
Kirani masuk ke kamar dengan hati yang gundah. Pikirannya kacau mengingat semua kata kata Stella. Saat dia ingin menghubungi Aldo untuk menceritakan semua yang baru saja dia dengar, tiba tiba ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya.
Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, bagaimana reaksi Aldo saat mengetahui keadaan Tania?
Sebagai sesama perempuan dia juga merasa iba dengan keadaan Tania yang berada dalam posisi seperti apa yang di alaminya dulu. Merasa di sudut kan dan di salahkan, tanpa di beri kesempatan untuk memberi alasan.
Tak lain halnya dengan Aldo, pasti dia juga akan merasa bersalah jika keputusannya menjodohkan Tania dengan Dokter Indra justru membuat Tania terluka.
Jika hal itu benar terjadi, tak menutup kemungkinan Aldo akan membawa Tania kembali ke rumah ini untuk menebus kesalahannya. Dan dalam keadaan seperti itu Kirani tidak akan punya daya untuk sakit hati kepada Tania.
Tak ingin terulang kembali apa yang dulu pernah Kirani alami saat Tania tinggal di rumah Aldo.
Sungguh bingung memikirkannya, sehingga tiba tiba dia terpikirkan akan satu hal.
"Mami, iya benar. Aku harus bicara sama Mami. Mami pasti punya jalan yang bijak untuk masalah ini", Kirani berkata dalam hati.
__ADS_1
Raihan mulai rewel karena mengantuk, dan hal itu membuat Kirani tersadar dari kegelisahannya sejak tadi.
Dia berusaha menidurkan putranya dahulu, agar nanti jika Mami sudah pulang dia bisa berbicara dengan leluasa pada Mami.
Tak menunggu waktu lama Raihan pun tertidur. Kini tinggal menunggu Mami pulang. Kirani sudah tak sabar ingin segera bercerita tentang kejadian siang itu.
Berselang empat puluh lima menit kemudian Mami pun pulang. Kirani sangat senang menyambut kedatangan mertuanya. Bahkan tanpa menunggu Mami ganti baju, Kirani langsung menghampiri Mami dan mengajaknya masuk ke kamarnya untuk membicarakan hal itu.
"Ada apa Kirani? Sepertinya ada hal serius yang ingin kamu bicarakan", tanya Mami dengan sedikit kebingungan.
"Baiklah, cepat katakan hal serius apa yang ingin kamu sampaikan?", sama halnya dengan Kirani, Mami pun tak sabar mendengar cerita dari menantunya.
Akhirnya Kirani bercerita panjang lebar tentang percakapannya dengan Stella tadi siang.Dan tak lupa juga Kirani sampaikan tentang kekhawatirannya jika sampai Aldo mengetahui tentang hal ini.
Mami sangat terkejut dengan berita itu, mereka berdua kemudian sama sama berpikir langkah yang harus mereka ambil untuk memilih solusi terbaik.
__ADS_1
Sejenak Mami berpikir dan mulai menemukan satu celah pemikiran.
"Keluarga.Ya benar.. kita harus menghubungi keluarga Tania. Kita harus mencari tahu keberadaan mereka. Kita beri penjelasan dan semoga mereka bisa menerima Tania kembali", kata Mami.
Mami yakin dengan pemikiran Mami?", Kirani nampak masih belum sepenuhnya yakin dengan pemikiran mertuanya.
"Ya Mami yakin. Dulu Mami memang tidak punya keberanian untuk melakukan langkah ini. Karena Mami takut keluarga Tania akan ikut memperkeruh keadaan jika tahu Tania sudah pulih dan ingin kembali berumah tangga lagi dengan Aldo. Tapi sekarang Mami yakin bahwa sebaik baiknya tempat untuk Tania adalah keluarganya", Beliau berhenti sejenak dengan ucapannya.
Lalu melanjutkan lagi perkataannya,
"Sebenarnya Mami sangat prihatin dengan keadaan Tania, tidak bisa di pungkiri kalau Tania menjadi seperti ini juga karena Mami. Dulu Mami dan Almarhum Papi terlalu keras kepada Aldo, padahal pada saat itu Tania sedang butuh perhatian pasca syok dengan kegugurannya. Tapi yang ada kami malah memberi beban mental padanya sampai dia mengalami gangguan jiwa dan tidak di akui oleh keluarganya lagi", Mami berkata dengan nada lemah dan terdengar ucapannya benar benar keluar dari lubuk hati paling dalam.
"Mami minta maaf nak jika pengakuan Mami membuat kamu tidak nyaman, tapi Mami tidak pernah menyalahkan kehadiran kamu dalam hidup Aldo. Kita semua bertemu atas kehendak Tuhan. Hanya saja saat ini Mami ingin menebus kesalahan Mami kepada Tania. Yaitu dengan membawa lagi Tania kepada keluarganya", kata Mami kepada Kirani sambil menitikkan air mata.
Melihat hal itu Kirani juga tak mampu menahan air matanya, dia lalu memeluk erat mertuanya.
__ADS_1