
Seperti pada usia kehamilan muda pada umumnya, Kirani mengalami mual dan muntah di pagi hari.
Aldo yang melihat hal itu sangat kasihan kepada istrinya, apalagi beberapa hari ini Kirani kurang bisa mengkonsumsi makanan. Karena hampir setiap makanan yang dia makan pasti akan dia muntah kan.
Hingga akhirnya Kirani hanya mampu mengkonsumsi buah buahan. Aldo memberikan apa saja yang di inginkan Kirani meski kadang ibu hamil itu meminta sesuatu yang nyleneh.
Seperti halnya pagi ini.Di usia kandungan yang sudah menginjak bulan ketiga, tiba tiba Kirani meminta bulan madu di suatu tempat yang indah.
(Ah neng Kirani nih gimana sih? lagi bunting kok minta bulan madu🤭😁😁)
Mendengar hal itu Aldo sedikit mengerutkan kening, biasanya yang diminta bumil ini hanya seputar makanan, buah buahan atau minuman yang memang kadang mintanya di waktu tengah malam atau kadang di pagi buta saat penjualnya saja belum buka. Alhasil sang suami sering di buat menunggu di depan ruko penjual makanan sampai ruko terbuka.
Sementara permintaan sang istri saat ini adalah ingin bulan madu selama satu minggu, dan hal itu membuat Aldo harus cuti dari kerja. Padahal saat ini ada banyak klien penting yang harus di temui dalam minggu ini. Tapi dia tak berdaya menghadapi permintaan istrinya.
"Gimana sayang, kapan kita berangkat? ", Kirani nampak merengek kepada suaminya dengan memeluknya manja.
Semenjak hamil Kirani memang sedikit lebih manja, bahkan tak jarang dia minta makan dengan di suapi oleh suaminya.
Aldo teringat saat dulu dia kehilangan calon putra nya di dalam rahim Tania saat dia tidak bisa mendampingi Tania waktu ngidam.Dan hal itu membuat Aldo takut jika akan terjadi lagi pada kehamilan Kirani.
"Baiklah sayang, kamu ingin bulan madu kemana? ", Aldo berkata sambil mengelus rambut istrinya.
" Kemana aja terserah kamu, yang penting tempatnya indah dan hanya ada kita berdua", jawab Kirani seperti anak kecil yang sedang merengek minta mainan.
Dan akhirnya mereka berpamitan kepada Mami.
Mami hanya bisa mengiyakan serta mendoakan keselamatan untuk mereka bertiga.
Setibanya di tempat yang diminta oleh Kirani mereka langsung memasuki kamar tidur. Di depan kamar ada kolam renang biru yang luas dengan di suguhi pemandangan alam hijau nan indah dan segar.
Kirani terlihat sangat bahagia, tak hentinya dia mengucap terima kasih dengan memeluk erat tubuh suaminya dengan berkali kali memberikan ciuman di bibirnya.
__ADS_1
Kirani terlihat begitu agresif, dan hal itu membuat Aldo semakin tergoda.
Siang itu berlalu penuh cinta, panas terik matahari tak jadi penghalang kemesraan mereka. Hingga suasana panas di kamar pasangan bulan madu itu mengalahkan panasnya terik di luar sana.
Hari demi hari mereka lalui hanya dengan bercinta dan bercinta, sampai tiba di hari ke tujuh dan mereka harus kembali pulang.
Sesampainya di rumah, Mami sudah menyambut kedatangan mereka. Aldo dan istrinya mencium tangan beliau bergantian.
Keesokkan harinya Aldo berangkat kerja seperti biasa, sementara Kirani sudah terlihat lebih fresh dan jarang mual dan muntah hingga sekarang dia sudah mampu untuk melakukan aktifitas.
Menginjak usia kehamilan keempat Kirani terlihat aktif, bahkan dia sering sengaja memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan dan makan malam untuk suaminya.
Meski mertua dan suaminya sudah melarang Kirani untuk tidak terlalu kecapekan, namun Kirani masih tetap saja memasak dengan hati hati. Tak bisa di pungkiri memang dia punya keahlian dalam hal dapur. Masakannya di sukai mertua dan suaminya karena memang rasanya lezat.
"Sayang, kamu nggak perlu capek capek masak untuk aku. Kan ada Bi Ningsih? ", Aldo berkata sambil membelai rambut istrinya.
" Nggak apa apa sayang, aku nggak capek kok. Lagian jenuh banget sayang kalau cuma makan dan tiduran. Yang ada aku malah bisa stress", jawab Kirani dengan bibir manyun.
Perut Kirani sudah semakin membesar, Aldo semakin memanjakan istrinya. Tak jarang orang tua Kirani juga sering berkunjung ke rumah Aldo. Mereka melarang Kirani pulang, karena mereka lebih memilih datang untuk menemui Kirani.
Bayi dalam kandungan Kirani adalah cucu pertama bagi orang tua Aldo dan juga orang tuanya, jadi tak heran jika semua keluarga begitu memanjakannya.
Hari itu Aldo dan Kirani memeriksakan kandungan dan melakukan USG. Dari hasil USG di ketahui jika kemungkinan besar bayi Aldo adalah laki laki. Aldo semakin berlipat bahagia karena selama ini dia memang mendambakan putra laki laki.
Malam yang cerah penuh bintang memanjakan dua pasang mata yang sedang duduk berdampingan dengan kemesraan.
"Sayang kata Dokter kemungkinan besar anak kita laki laki, nanti kalau dia sudah lahir aku akan menghamili mu lagi", Aldo berkata sambil menggoda istrinya.
" Hamilnya ntar lagi kalau si kakak sudah gede dong sayang", jawab Kirani manja. Dulu jika Aldo menggodanya Kirani langsung mencubit pinggang suami, tapi sekarang Kirani malah terlihat suka jika sedang digoda.
"Nggak perlu nunggu besar, kalau perlu sekarang langsung aku tambah biar bisa lahir kembar lima", jawab Aldo yang membuat mata istrinya sedikit melotot.
__ADS_1
" Memang kamu pengen punya anak berapa? ", tanya Kirani.
" Aku pengen punya anak yang banyak, biar rumah ini rame", Aldo sedang membayangkan rumahnya di penuhi makhluk makhluk kecil keturunannya.
Kirani yang mendengar itu hanya tersenyum, hatinya begitu bahagia dan bersyukur karena akan ada nyawa baru sebagai pengikat tali cinta dia dan suaminya.
Namun di balik kebahagiaan yang mereka rasakan, ada kabar baru juga yang datang dari tempat lain.
"Suamiku",
Satu kata yang terlontar dari mulut Tania setelah hampir dua tahun dia mengalami gangguan jiwa.
Dokter yang mendengar satu perubahan tersebut berniat untuk memberi informasi kepada Aldo.
Dan benar saja siang itu Aldo mendapat informasi dari Rumah Sakit Jiwa kalau Tania sudah mulai mengingat tentang suaminya.
Bersyukur tentunya yang dirasakan di hati Aldo, tapi kini ada Kirani yang sedang berbadan dua.
Aldo tidak ingin Kirani tahu tentang perubahan yang di alami oleh Tania. Aldo khawatir akan kesehatan kehamilan istrinya.
Hingga akhirnya siang ini setelah jam istirahat Aldo memutuskan untuk mengunjungi Tania di Rumah Sakit Jiwa.
Dia terpaksa meninggalkan pekerjaan karena dia tak mungkin mengunjungi Tania di sore hari setelah pulang kerja, karena hal itu pasti akan di ketahui oleh Mami dan istrinya.
Sesampainya di Rumah Sakit Jiwa Aldo perlahan memasuki ruangan Tania.
Dan benar saja sesekali memang Tania sering memanggil "Suamiku", walaupun pandangan matanya masih sangat kosong. Jujur saja hal itu membuat Aldo pilu sekaligus risau.
kasih koment ya..
__ADS_1