
"Terima kasih sayang, bukan Mommy yang mengajarimu, tapi Mommy yang belajar dari kamu", kata Kirani kepada putranya.
"Tuhan, aku tidak bisa merubah kehendak Mu. Yang ku pinta hanya kuatkan lah hatiku", Kirani berdoa dalam hati.
Terdengar pintu di ketuk, Kirani menoleh. Dia lupa kalau pintunya dari tadi masih terkunci karena ada Raihan di kamar.
Kirani tahu kalau yang datang pasti Aldo, karena beberapa menit lalu Aldo bilang kalau sedang dalam perjalanan pulang.
Aldo masuk ketika pintu telah terbuka. Dia belum berani banyak bicara kepada Kirani. Dia tahu istrinya pasti masih belum nyaman dengan kejadian tadi bersama Tania.
Kirani juga tidak mengucap sepatah kata pun kepada Aldo, karena dia sedang sibuk dengan putranya yang dari tadi minta ini minta itu.
Pintu kembali di ketuk, Bi Ningsih datang membawa makanan untuk Raihan.
Raihan segera menghampirinya setelah tahu makanan kesukaan yang ada di tangan Bi Ningsih. Setelah itu Bi Ningsih membawa Raihan keluar untuk di suapi.
Kini tinggal ada Aldo dan Kirani di dalam kamar. Aldo mulai membuka suara, "Kamu sudah makan?"
__ADS_1
"Belum", jawab Kirani.
Aldo tiba tiba memeluk istrinya dari belakang sambil berkata, "Kamu pasti masih sakit hati dengan kejadian tadi. Aku minta maaf, aku tidak berniat menyakitimu".
Kirani melepaskan pelukan Aldo lalu menjawabnya, "Semua sudah terjadi, tidak perlu di ungkit lagi. Aku baik baik aja kok".
"Tidak , kamu tidak baik baik saja", kata Aldo.
"Beneran, aku baik baik saja", jawab Kirani lagi.
"Tapi aku lihat tadi kamu menangis, kamu pasti bersedih", Aldo kembali bersuara.
Aldo sempat tercengang dengan ucapan istrinya, mulutnya seperti membisu terkena sihir dari kalimat yang di ucapkan Kirani.
"Kenapa kamu malah melihatku seperti itu?", tanya Kirani.
"Ti.. tidak.. tidak apa apa.. aku hanya kagum dengan jawabanmu. Aku mengerti maksud ucapan mu. Kamu hebat, hatimu sungguh mulia. Sekarang aku yang perlu banyak belajar sama kamu", jawab Aldo.
__ADS_1
Kirani tersenyum lalu berkata, "Kamu nggak perlu belajar sama aku, aku sendiri juga masih perlu banyak belajar. Dan aku belajar dari Raihan".
"Raihan?", Aldo keheranan.
"Iya ... Raihan... dia sudah memberiku banyak pelajaran tentang kesabaran dan berbesar hati untuk memaafkan", Kirani kemudian menceritakan kejadian siang itu ketika dia tadi memarahi Raihan.
"Aku sungguh beruntung memiliki kalian, aku berjanji ... ", kalimat Aldo di hentikan oleh Kirani.
"Jangan .. jangan ucapkan janji apapun kepadaku, janji itu akan membebani mu .. dan janji itu akan mengikatmu, bahkan akan mencelakakan mu jika tidak di tepati", kata Kirani.
"Lalu apa yang harus aku katakan untuk menunjukkan kesungguhan perasaanku kepadamu?", tanya Aldo kepada istrinya.
"Bukti.. cukup dengan bukti, bukan janji...", jawaban Kirani kali ini kembali menyihir lidah Aldo untuk membisu.
Seusai bercakap cakap , Aldo ingin mengajak Kirani dan baby R pergi keluar untuk makan malam bersama sebagai rasa bahagia nya dia memiliki keluarga yang berhati mulia. Kirani mengiyakan saja ajakan Aldo.
Kini cara berpikir Kirani berbeda dengan Kirani yang dulu. Tidak lagi lemah, tapi bukan berarti juga ikut menindas dan membalas dengan kekerasan. Cukup dia fokus untuk menguatkan diri sendiri dan mampu berpikir dari banyak sisi, bukan dari satu sisi saja.
__ADS_1
Kirani tidak perlu membalas tindakan Aldo dengan kemarahan. Walaupun kenyataannya tindakan Aldo sudah menyakitinya, tapi dia tidak akan memperkeruh keadaan dengan pertengkaran. Karena hal tersebut pasti akan membuat hatinya semakin tidak nyaman.