
Tujuh hari sudah Indra telah tiada. Semua keluarga , kerabat dan para tetangga kembali berkumpul untuk melakukan doa bersama.
Malam itu Aldo juga datang bersama Kirani. Acara di mulai pukul 19.00 malam dan selesai pada pukul 20.00 WIB.
Seusai acara Aldo segera berpamitan seperti yang lainnya, dia tidak ingin lama lama di sana agar tidak terjadi lagi kejadian yang tidak di inginkan.
Saat Aldo hendak berjalan keluar , bunda Tania memanggilnya. "Aldo, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu".
Aldo dan Kirani menghentikan langkahnya.
Bunda Tania melanjutkan kalimatnya,
__ADS_1
"Kamu yang harus bertanggung jawab pada keselamatan Tania, dia tidak mau di ajak ikut kembali bersama kami dan lebih memilih tinggal di sini".
"Apa maksud anda menyerahkan keselamatan Tania kepada saya?", tanya Aldo balik.
"Jelaslah, Tania menganggap jika tanpa kamu dia tidak akan bisa melahirkan Davina. Dan sekarang Indra sudah tiada, jadi kamu yang harus ikut bertanggung jawab atas Davina", jawab bunda Tania yang di anggap begitu konyol bagi Aldo dan Kirani.
"Tunggu .. tunggu... ini apa maksudnya kalau Tania menganggap tanpa saya dia tidak bisa melahirkan Davina? Davina putri kandung almarhum Dokter Indra. Beliau papanya, bukan saya", Aldo mengutarakan pendapatnya.
"Iya betul ...memang almarhum Indra adalah papa kandung Davina, tapi bagi Tania kamu tetap di anggap ikut serta dalam kehamilannya karena kamu yang membiayai donor rahim tersebut. Kalau saja waktu itu kamu tidak membiayai, mungkin sekarang Tania tetap tidak memiliki rahim dan tidak bisa melahirkan Davina. Karena waktu itu Indra enggan meminta bantuan ku, walaupun sebenarnya aku mampu membiayainya tanpa harus kamu bantu!", ucapan bunda Tania sudah tidak terkontrol. Nadanya seakan meluapkan emosi yang di lampiaskan kepada Aldo.
"Oh begitu ya... jadi kamu nggak mau bertanggung jawab atas Tania dan Davina.. ?Dasar laki laki macam apa kamu? Habis manis sepah di buang, itu yang kamu lakukan pada putriku?", bunda Tania terlihat marah dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Maaf menyela, sebenarnya ini bukan perkara yang rumit. Jika anda bilang sebenarnya anda mampu membiayai operasi donor rahim putri anda , namun dulu almarhum Dokter Indra enggan meminta bantuan kepada anda... Ya sudah ,sekarang saja waktunya anda membiayanya. Anggap saja putri anda berhutang kepada kami, lalu anda yang membayarnya .. setelah itu sudah tidak ada lagi perkara yang mengikat tanggung jawab kepada suamiku", Kirani ikut angkat suara.
"Betul, saya setuju. Tidak sepantasnya Tania membebankan tanggung jawab kepada Tuan Aldo karena Davina bukan putrinya. Atau jika Tania keberatan mengasuhnya, biar kami saja yang merawat" , tanpa sengaja pembicaraan mereka di dengar oleh paman almarhum Indra yang juga kurang suka dengan jalan pikiran Tania dan orang tuanya.
Di lain sisi ternyata Tania pun ikut mendengar semua percakapan tersebut, dan tiba tiba dia menangis sehingga mengundang perhatian mereka semua.
"Tania... sayang... kamu kenapa nak?", tanya bunda Tania kepada putrinya.
"Lihat... kalian lihat bagaimana tekanan batin dan mental putri saya.. jika dia tetap ingin tinggal di sini, lalu kepada siapa saya membebankan tanggung jawab atas keselamatannya jika bukan kepada Aldo?", nada suara bunda Tania semakin meninggi yang di tujukan kepada Aldo, Kirani dan paman almarhum Dokter Indra.
"Bukan kami yang menyebabkan tekanan mental dan batin putri anda, tapi Tuhan yang menghendaki. Sepatutnya jika seorang istri rapuh hidupnya karena kehilangan suami, tapi jangan tambah beban hati dan jiwa dengan mencari beban baru. Memperumit keadaan dengan melempar tanggung jawab kepada orang lain. Lalui saja semua pada alurnya, Tuhan tidak salah menentukan takdir umatnya", tiba tiba Kirani begitu berani membela diri dan suaminya.
__ADS_1
"Betul apa kata istriku, anda dan Tania sendiri yang membuat beban mental Tania semakin berat. Kita tidak bisa semaunya sendiri, Tuhan yang punya jalan cerita", tegas Aldo.
(Di bikin sedikit tegang ya guys dengan pertengkaran mereka... biar makin seru... Jangan lupa juga kasih like komen and favoritnya👍♥️😇)