Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Tetap tenang


__ADS_3

"Dan juga sudah saya bilang, jika kalian merasa terbebani untuk merawat Davina, biar kami saja yang merawatnya. Kalian tidak perlu membebankan tanggung jawab itu kepada Tuan Aldo karena kami adalah keluarga almarhum Indra. Jadi Davina juga cucu kami. Seharusnya kalian berterima kasih kepada Tuan Aldo, karena beliau telah membiayai operasi tersebut dan istri beliau juga telah menjadi ibu susu Davina selama Tania di rumah sakit", paman almarhum Dokter Indra juga sangat tegas dalam ucapannya.


"Sudah .. cukup.. hei kamu Kirani.. jangan bawa bawa nama Tuhan, karena nasibmu masih baik. Nasibmu tak seburuk diriku, kamu tidak perlu mengajariku. Dan anda paman, anda juga tidak tahu tentang masa laluku. Aldo menikah dengan wanita ini saat aku masih di rumah sakit jiwa , dan aku menjadi gila juga karena dia seorang Tuan Aldo yang begitu anda bela. Rahimku di angkat juga karena dia , Tuan Aldo yang anda hormati. Lalu ketika saya sudah menikah dengan keponakan anda, dia (Aldo) kembali ke kehidupan saya dengan membiayai donor rahim agar saya bisa hamil. Dan setelah Davina lahir, Tuhan mengambil suamiku. Lalu apa aku salah jika menganggap Aldo yang harus ikut bertanggung jawab? Dimana letak keadilan untukku? Tuhan pun juga sangat tidak adil kepadaku?", sambil menangis Tania berkata dengan suara tinggi yang di tujukan kepada Kirani dan paman almarhum suaminya. Semua kerabat yang masih di dalam rumah ikut keluar menyaksikan kejadian tersebut.


"Dan anda Tuan Aldo, cukup beruntung hidup anda. Anda bisa dengan mudah membayar rahimku dengan dua ratus lima puluh juta, tapi anda tidak bisa memulihkan hidupku yang sekarang hancur", kini ucapan Tania mengarah kepada Aldo.


"Maaf Nyonya Tania yang terhormat, dengan atau tanpa di biayai oleh suamiku, jika Tuhan sudah menghendaki kelahiran Davina maka akan ada banyak jalan yang di berikan. Dan kebetulan saja jalan itu lewat perantara suamiku. Anda boleh tidak percaya kepada ucapan ku, tapi jangan sampai anda tidak percaya kepada kehendak Tuhan. Dengan ketidak percayaan itulah yang membuat hidup anda semakin hancur", lagi lagi Kirani memberikan jawaban yang mematikan. Namun reaksi sikapnya masih tetap tenang. Hal itu benar benar membuat Aldo semakin kagum kepada istrinya.

__ADS_1


"Kamu...", bunda Tania ingin membalas ucapan Kirani, namun di dahului lagi oleh Kirani.


"Dan jika anda masih menganggap hidup anda tidak seberuntung saya , dan nasib anda lebih buruk dari pada saya.. itu bukan ketidak adilan Tuhan.. itu masalah anda sendiri, itu jalan pikiran anda sendiri.. jika anda tahu, anda lah yang lebih beruntung dari pada saya karena anda memiliki suami sekaligus mantan suami yang masih sangat peduli akan kebahagiaan anda. Pernah kah anda berpikir seperti itu? mungkin tidak pernah, karena anda tidak tahu dan hanya Tuhan yang tahu. Dan untuk anda bunda Tania yang terhormat, kemana perginya anda saat dulu putri anda membutuhkan anda? Seharusnya anda tetap mendampinginya seperti sekarang", ucapan Kirani seakan menyihir seluruh nyawa yang ada di tempat itu. Semua membisu dan mematung. Termasuk kerabat almarhum Indra yang awalnya tidak tahu menahu masa lalu mereka, kini semua menjadi faham akan jalan ceritanya karena ikut menyaksikan kejadian tersebut.


Merasa telah di permalukan, bunda Tania mengajak putrinya masuk ke kamar. Sementara paman almarhum Dokter Indra mengucapkan banyak terima kasih kepada Aldo sekaligus meminta maaf atas sikap Tania dan bundanya.


Selama di perjalanan, Aldo tiada henti hentinya memuji istrinya sambil menggenggam erat tangannya.

__ADS_1


"Kamu hebat sayang, aku minta maaf sebagai suami aku kurang tegas. Aku selalu lemah jika berhadapan dengan keluhan Tania", kata Aldo kepada istrinya.


"Iya sayang, entah sudah berapa puluh kali kamu mengatakan aku hebat. Aku jadi seperti ini juga karena kamu", jawab Kirani.


"Aku? Aku yang membuat kamu menjadi hebat seperti ini? Tidak, aku tidak melakukan apa apa. Justru aku sering membuat hatimu terluka", jawab Aldo dengan wajah yang lesu penuh penyesalan mengingat sikapnya yang sering melukai hati istrinya.


"Dari luka itu kamu mengajariku tentang sebuah kesabaran, kekuatan dan keberanian membela diri", lagi lagi jawaban Kirani membuat lidah Aldo membeku.

__ADS_1


__ADS_2