Si Culun Menikahi Ceo Tampan

Si Culun Menikahi Ceo Tampan
Bab 114


__ADS_3

bay menatap keyra dengan pandangan agak terkejut, tanpa berpikir panjang, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan membungkuk untuk menyapa keyra, anggap saja itu adalah sebuah tanda penghormatan karena dia termasuk keluarga kerajaan dan sekaligus adik dari majikannya "selamat sore putri, ada yang bisa saya bantu" begitu ucapnya.


'aneh, tidak biasanya orang ini pergi sendirian tanpa ada pelayan yang menemaninya' batin bay yang merasa heran akan perempuan yang ada di depannya.


keyra pun melakukan hal yang sama, dia membalas sapaan tersebut, dengan tersenyum dia membungkuk, memperlihatkan keanggunannya yang mutlak "selamat sore juga tuan, bolehkah saya duduk menemani anda" tanyanya meminta persetujuan.


sebenarnya bay merasa keberatan, tapi dia tidak enak hati untuk menolaknya, dan akhirnya dia pun setuju "saya merasa terhormat bisa duduk bersama dengan putri".


bay dan keyra duduk lesehan di alas lantai yang terbuat dari kayu, mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja yang menjadi penghalang di antara mereka.


bay nampak celingukan sebentar, seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. itu membuat keyra merasa heran, karena penasaran ia pun bertanya "apa anda sedang menunggu seseorang tuan? ".


" ah, sebenarnya saya sedang menunggu tuan Alan" bay menjawab pertanyaan itu.


"oh.. bagaimana jika anda menunggu sambil makan. pas sekali saya juga sedang membawa makanan" keyra mengeluarkan dessert nya dari dalam keranjang, lalu meletakkannya di atas meja, dan nampak lah dua desert rasa vanila tersebut. dia mulai menyodorkan dessert itu dengan sopan ke hadapan sekretaris bay "silahkan di cicipi tuan" suguhnya seraya tersenyum manis.


sikap manis keyra malah membuat bay menjadi sungkan dan membuatnya agak ragu menerima tawaran tersebut, sebenarnya ia merasa tidak enak jika ada orang lain yang melihat. bay terdiam sejenak, berfikir bagaimana cara menolak tawaran itu dengan halus supaya tidak menyakiti hati sang pemberi.


"saya masaknya sendiri, saya hanya ingin meminta bantuan anda untuk mencicipi nya dan memberi komentar pada masakan saya ini. jujur, saya tidak pandai memasak" lanjut keyra. inti dari perkataannya barusan adalah ia tidak menerima penolakan.


dan pada akhirnya, mau tidak mau bay pun menerima dessert tersebut lalu mencicipi nya.

__ADS_1


sama halnya dengan bay, keyra juga memakan masakannya sendiri, memastikan bahwa apa yang ia masak itu enak atau tidak.


satu suapan telah masuk ke dalam mulutnya. tak seperti ekspektasi, ternyata dessert itu sungguh enak, ia tak menduga bahwa kakak iparnya yang terlihat bodoh itu pintar akan hal memasak.


"saya tidak menyangka bahwa putri pandai memasak" kata² pujian dari bay barusan membuat rasa tertegun keyra tadi menjadi buyar, dengan pandangan agak linglung ia menoleh ke arah laki² tersebut.


dengan menampakkan senyum manis keyra langsung menjawab "terimakasih atas pujiannya, sebenarnya saya bisa membuat masakan ini karena kakak ipar saya yang mengajarinya".


bay hanya membalas dengan senyuman, ia tidak tau siapa kakak ipar yang di maksud oleh keyra, entah itu mey atau kristiana.


waktu terus berputar, tidak terasa bahwa hari sudah mulai menggelap, matahari sudah menampakkan warna oren kemerah²an di ufuk barat, menandakan sebentar lagi bulan akan muncul.


"maafkan saya karena saya tidak bisa mengantarkan putri menuju istana. saya masih harus menunggu kehadiran tuan Alan. saya takut jika saya meninggalkan tempat ini kemudian tuan Alan datang kemari dan mencari saya, saya tidak ada. saya akan menunggunya beberapa menit lagi, sekali lagi saya minta maaf" dengan rasa tidak enak hati, bay membungkuk meminta maaf. ini semua karena Alan yang tidak mengangkat telepon darinya, membuat bay menjadi bimbang untuk meninggalkan tempat itu.


"iya tidak apa², saya permisi dulu" keyra melangkah pergi meninggalkan bay sendirian di paviliun.


_________________


di sisi lain, mey mengikuti langkah kaki ratu Elizza. langkah itu terhenti di sebuah ruangan yang di sebut dengan ruang pribadi keluarga. dengan penuh kewibawaan, sang ratu duduk di atas sofa besar berwarna merah sedangkan mey berdiri kikuk di hadapannya.


empat dayang yang selalu bersamanya ia suruh pergi karena ratu Elizza hanya ingin berbicara dengan mey saja.

__ADS_1


mey mulai bertanya² dalam benak, entah kenapa dirinya merasa seolah² akan di sidang "mengapa ibu mertua membawaku kemari? apa aku telah melakukan kesalahan? tapi apa? ".


dia menatap ratu Elizza dengan gugup sekaligus takut, tapi walaupun begitu dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya " maaf kalo saya boleh bertanya, mengapa ibu ratu membawa saya kemari? ".


sang ratu yang awalnya diam mulai mengangkat suara " aku mendapatkan laporan bahwa tadi kau bertengkar dengan Alan karena kau masuk kedalam kamar laki² lain, apa itu benar? " ucapnya sembari mengangkat salah satu alisnya.


pernyataan itu sontak membuat mey terkejut. dari mana ibu mertuanya ini tau tentang masalah yang terjadi tadi siang, kurang lebih seperti itu yang ia pikirkan.


"itu hanya salah paham, saya tidak bermaksud untuk melanggar tata krama istana. saya hanya.... " belum sampai mey menyelesaikan kalimatnya, ratu Elizza sudah menyelak perkataan itu "aku tidak kaget dengan perilaku orang sepertimu, bukankah seseorang yang terlahir dari keluarga rendah memang tidak pernah di ajari tentang etitut? " ujarnya seraya di iringi dengan senyum menyeringai.


sudah berapa kali aku mendapatkan penghinaan seperti ini? apakah aku harus diam saja dan bersikap seperti orang bodoh?


mey merasa agak jengkel dan kesal, bahkan kata² penghinaan dari ibu mertuanya itu lebih menjengkelkan dari pada kata² penghinaan yang sering di lontarkan oleh suaminya.


"saya ini manusia, walaupun saya orang nggak punya, walaupun saya orang miskin, tapi kalau ibu bicara semaunya sendiri begitu, mohon maaf... anda sama saya itu sama² manusia, yang membedakan hanya derajat sama pangkat, anda orang kaya sedangkan saya orang miskin. tapi di mata Tuhan, kita itu sama".


lagi² senyuman menyeringai dari bibir sang ratu muncul "memang benar. tapi di mata manusia, pangkat lah yang paling penting. derajat seseorang di nilai dari materi, semakin tinggi derajat orang itu, semakin banyak pula orang yang menghormatinya. bukankah begitu? ".


karena mey hanya diam saja, ratu Elizza pun meneruskan ucapannya "Alan terlahir dari keluarga terpandang, mempunyai harta dan kekuasaan, takdir sudah menetapkannya sebagai keturunan darah biru. seorang bangsawan harus bersanding pula dengan keturunan bangsawan agar lebih di segani. jika anakku hidup bersamamu apa yang akan dia dapatkan? cinta saja tidak cukup" ratu Elizza mulai meracuni pikiran mey, dan mencoba untuk membuat mey sadar tentang siapa dirinya.


setelah mendengar semua itu, seketika perasaannya menjadi goyah, mey mulai terpancing 'apa aku ini termasuk kategori seorang parasit? '.

__ADS_1


__ADS_2