
Micha makan siang di ruang makan dengan di layani oleh bi sea, wajahnya nampak murung memikirkan rencananya nanti malam. tangannya tak henti²nya memainkan nasi di dalam piringnya menggunakan sendok yang ia bawa.
karena merasa heran dengan nona nya yang terlihat tidak bersemangat, bi sea pun bertanya "nona kenapa? apa nona sedang sakit? " tanyanya dengan tangan yang sedang sibuk menuangkan minuman ke dalam gelas untuk di berikan nya kepada micha.
"ah tidak, mungkin karena tadi malam aku kurang tidur, jadi membuatku sedikit ngantuk" jawabnya.
"bi, nanti kalau Alan datang kemari tolong suruh dia menemui ku di kamar ya".
" baik nona" ujarnya sembari membungkuk.
"bukankah lebih baik jika nona mengajak tuan Alan untuk makan bersama dan mengambil kesempatan untuk memberikannya obat perangsang? " lanjutnya.
ya, sebenarnya itu adalah ide yang sangat bagus. tapi micha ingin menggunakan rencananya sendiri, entah cara ini akan berhasil atau tidak, ia merasa sedikit ragu.
_____________
saat pulang dari kantor, Alan meminta supirnya untuk mengantarnya pergi ke vila nya terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah.
si supir itu mematuhi perintah majikannya dan langsung melajukan mobil tersebut menuju vila.
di dalam mobil Alan seperti sedang memikirkan sesuatu, entah apa yang dia pikirkan, hanya dia sendiri yang tau.
akhirnya setelah menempuh waktu sekitar 25 menitan dan hari pun sudah mulai petang. mobil Alan sudah berjalan masuk ke dalam kediaman vila nya, si supir itu langsung membunyikan klakson mobil hingga membuat bi sea terburu² beranjak ke teras untuk menyambut kedatangan Alan.
pak supir tersebut membuka pintu mobil, mempersilahkan tuannya untuk keluar. Alan pun keluar dari dalam mobil tersebut, lalu dia menoleh ke atas, pandangan matanya tertuju pada salah satu kamar. Micha yang sudah merasa bahwa Alan mengetahui keberadaannya pun langsung menutup korden itu kembali.
"selamat datang tuan" ucap bi sea memberi hormat dengan membungkukkan badan.
seperti biasa, Alan cuma membalas sapaan itu dengan wajah datarnya.
"nona Micha sudah menunggu tuan di kamar, mari... " bi sea langsung membimbing Alan menuju kamar di mana Micha berada sekarang, Alan mengikuti langkah kaki bi sea di belakang.
setelah melewati anak tangga yang cukup tinggi, akhirnya mereka sampai di depan kamar tersebut.
__ADS_1
"silahkan tuan, nona telah menunggu anda di dalam" begitu lah kata bi sea yang mempersilahkan Alan untuk segera masuk.
Alan menarik gagang pintu itu, membukanya dan masuk. di sana gelap, hanya ada beberapa Lilin yang dinyalakan sebagai alat penerangan.
bau harum bunga seakan mengisi seluruh ruangan itu, hingga membuat orang yang menciumnya pasti ingin menghirupnya terus menerus.
Alan merasa heran, baginya semua ini begitu aneh. dia melihat sekeliling sembari berjalan mendekati ranjang, ia tidak mendapati batang hidung Micha di sana.
karena pendengaran Alan yang cukup tajam, ia seperti mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamar mandi, sontak Alan langsung menoleh ke arah pintu. ternyata itu adalah micha, dia berjalan mendekati Alan dengan memakai lingerie berwarna merah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah gemulai. sungguh cantik, kulit putihnya seakan bercahaya di malam hari, rambut pirangnya yang ia lerai membuatnya semakin elok di pandang.
Alan hanya mengamati apa yang sedang micha lakukan. saat micha sudah berada di dekat Alan, ia langsung membelai wajah mulus pemuda yang ada di hadapannya sembari berkata "kau sudah sampai, aku sudah lama menunggumu".
Alan tak merespon sedikitpun, tatapannya dingin sembari mengernyitkan alisnya menandakan bahwa dia sedikit tak mengerti.
" apa kau haus? aku akan menuangkan minuman untukmu" tanpa menunggu jawaban Alan, micha langsung berjalan ke arah meja di samping tempat tidurnya yang terletak di sebelah kanan, di sana sudah tersedia sebotol wine dan dua buah gelas yang telah ia persiapkan sejak tadi.
Micha menuangkan wine itu kedalam gelas, sebelum memberikannya kepada Alan, Micha mengambil sesuatu dari dalam laci meja, ternyata itu adalah sebuah obat perangsang yang di berikan oleh bi sea kemarin malam.
Alan tak dapat melihat apa yang di lakukan Micha karena terhalang oleh punggung wanita itu. dengan tersenyum Micha berjalan mendekati Alan sembari membawa gelas berisi wine itu di tangannya.
"ini, minumlah dulu " ucap Micha saat sudah berdiri di hadapan Alan, dengan senyum yang tersungging di bibirnya, ia meminta Alan untuk meminum minuman tersebut.
Alan mengambil gelas itu dari tangan Micha dengan senyum menyeringai.
_______________
mey sedang sibuk membaca buku di atas ranjang sembari menunggu kepulangan suaminya yang tak kunjung datang.
matanya fokus melihat ke arah buku yang ia baca sedangkan tangannya meraba ke meja samping tempat tidur untuk mengambil gelas minumnya sebab tenggorokannya terasa kering.
karena matanya hanya fokus melihat ke arah buku, ia tak sengaja menyenggol gelas minuman tersebut hingga terjatuh ke bawah lantai "pyarr!! " gelas itu pecah berkeping² dan berserakan ke mana² hingga membuat mey kaget mendengar suaranya.
"ah mengganggu saja" gumamnya kesal, lalu dia langsung meraih telepon rumah dan memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan kaca tersebut.
__ADS_1
setelah mendapat telepon dari nyonya nya, ke dua pelayan itu langsung bergegas menuju kamar untuk membersihkan puing² pecahan gelas tersebut, sedangkan mey hanya melanjutkan bacaannya dan tertawa cekikikan sendiri di atas ranjang membaca buku yang ia pegang.
________________
Alan memegang gelas wine itu di tangannya, perlahan ia mencondongkan tangannya ke sebelah kiri hingga gelas itu memutar 90°, membuat air di dalam gelas itu tumpah di bawah lantai.
Micha tercengang melihat Alan melakukan itu, dia semakin ketakutan saat Alan bertanya padanya tentang minuman tersebut.
"apa yang kau masukkan kedalam gelas ini? ".
" i.. itu hanya wine, ak.. aku tak memasukkan apapun di dalamnya" jawab Micha terbata² saat melihat raut wajah Alan yang memandangnya dengan tatapan tajam.
"sebenarnya apa yang kau inginkan? " lagi² Alan bertanya.
tanpa basa basi, Micha langsung memeluk tubuh Alan sembari berkata "aku mencintaimu, aku ingin bersamamu selamanya, aku menyesal telah menyia²kan mu sebelumnya. ku mohon, jangan buang aku".
itu adalah kata² yang ingin di dengar Alan sejak dulu, tapi entah kenapa setelah mendengar ungkapan itu dari mulut micha, ia sudah tak merasakan perasaan yang bergejolak lagi, semuanya seakan semu, seiring berjalannya waktu perasaannya kepada micha mulai memudar. sekarang hanya nama istrinya yang terukir di hatinya, bahkan pikirannya sejak tadi tertuju pada mey mey.
tanpa belas kasih Alan langsung mendorong tubuh micha agar tidak menempel lagi di tubuhnya, tangannya mulai mencekik leher micha hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.
"ku peringatkan kau untuk terakhir kalinya, jangan macam² padaku atau kau akan menyesal. aku diam selama ini bukan berarti
aku masih menyukaimu, itu karena aku hanya menganggap mu sebagai sahabat dan menghargaimu sebagai teman masa kecil" Alan melepaskan cengkraman tersebut hingga membuat micha tersungkur sembari terbatuk² memegangi lehernya sendiri yang memar karena cengkraman yang kuat tersebut.
"uhuk.. uhuk, tolong jangan membuangku. aku rela melakukan apapun asalkan kau mau kembali lagi padaku" ucap micha dengan suara serak, matanya mulai menitihkan air mata.
"aku tak suka dengan wanita penggoda. seberapapun rasa cintamu pada seseorang, itu bukan berarti kau bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. siapa yang mengajarimu untuk menjadi wanita murahan seperti ini? aku jijik melihatnya. dan ingat satu hal, laki² akan lebih menghormati wanita jika wanita itu bisa menjaga kehormatannya sendiri, jangan menjadi wanita murahan jika kau tidak ingin di permainkan".
Alan melangkah pergi, tapi baru beberapa jangkah dia menghentikan gerakan kakinya "mulai sekarang dan selamanya, aku tidak ingin melihat mu lagi, jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapanku" lanjutnya dengan suara dingin, lalu ia langsung pergi dan meninggalkan kamar itu.
Micha menangis terisak setelah mendengar perkataan itu, hatinya benar² hancur saat Alan mengatakan tidak ingin melihat wajahnya lagi. ide bodoh ini seakan membuatnya semakin jauh dari Alan, seperti ada sebuah tembok besar yang memisahkan jarak mereka berdua.
di temani oleh cahaya lilin, dia semakin terpuruk akan kesedihannya.
__ADS_1