Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Diam Diam Mendengar


__ADS_3

Tania dan David masuk ke tempat kedai es krim, di sana David memilih banyak rasa. Tania juga ikut di belikan.


Setelah memborong beberapa es krim akhirnya mereka pulang. Selama di perjalanan David selalu bersikap manja kepada Tania.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah. David nampak ceria, dia mengajak Tania untuk ikut bersamanya. Tania menemani David bermain di kamar sampai tak terasa Dokter Indra telah pulang.


"Bi dimana David? ", Dokter Indra menanyakan keberadaan putranya.


" Ada di kamar Tuan", jawab Bi Nilam.


"Kalau Tania ada dimana", tanya Dokter tampan tersebut.


" Non Tania juga lagi ada di kamar Tuan David Tuan", Bi Nilam kembali menjelaskan.


"Loh kok di kamar David? lagi ngapain? ", Dokter Indra belum puas bertanya.


" Itu Tuan, seperti nya Tuan David sangat senang bermain dengan Non Tania", jawaban Bi Nilam yang membuat Dokter Indra menghentikan pertanyaannya.


"Baiklah Bi, akan aku lihat mereka dulu di kamar", Dokter Indra kemudian berjalan menuju kamar.


Setelah sampai di depan kamar David, terlihat pintu tak di kunci bahkan sedikit terbuka. Sehingga dengan pelan Dokter Indra masuk ke dalam.


Dia sedikit terkejut melihat ternyata David sudah tidur dalam pangkuan Tania.


Tania pun sama terkejutnya melihat kehadiran Dokter Indra di balik pintu. Dengan perlahan Tania memindahkan kepala David ke bantal, lalu menyelimuti tubuhnya.


Tania kemudian pelan pelan meninggalkan David di kasur dan berjalan keluar kamar. Setelah di depan pintu dia bertatapan dengan Dokter Indra, dan dengan sedikit malu Tania mulai menyapa duluan.


"Dokter sudah pulang? maaf saya lancang masuk kamar David".


" Nggak perlu minta maaf, aku malah berterima kasih sama kamu karena sudah menidurkan David di jam segini. Biasanya dia selalu tidur di atas jam sembilan malam, dan tidak akan mau tidur kalau tidak aku temani", Dokter Indra mulai terlihat akrab dengan Tania.

__ADS_1


"Kasihan, sepertinya dia memang butuh teman dan yang paling utama butuh perhatian dan kasih sayang", Tania berkata dengan wajah memelas sambil memperhatikan David yang sedang tidur pulas.


Dokter Indra juga ikut memperhatikan putranya, dalam hatinya dia membenarkan ucapan Tania karena semenjak dia berpisah dengan istrinya David memang kurang perhatian dan kasih sayang. Dia menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk David selama hampir empat tahun.


"Mengapa Dokter tidak mencarikan pengasuh untuk David? ", tanya Tania.


" Dulu pernah ada pengasuh untuk dia , namun saat David berusia dua setengah tahun pengasuh nya mengundurkan diri karena harus menikah. Dan setelah itu David tidak mudah untuk dekat dengan pengasuh pengasuh baru yang mencoba melamar di sini. Paling satu bulan atau dua minggu bekerja mereka juga mengundurkan diri karena David susah untuk dekat dengan mereka. Akhirnya Bi Nilam yang merawatnya sampai sekarang", Dokter Indra menjelaskan kepada Tania.


Tania hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Dokter Indra.


"Kamu sudah makan? ", tanya duda tampan itu kepada Tania.


" Belum Dok", jawab Tania.


"Ini bukan Rumah Sakit, dan kamu tidak sedang menjadi pasienku, jadi jangan panggil Dok ya. Panggil saja namaku", sepertinya pria satu ini ingin di panggil lebih akrab.


" Tapi, saya nggak enak kalau harus memanggil nama saja. Kurang sopan juga, saya disini kan numpang. Atau perlu saya panggil Tuan biar sama seperti yang lain? ", Tania mengungkapkan pendapatnya.


"Mas? ", tanya Tania yang masih ragu.


" Iya, Mas? Nggak apa apa kan? ", Indra balik bertanya.


" Tapi...? Ya sudahlah kalau itu permintaan Dokter, eh Mas.. Indra", Tania masih canggung dengan panggilan itu.


"Nah gitu kan enak di dengar, ayo kita makan", Indra mengajak Tania makan malam bersama.


 


Malam itu Aldo pulang agak telat karena banyak pekerjaan yang harus di urus.


Mami menemani Kirani di dalam kamar sambil gantian menggendong Raihan yang dari tadi susah untuk tidur. Namun meskipun susah tidur, Raihan tidak menangis. Justru tersenyum senyum kalau di ajak ngomong. Membuat Mami semakin tidak ingin jauh jauh dari cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Mi, apa kabarnya Kak Tania di rumah Dokter Indra ya Mi? ", Kirani memulai percakapan dengan mertuanya.


"Semoga baik baik saja, Mami yakin lama lama dia akan terbiasa bahkan mungkin akan merasa nyaman tinggal di sana", jawab Mami.


" Kirani khawatir jika Kak Tania merasa tertekan dan gangguan jiwanya kambuh lagi", Kirani terlihat mengkhawatirkan keadaan Tania.


"Sudahlah, kita doakan saja agar dia betah tinggal di sana dan semoga dia bisa menjadi jodoh buat Dokter Indra", Mami mencoba menenangkan pikiran menantunya yang selalu khawatir pada Tania.


" Semoga saja Mi, Kirani sampai sekarang juga nggak pernah cerita ke Aldo tentang sikap Kak Tania. Kirani takut di bilang fitnah kalau Aldo nggak percaya, dan kalaupun Aldo percaya Kirani takut dia akan membenci Kak Tania", kata Kirani.


"Kamu itu baik banget nak jadi orang, padahal Tania sudah jahatin kamu tapi kamu masih ingin melindunginya. Bodohnya putraku jika masih memikirkan wanita lain selain kamu", puji Mami kepada Kirani.


" Mami berlebihan, semua wanita yang ada di posisi aku pasti akan melakukan hal yang sama. Masih syukur aku yang tetap bertahan disini, harusnya saat Kak Tania sembuh dia bisa kembali dengan suaminya", Kirani masih selalu menyalahkan dirinya.


"Iya memang dulu mereka suami istri, Mami juga kasihan dengan keadaannya. Tapi setelah tahu kelakuannya selama tinggal di rumah ini, Mami merasa yakin kalau dia tidak pantas menjadi istri Aldo lagi. Mami kemaren juga hampir keceplosan saat sedang bicara dengan Aldo, hampir saja Mami kebablasan. Untung Mami ingat kalau kamu bilang jangan sampai ngasih tahu Aldo jika dia tidak mengetahuinya sendiri", Mami berkata sambil terus menggendong cucunya.


"Makasih Mi, Mami mengingat ucapanku", Kirani tersenyum mendengar ucapan mertuanya.


Obrolan mereka terdengar dari luar kamar karena memang pintu kamar sedikit terbuka. Dan ternyata Aldo sedang berdiri di balik pintu, dan diam diam mendengarkan semua percakapan mereka.


Sudah beberapa menit Aldo sudah berdiri di sana tanpa di sadari oleh Kirani dan mertuanya. Sampai akhirnya Aldo meneruskan langkahnya untuk masuk kamar dan mendekati mereka.


"Aldo, kamu sudah datang? ", Mami sedikit kaget dengan kehadiran putranya.


" Iya Mi, Aldo sudah datang dari tadi", jawab Aldo sambil mencium tangan Mami lalu kemudian dia ulurkan tangannya ke istrinya, tak lama kemudian Kirani segera mencium tangan suaminya.


"Aldo mendengar semua Mi, Aldo mendengar percakapan kalian. Kalau boleh Aldo tahu, Aldo ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Terutama sikap Tania yang Aldo tidak ketahui", pertanyaan Aldo membuat Mami dan Kirani saling beradu pandang.


------


(Like, komen and favorit ya)

__ADS_1


__ADS_2