
Setelah selesai membuatkan kopi, mey mengantarkan kopi tersebut ke kamar alan.
Alan meminumnya.
"Ini terlalu manis, buatkan lagi".
Mey pun kembali untuk membuatkan yang baru.
"Ini terlalu pahit, ganti"
Beberapa saat kemudian...
"Ini terlalu kental, kau bisa buat kopi tidak sih, buatkan yan baru"
"Baik tuan" sembari tersenyum paksa.
Menjengkelkan, benar² menjengkelkan, dia pasti sedang mengerjaiku, kurang ajar. Aku sudah bolak balik ke dapur 3 kali, apa dia fikir dapurnya itu dekat, kaki ku sampai mau patah bolak balik menaiki tangga dari tadi, pelayannya saja sampai heran melihatku.
Saat di dapur mey tak henti²nya bergumam kesal.
Sialan, orang gila sialan, berani²nya mengerjaiku, aku kutuk kau rambutmu rontok dan jadi botak agar kau tidak tampan lagi, menyebalkan.
Saat akan mengambil gula, mey melihat ke arah garam, kemudian ia pun tersenyum licik.
Mey membuka pintu kamar, dan menyerahkan kopi itu kepada alan.
"Selamat siang tuan, ini koli anda, semoga anda menikmati" Sembari tersenyum manis.
Alan merasa heran, setelah melihat ke arah mey yang tersenyum manis saat memberikan kopi tersebut.
Apa wanita ini jadi gila setelahku kerjai.
Alan menyeduh kopi tersebut." pehhhh...." ini kopi atau apa, kau bisa membedakan garam dengan gula atau tidak" wajahnya masih dalam ekspresi ke asinan.
Mey menahan tawa.
"Eh....maaf tuan mungkin saya salah mengambil garam tadi, saya akan buatkan yang baru untuk anda"
"Tidak usah, buatkan aku teh saja" alan memandang mey dengan ekspresi kesal.
"Tok tok tok" suara sekretaris bay mengetuk pintu.
"Masuk" kata alan.
Sekretaris bay membuka pintu.
__ADS_1
"Selamat siang tuan, nonya" bay menyapa mereka berdua.
Mey hanya tersenyum.
"Ada masalah apa?" kata alan
"Ada masalah kantor sedikit tuan".
"Baiklah, kita keruang baca saja".
Keesokan harinya, mey bangun pagi² untuk mandi.
"Aku harus cepat² mandi sebelum dia bangun".
Beberapa menit kemudian....
"Heh culun" memanggil mey dengan suara beratnya.
Mey yang mendengar suara alan langsung buru² memakai kacamatanya lalu menoleh ke arah alan.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"
*dia panggil aku apa tadi, culun? menjengkelkan, gini² aku punya nama tauk*.
"Eh....tidak" mey cepat² membuka gorden tersebut.
"Tuan apa perlu saya siapkan air hangat untuk mandi"
"Tidak perlu"
Eh....apa dia tidak mandi dulu sebelum berangkat ke kantor.
"Aku tidak akan berangkat ke kantor hari ini".
"Kenapa?" tanya mey Penasaran.
"Kakiku masih sakit, ini gara kau tadi malam"
"Iya maaf tuan" sembari menunduk ke bawah.
Apa orang gila ini sedang mempermainkanku, dia menyuruh membuka gorden agar dia tidak kesiangan ke kantor, dan sekarng tiba² dia berkata tidak akan pergi ke kantor karna kakinya sakit.
Alan melihat penampilan mey.
"Apa ibumu tidak memberikanmu uang untuk membeli baju, baju pelayan disini saja lebih bagus dan lebih mahal dari pada yang kau kenakan".
__ADS_1
Apa maksudnya dia berkata seperti itu, kalau aku tidak memakai baju ini, aku harus memakai baju apa, apa dia akan memberiku baju pelayan?.
Mey hanya menunduk dan tidak bicara sepatah katapun.
"Besok² jangan memakai baju kampunganmu itu lagi, mataku sakit melihatnya".
Jika matamu sakit beneran, aku akan lebih senang.
"Iya tuan" masih dalam keadaan menunduk.
"Buatkan aku kopi".
"Baik tuan" mey segera turun ke bawah untuk membuat kopi.
Saat di dapur.
"Pagi nona" semua Pelayan menyapa mey.
" iya pagi juga" sembari tersenyum canggung.
Aku merasa aneh jika semua orang di rumh ini selalu menyapaku jika bertemu.
Alan berdiri dan keluar dari kamarnya seolah² kakinya sehat, tidak sakit sedikitpun.
Mey yang masih di dalam kamar tersebut merasa jengkel karna melihat alan yang kakinya baik² saja.
"Dia membohongiku, dia mengerjaiku, dia membuat kakiku sakit karna bolak balik menurunin tangga, akan ku tendang kakimu agar benar² lumpuh dasar sialan".
Dengan ekspresi wajah marah yang menggebu².
Saat di ruang baca, setelah membicarakan tentang masalah perusahaan, alan menyuruh bay untuk memberikan mey kartu kredit tanpa batas.
"Bay, berikan si culun itu kartu kredit tanpa batas, mataku sakit saat melihat baju murahan yang di kenakannya itu".
"Baik tuan".
Beberapa saat kemudian, mey masuk ke ruang baca untuk memberikan teh, mey menyajikan 2 gelas teh di meja.
"Tuan muda, sekretaris bay, silahkan di minum saya akan keluar".
Menyerahkan minuman tersebut sembari tersenyum.
Aku akan segera pergi, kalau tidak dia pasti akan mengerjaiku lagi.
Kemudian mey keluar dan masih dalam keadaan kesal.
__ADS_1