Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Menemukan cara


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, namun Mami dan Kirani belum juga tidur. Begitu juga dengan Aldo, dia masih berusaha mengambil langkah yang terbaik untuk keharmonisan keluarganya. Dia pun menyadari bahwa beberapa hari ini sering marah marah kepada istrinya.Walaupun dia berdalih karena merasa kecewa, namun tidak seharusnya juga dia bersikap seperti itu. Tapi benarkah apa yang dikatakan Mami bahwa semua ini terjadi semenjak hadirnya Tania?


Sementara yang sedang berada di kamar lain juga masih tetap terjaga dengan berteman kekesalan dalam hatinya, Tania kembali memutar otak untuk mengatur rencananya kembali.


Malam telah berlalu, dan pagi mulai menyapa.


Mami nampak telah duduk di meja makan dan kemudian di susul oleh Aldo. Selama menikmati sarapan mereka sama sama terdiam tanpa percakapan.


Mami merasa kecewa dengan sikap putranya, sementara Aldo juga merasa bersalah dengan sikapnya tadi malam. Namun Aldo sengaja lebih dahulu mengajak bicara Mami , biar bagaimanapun Aldo harus tetap menghormati Maminya.


"Mi, Aldo minta maaf atas sikap Aldo tadi malam. Aldo lepas kendali karena panik melihat Raihan yang terus menangis", Aldo berkata dengan sopan kepada Maminya.


" Bukan hanya pada Mami, kamu juga harus minta maaf pada istrimu. Mami nggak menyangka kamu bisa bersikap seperti itu, selama Mami menikah dengan almarhum Papi tidak pernah Papimu membentak Mami. Jika ada masalah kami selesaikan bersama, dan jika belum menemukan jalan kami hanya saling diam. Bukan melampiaskan emosi dengan berkata kasar", kata Mami dengan memberikan teguran untuk putranya.


Aldo terdiam memikirkan kata kata Mami, dan berniat untuk meminta maaf pada Kirani.


"Nanti malam biarkan istriku kembali ke kamarnya, aku ingin minta maaf kepadanya", Aldo berkata dengan raut wajah penyesalan.


Pagi itu Tania tidak nampak beraktifitas di dapur, dia masih di dalam kamar. Saat Bi Ningsih memeriksa kamarnya, Tania berkata bahwa kepalanya sedikit pusing karena tadi malam kurang tidur. Bi Ningsih pun membiarkannya istirahat.


Raihan sudah selesai mandi dan kini dia sedang di gendong oleh omahnya. Semenjak kelahiran Raihan kesehatan Mami semakin membaik dari sebelumnya.


"Sayang cucunya omah, jangan suka nangis ya kalau malam. Kasian Mommy sama Dady kamu", Mami terlihat sedang menciumi kedua pipi Raihan.


" Mi, aku mau bicara tentang tadi malam",


"Katakan apa rencanamu?" Mami mendengarkan semua ucapan menantunya agar bisa menjadi ibu sekaligus teman untuk Kirani.

__ADS_1


" Aku sebenarnya kasihan melihat kak Tania, sebenarnya dia tidak sepenuhnya salah", Kirani menghentikan ucapannya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? bukankah sudah jelas jika dia punya niat buruk sama kamu? dan bahkan bukan hanya niat buruk tapi dia sudah tunjukkan sikap sikap buruknya", jawab Mami yang belum mengerti dengan maksud perkataan Kirani.


"Kak Tania memang salah dalam mengambil sikap, tapi sebenarnya itu hanya sekedar usahanya untuk mengambil sesuatu yang dia rasa adalah haknya yaitu suaminya. Kak Tania terlalu cinta kepada Aldo, dan dia takut akan dua hal. Takut kehilangan dan takut mencintai yang lain dengan keadaannya yang seperti sekarang. Tanpa keluarga, menjadi bekas pasien Rumah Sakit Jiwa dan menjadi wanita yang tidak bisa mengandung lagi karena rahimnya sudah di angkat,


Bukankah penderitaannya sudah terlalu banyak Mi? Aku tidak tega menambah penderitaan lagi padanya jika harus membalas keburukannya dengan sesuatu yang buruk juga. Bukankah kita akan menjadi sama buruknya jika membalas suatu keburukan dengan keburukan juga? ", ucapan Kirani membuat Mami kagum pada sudut pandang pikirannya.


"Kamu hebat nak, dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa mengambil pemikiran yang bijak. Aldo benar benar beruntung mempunyai istri seperti kamu", Mami memuji muji menantunya.


" Ini semua berkat putra Mami yang telah mengajarkanku banyak hal tentang cara berpikir. Dan aku yakin saat ini suamiku juga akan memilih jalan yang bijak untuk menghadapi masalah ini", jawab Kirani yang selalu percaya akan kebijakkan suaminya.


"Baiklah nak, kalau seperti itu penilaianmu kepada Tania, lalu apa rencana kamu selanjutnya? ", Mami nampak hanya mengikuti apa yang menjadi keputusan menantunya.


" Kita harus memberinya kebahagiaan Mi, agar dia tidak terkubur dalam dendam dan sakit hati", ucapan Kirani kurang di mengerti oleh Mami.


" Jodoh, itu yang akan memberinya kebahagiaan. Bukan uang, harta atau jabatan melainkan seseorang yang akan mencintainya dan menerima semua kekurangannya. Jika dia bisa mendapatkannya pasti dia akan bahagia dan mengubur semua dendam dan sakit hatinya", jawaban Kirani membuat Mami makin terkejut.


"Jodoh? Dimana kita bisa mencari jodoh untuk Tania? ",


" Tuhan pasti sudah menentukan jodoh untuk setiap umatnya, tinggal kita yang harus berusaha menemukannya", Kirani begitu yakin bahwa Tania akan kembali menemukan tambatan hati.


Belum sempat selesai mereka bercakap cakap, terdengar pintu di ketuk, Mami pun lekas membukanya.


"Ada apa Bi? ",


" Non Tania sakit , badannya panas sekali",

__ADS_1


Mami hendak melihat keadaan Tania, biar bagaimanapun Tania masih menjadi tanggung jawabnya selagi masih tinggal di rumahnya.


Kirani memaksakan diri untuk ikut melihat keadaan Tania, akhirnya dia menuju kamar Tania bersama Mami. Sementara Bi Ningsih di minta untuk menjaga Raihan.


Setelah tiba di kamar Tania mereka melihat jika Tania memang sedang tidak baik baik saja. Suhu badannya panas dan tubuhnya lemah. Akhirnya Mami pun segera menelpon Dokter Indra untuk datang dan memeriksa Tania.


Tak lama kemudian Dokter Indra datang, dia segera menuju kamar Tania dan memeriksa keadaannya. Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya Dokter Indra memberi resep untuk Tania.


"Apa dia baik baik saja Dok? ", tanya Mami.


" Iya, dia hanya kelelahan dan sedikit stress. Saya juga sudah memberinya resep obat untuk penurun panas", Dokter Indra memberi penjelasan kepada Mami sambil masih menatap Tania. Kemudian dia memberi satu pertanyaan lagi untuk Mami,


"Sepertinya kurang bagus untuk dia jika tetap tinggal disini, mengingat dia pernah menjadi istri Tuan Aldo. Apa tidak sebaiknya dia pulang kepada keluarganya? ",


Mendengar pertanyaan Dokter Indra, Mami langsung mengajak beliau keluar dari kamar Tania dan segera memberikan jawaban tentang keadaan Tania yang sebenarnya.


Dokter Indra yang mendengar kisah Tania merasa tersentuh hatinya dan sedikit bersimpati.


" Jika sewaktu waktu dia sehat , saya bisa menerimanya bekerja di klinik pribadi saya. Saya akan memberinya pekerjaan", Dokter Indra berkata sambil berjalan keluar rumah.


"Mi apakah Dokter Indra sudah beristri? " tanya Kirani.


"Dulu pernah , tapi sekarang mereka berpisah.Dokter Indra hidup bersama satu orang putranya yang berumur lima tahun", jawab Mami .


" Aku sudah menemukan cara Mi, kita biarkan Dokter Indra sering kesini dan memeriksa Tania. Dan setelah itu kita bisa membuat mereka lebih dekat".Mami lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum dan mengerti apa maksud Kirani.


 

__ADS_1


(Happy reading😇)


__ADS_2