
Tinggal Aldo dan Maminya yang belum pulang, mereka masih terlihat asyik bercengkerama dengan keluarga Kirani.
"Boleh aku menginap lagi satu malam disini? aku masih rindu sama keluargaku", tanya Kirani kepada Aldo.
" Tentu boleh, kamu menginap saja dulu disini lusa aku akan menjemputmu. Aku beri kamu cuti dua hari", Aldo mengabulkan permintaan Kirani.
Tentu saja Kirani sangat senang mendengarnya, karena dia tidak akan menginap satu malam saja tapi malah dua malam lagi dia masih bisa bersama kedua orang tuanya.
Ketika mereka hendak berpamitan, Papa Kirani berpesan supaya segera menentukan tanggal pernikahan. Keluarga Kirani siap kapan saja keluarga Aldo akan mengadakan ijab qobul pada putrinya.
Semua tamu telah benar benar pulang termasuk juga Aldo dan Maminya, kini yang tersisa tinggal dua sahabat Kirani yaitu Kayla dan Nella. Mereka tak henti henti saling bertukar cerita hangat melepas rindu, bahkan rencananya Kirani menyuruh mereka menginap saja supaya kebersamaan mereka yang langka ini tidak cepat berlalu.
"Lusa aku sudah harus kembali, apa kalian tidak ingin menginap disini? ", tanya Kirani.
" Iya iya, aku pasti tidur disini. Tapi besok pagi pagi aku harus pulang untuk berangkat kerja", jawab Kayla.
"Kalau kamu gimana Nella? ", Kirani ganti bertanya kepada Nella.
" Aku sebenernya pengen banget ikutan nginep tapi aku nggak bisa soalnya malam ini aku juga ada acara keluarga, tapi besok sore sepulang kerja aku pasti main lagi ke sini" Jawab Nella yang agak kecewa karena nggak bisa ikutan ngerumpi semalaman.
"Ya udah deh nggak apa apa", Kirani mengakhiri percakapannya dan hendak pergi mandi untuk ganti pakaian.
Kayla pun juga bersiap untuk mandi, dia memakai pakaian Kirani karena dia tidak membawa baju ganti.
" Kamu itu beruntung Kirani", Kayla memulai obrolannya dengan sambil menikmati teh di teras depan kamar Kirani.
"Kenapa kamu bilang begitu? ", Kirani masih belum mengerti.
" Jelaslah kamu beruntung, kamu bisa mendapat jodoh yang ganteng , mapan dan semua keluarganya sayang sama kamu", jelas Kayla.
Kirani tersenyum, namun setelah itu senyumnya pudar dan kemudian dia menundukkan kepalanya.
"Kenapa? ", tanya Kayla lagi.
" Nggak apa apa", Kirani menjawab dengan senyuman.
"Nggak mungkin", Kayla tak percaya.
Kirani tersenyum lagi kemudian menghirup nafas panjang.
"Tania", Kirani menyebut satu nama yang kemudian membuat sahabatnya Kayla lekas mengerti apa maksudnya.
Kirani sering mencurahkan semua permasalahannya kepada Kayla, hingga tak menjadi hal yang susah bagi Kayla untuk mencerna maksud dari satu nama tersebut.
" Sudahlah, seperti apa yang dikatakan Aldo. Ini semua takdir Tuhan, bukan kamu yang meminta dan bukan kamu yang merebutnya. Jika Aldo tahu ada sedikit saja keraguan dalam hati kamu, pasti dia akan kecewa.
Karena bukan hal mudah pula baginya mengambil keputusan ini, jadi tolong hargailah kesungguhannya", Kayla mencoba tetap menyemangati sahabatnya.
__ADS_1
Kirani mengangguk dan tersenyum, kemudian akhirnya ganti Kayla yang bertukar cerita tentang kehidupannya selama Kirani jauh darinya.
Suara ponsel berdering, Kriiiing.. kriiiing..
"Halo... "
"Halo tunangan ku, calon istriku",
Kirani tersenyum sendiri mendengar panggilan Aldo di telepon.
" Udah jangan senyum sendiri nanti kamu malah jadi pengen aku jemput malam ini",
Aldo seakan tahu kalau Kirani sedang tersenyum sendiri mendengar panggilannya tadi.
"Siapa yang tersenyum? aku nggak tersenyum sendiri kok",
Kirani tidak mengakui senyumnya karena malu.
" Oh ternyata kamu nggak lagi tersenyum, terus kenapa itu pipinya kok merah? "
Kirani refleks langsung memegangi pipinya.
"Tuh kan malah sekarang di tutupi pipinya"
Aldo malah semakin menggoda Kirani. Seakan akan tahu semua gerakan Kirani.
"Kamu dimana, kok kamu bisa lihat aku? ",
" Aku tahu apapun yang kamu rasakan, karena aku selalu di hatimu dan kamu selalu di hatiku",
Kirani semakin tersenyum lebar dan memejamkan matanya.
"Ih sukanya gombal",
" Siapa yang gombal, kamu memang selalu di hatiku tapi kira kira aku selalu di hatimu apa nggak ya kira kira? ",
" Ya tentu lah", lagi lagi Kirani refleks kemudian menutupi mulut dengan ke lima jarinya.
Aldo yang mendengarnya langsung tertawa, sementara Kirani malah semakin tersipu malu.
Dan percakapan mereka terhenti setelah hampir pukul 01.00 dini hari.
Keesokkan harinya Kayla pamit untuk pergi bekerja dan mengatakan kalau pulang kerja nanti sore akan kembali main bersama Nella.
Sementara Aldo berangkat kerja di antar sang supir, jika Kirani tinggal di rumahnya Aldo lebih suka menyetir sendiri karena ingin berdua saja di dalam mobil bersama Kirani.
Hari sudah gelap, ini malam kedua Kirani tinggal di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Aldo sedang makan malam bersama Maminya.
"Aldo, Mami sudah menentukan tanggal pernikahan kamu", Mami mulai berbicara.
" Oh iya, kapan Mi", tanya Aldo penasaran.
"Selepas seratus hari meninggalnya Papi, kurang lebih dua bulan lagi", Mami Aldo menjawab pertanyaan putranya.
" Baiklah Mi Aldo setuju, rencananya dimana acaranya akan di adakan Mi? Apa kita perlu sewa gedung? ", Aldo kembali bertanya.
" Nggak perlu sayang, kita adakan acaranya di rumah ini saja. Minggu depan kita harus mulai menyiapkan semuanya.Dekorasi, konsumsi, tata rias, gaun, undangan dan lain sebagainya harus kita urus jauh jauh hari biar semua lancar", Aldo hanya mengangguk mendengar semua penjelasan Maminya.
Kriing.. kriing..
Ponsel Kirani berdering dan dia sudah tahu panggilan dari siapa yang datang.
"Halo calon suamiku, ada apa? ",
Kini Kirani yang memulainya duluan.
" Aku lagi kangen sama calon istriku, aku sudah tak sabar lagi jika harus menunggu selama dua bulan"
"Dua bulan?kenapa dua bulan? bukankah besok kamu akan menjemput ku? "
"Iya sayang, besok aku akan menjemputmu tapi harus menunggu dua bulan lagi supaya kamu halal untukku"
"Maksud kamu apa kita akan menikah dua bulan lagi? ",
" Iya sayang, Mami sudah menentukan hari. Selepas seratus hari meninggalnya Papi, kurang lebih dua bulan lagi",
Kirani tersenyum mendengar semua itu.
"Aku akan beritahu Mama dan Papaku",
" Keluarga kamu nggak perlu repot repot sayang, karena acaranya akan di adakan di sini atas kemauan Mami",
"Baiklah, Mama dan Papa akan ku beri tahu",
Percakapan mereka membahas seputar rencana rencana pernikahan. Hingga tak terasa malam sudah semakin larut.
Keesokkan harinya Aldo datang menjemput Kirani, dia tak sabar ingin bertemu calon istrinya setelah dua hari tak bertemu.
Sesampainya di rumah Kirani Aldo ngobrol dengan calon mertuanya dan tak lain tentunya membahas tentang acara pernikahan yang akan di adakan di rumah Aldo.
Satu jam bercakap cakap, akhirnya Aldo dan Kirani berpamitan untuk segera pulang sambil mencium tangan kedua orang tua Kirani secara bergantian.
Detik berikutnya mobil mereka sudah melaju untuk kembali ke rumah Aldo dengan diiringi sedikit rintikan air yang turun dari langit.
__ADS_1
---
(buat para pembaca terimakasih dan ikuti terus episodenya yaa😇😇)