
Dion berpamitan kepada Tania dan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
Namun Tania menolaknya.
"Kamu bawa saja uang kamu, karena aku lebih butuh kerja samamu dari pada uang itu", kata Tania.
Namun pantang bagi seorang Dion mengambil kembali sesuatu yang sudah dia berikan.
"Kamu mungkin tidak mau menerimanya, tapi aku tetap punya hutang karena ucapan ku. Berikan saja uang itu kepada pegawai mu jika kamu tidak mau menerima", Dion berlalu dari tempat duduk dan berjalan keluar restoran.
Tania di buat terpana dengan sikap Dion, terlihat dingin namun justru malah memikat perhatian.
Di tambah lagi dengan sifatnya yang setia pada janji, membuat Tania semakin penasaran.
Malam itu Dion menghubungi Tania, dia mengirim sebuah pesan.
"Aku punya sebuah rencana", pesan singkat dari Dion.
"Rencana apa?", balas Tania.
" Aku akan membuat acara di tempat Aldo dengan bantuan temanku yang juga melibatkan Aldo hadir di dalamnya, setelah itu akan aku pesan makanan dari restoran kamu", balas Dion.
"Lalu?", tanya Tania yang belum mengerti arah pikiran Dion.
" Berikan obat perangs*ng pada minuman Aldo, lalu seterusnya itu tugas kamu", balas Dion.
"Smart... tapi..." , ada sesuatu yang mengganjal di hati Tania.
__ADS_1
"Tapi apa? kamu tidak setuju?", tanya Dion.
"Bukan.. aku setuju dengan rencana mu.. Tapi aku masih terbayang wajah mendiang suamiku. Aku tidak bisa melakukannya" ,balas Tania.
"Oke.. itu urusan gampang. Kamu nggak perlu melakukan hal itu, karena yang paling penting kamu bisa mengajak Aldo ke dalam kamar dan ketika keluar kamar kalian sudah di sapa oleh para wartawan pencari berita", balas Dion.
"Wartawan?", tanya Tania.
"Iya ... akan ada wartawan pada acara tersebut", balas Dion.
"Apa itu tidak terlalu kejam?", tanya Tania lagi.
"Kejam? itu buka kejam, tapi setimpal. Apa kamu ragu?", Dion balas bertanya.
" Aku tidak ragu", jawab Tania.
"Oke... kalau begitu besok kita mulai atur rencana itu. Teman ku akan mendatangi pihak hotel untuk memesan tempat", Dion mengakhiri pesannya.
Tapi .. yang ingin di lihat Tania adalah kehancuran Kirani... bukan Aldo..
Malam itu hatinya gundah.
Beberapa waktu kemudian dia berpikir untuk merubah rencana, bukan Aldo yang akan di jebak tetapi Kirani.
Tania mencoba mengungkapkan rencananya kepada Dion, walaupun dia ragu kalau Dion akan menyetujuinya.
Tanpa menunggu lama Tania segera mengirim pesan kepada Dion, hingga dia mendapat satu balasan pesan dari Dion,
__ADS_1
"Sebenarnya itu bukan target ku",
"Tapi itu targetku", balas Tania.
"Baiklah, kita selesaikan satu per satu", Dion kembali membalas.
" Maksud kamu?", Tania mencoba menebak isi otak Dion.
"Kali ini kita selesaikan target kamu, setelah itu kamu harus membantuku menyelesaikan targetku", balasan Dion sesuai dengan tebakan Tania.
"Oke.. aku setuju..", akhirnya mereka sepakat.
-------------
Di lain tempat, Aldo pulang terlambat. Mami , Kirani dan baby R sudah selesai makan malam.
"Kenapa Aldo jam segini belum pulang?", tanya Mami kepada menantunya.
"Iya Mi, katanya lagi ada banyak kerjaan jadi pulangnya terlambat", jawab Kirani.
"Oh gitu, ya sudah Mami istirahat dulu ke kamar. Kepala Mami agak pusing" ,kata Mami sambil berdiri hendak meninggalkan ruang makan.
"Iya Mi, apa perlu di bawa ke Dokter?", tanya Kirani.
"Nggak usah, Mami minum vitamin aja", jawab Mami.
"Baik Mi, biar aku antar sampai ke kamar", Kirani menuntun ibu mertuanya berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Baby R masih bermain di ruang tengah dengan di temani oleh Bi Ningsih.
Raihan sudah semakin besar dan semakin cerdas. Bahkan dia sudah mampu membantu menjaga kedua adik kembarnya.