
dengan perasaan kesal, alan melepaskan mey dari pelukannya.dan mey langsung berdiri,akhirnya ia pun bisa lepas dari dekapan si suami yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
alan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, ternyata orang yang meneleponnya adalah sekretaris bay.
sial, mengganggu saja. awas kalo tidak penting, aku pasti akan memotong gajimu bay.
__ADS_1
lalu alan mengangkat telfonnya.
"hallo tuan" sapa bay dalam telepon.
"hmmm...ada apa".
" maaf tuan, apa sekarang anda bisa datang ke kantor ? soalnya ada sedikit masalah" begitu ujarnya.
"masalah apa".
" ini penting, saya tidak bisa menjelaskannya dalam telepon".
alan langsung mematikan sambungan telepon itu dan mengambil jasnya yang ia letakkan dalam ruang ganti.
setelah keluar dari ruang ganti dengan memakai jas berwarna hitam, alan mendekat ke arah mey terlebih dahulu "aku ada urusan, mungkin aku akan pulang larut malam".
aku lebih senang jika kau tidak kembali selamanya.
" jika kau takut sendiri, aku akan meminta seseorang untuk menemanimu" alan melanjutkan perkataannya.
"ah tidak perlu, aku berani" jawab mey dengan tersenyum.
kemudian alan beranjak pergi meninggalkan mey sendirian di dalam vila besar tersebut.
aneh, ini kan akhir pekan, dia masih sempat²nya kerja?, tapi syukurlah dia pergi, aku jadi bisa sendirian.
dengan perasaan senang, mey menyusuri semua tempat dalam vila itu sendirian. dia merasa bebas, sebenarnya kebebasan itulah yang ia rindukan selama ini.
ruang demi ruang, sudut demi sudut, ia berjalan terus melihat semua ruangan yang megah tersebut, hingga membuat kakinya letih karena memutari rumah sebesar itu, untung saja dia tidak tersesat.
mey kembali ke dalam kamarnya lagi untuk istirahat.
dia merasa sangat gerah karena berjalan tadi, ia pun bermaksud ingin mandi.
saat di kamar mandi, mey tidak sengaja jatuh kedalam bak yang sudah ia isi air penuh hingga bajunya basah kuyup.
__ADS_1
kenapa aku selau sesial ini? aku ini sebenarnya umur berapa sih, bisa²nya sudah sebesar ini masih sering jatuh. jadi malu aku dengan rumput bergoyang.
gumamnya kesal.
setelah mandi, mey mencari baju ganti di ruangan khusus baju karena bajunya yang tadi ia pakai sebelumnya sudah tidak bisa di pakai lagi karena basah.
di dalam ruang ganti tersebut, ada dua lemari. yang satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna putih.
mey mencoba membuka almari berwarna putih itu, tapi sayang, almari itu tidak bisa di buka.
kenapa di kunci? apa ya yang ada di dalamnya?
itu membuat mey jadi lebih penasaran.
mey berganti membuka almari berwarna hitam, di dalam almari itu, berisi beberapa baju kerja milik alan.
tangan lentik mey menerpa baju² yang di gantung itu sembari memilih baju apa yang akan ia kenakan.
tangannya berhenti melihat ke arah kemeja berwarna putih, lalu dia pun mengambilnya dan memakai kemeja itu.
lalu mey beralih memilih celana, tapi saat mencoba celana milik alan satu persatu, semuanya kedodoran di kakinya, satupun tidak ada yang pas.
dia akan pulang malam kan? lagi pula jika dia datang aku pasti sudah tidur dan menyelimuti kakiku dengan selimut, dia pasti tidak akan lihat jika aku tidak memakai celana.
pikirnya.
mey membuka pintu dan keluar dari ruang baju tersebut, terlihat dari kaca bening yang ada dalam kamarnya bahwa di luar cuaca sedang buruk. angin berhembus kencang, kilat putih nampak jelas dengan suara petir yang menyambar, berawal dari gerimis dan semakin lama menjadi lebat.
mey menyisir rambutnya sebentar, lalu berjalan menuju ke arah kaca untuk menutup korden.
mey menarik kain korden itu dan tiba² "jeduarrr!!! " suara petir menyambar keras hingga membuat mey terkaget.seketika lampu menjadi padam, semuanya menjadi gelap gulita.
mey terduduk takut, dia pobia kegelapan, sampai² dia tidak berani mendongakkan kepalanya dan menutupi matanya dengan telapak tangan.
suara petir terus terdengar keras di telinga mey, kilat selalu muncul hingga membuat suasana menjadi mencekam.
__ADS_1
"aku takut... aku takut! aku takut!! " dengan merintih dia mencoba menenangkan perasaannya, tapi tidak bisa, dia terlalu takut akan hal kegelapan.
sesaat dia teringat dengan alan yang menolongnya beberapa bulan lalu "alan" gumamnya dengan menitihkan air mata.