
Kirani baru menyadari alasan Tania melarang memakan makanannya, ternyata dia mempunyai rencana luar biasa yang membuat Aldo marah besar.
Malam itu Raihan menangis tak henti henti, sehingga membuat Aldo dan Mami terbangun. Mereka ikut berjaga di kamar Kirani dan bergantian menggendong Raihan.
Biasanya saat Raihan menangis kemudian di beri ASI langsung diam dan tertidur, tapi kali ini tidak. Selama hampir satu jam Raihan masih menangis tak terhenti dan tidak mau tidur walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.
Tania yang mendengar tangisan Raihan juga ikut melihat keadaannya bersama Bi Ningsih.
Saat mereka berdua masuk ke kamar, Kirani nampak kurang suka. Karena dia yakin Tania pasti akan berulah dan kembali menyudutkan dia dengan mencari perhatian Aldo.
Dan benar saja, belum sampai lima belas menit dia berada di kamar itu tiba tiba Tania mengucapkan kata kata yang mengundang perhatian, " Mungkin Raihan menangis karena ASI nya kurang terisi, bukankah dari tadi siang kamu tidak makan? mungkin Raihan merasa haus dan lapar".
"Betul kata Tania, kenapa kamu egois sekali? Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa berpikir pengaruhnya untuk Raihan. Sekarang kalau sudah seperti ini kamu harus bertanggung jawab", Aldo berkata dengan nada kasar kepada Kirani.
" Aldo kenapa nada bicaramu seperti itu? ", Mami nampak tidak suka dengan nada bicara Aldo.
" Tapi itu memang benar Mi, Kirani tidak mau memakan makanan yang diantarkan Tania sejak tadi siang. Bukankah itu sangat egois? Raihan hanya meminum ASI nya, harusnya dia pikirkan hal itu", Aldo masih belum menurunkan nada bicaranya meski saat itu dia sedang bicara kepada Mami.
"Aldo.. kenapa kamu berkata kasar kepada Mami? Dan kenapa juga kamu membela dia? sejak kapan kamu mulai membentak bentak istrimu?
Sebelum wanita ini datang kemari, keluarga kita harmonis. Dan sekarang dia membuat kamu menjadi begini, lagi lagi kamu mulai melawan Mami bahkan menyakiti hati istrimu sendiri. Mami kecewa sama kamu Aldo", Mami berkata dengan mata berkaca kaca kemudian berjalan menuju arah Kirani dan merangkul bahu Kirani.
Air mata Kirani pun turut menetes dengan mulut yang terbungkam,
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita kepada Mami tentang sikap suamimu yang berubah? Mami malu dengan sikap putra Mami kepada kamu nak. Ayo kita bawa Raihan ke kamar Mami saja" Mami mengajak Kirani dan Raihan menuju kamarnya.
"Bi, tolong bawa perlengkapan Raihan ke kamarku dan sekalian buatkan susu formula hangat dalam botol", Mami berkata kepada Bi Ningsih.
" Baik Nyonya", wanita lima puluh tahun itu mengikuti perintah majikannya.
Mereka bertiga dan juga Raihan bersama sama meninggalkan kamar Kirani menuju kamar Mami tanpa menghiraukan Aldo dan Tania.
Kini tinggal mereka berdua di dalam kamar tersebut, Tania masih berdiri di sebelah pintu dan Aldo menghempaskan tubuhnya di sofa dengan sesekali mengusap kasar rambutnya . Dia sangat kesal dengan kejadian malam ini.
Sama halnya Tania, dia juga sangat kesal karena rencananya gagal dengan kehadiran Mami di kamar itu. Kalau saja Mami tidak ada di dalam kamar itu pasti Aldo sudah memarahi habis istrinya.
Namun Tania masih mencoba mencari celah di tengah kekesalannya, dia menyampaikan sesuatu kepada Aldo, "Aku minta maaf, aku memang selalu membawa masalah buat kamu. Aku akan secepatnya pergi dari sini, karena Mami terlihat sangat tidak menyukai keberadaan ku disini".
Tania berharap dengan kata kata nya itu akan membuat Aldo menahannya dan selalu membela dirinya di depan Mami.
Tania hanya mematung mendengar jawaban Aldo, hatinya di buat kesal dua kali.Dia segera pergi meninggalkan kamar tersebut dengan wajah penuh kekesalan.
Raihan mulai sedikit tenang dan berhenti dari tangisnya, dan sambil meminum susu formula dalam botol Raihan mulai memejamkan mata.
Setelah di rasa dia sudah tertidur pulas, Kirani meletakkan Raihan di kasur. Mami menyuruh Bi Ningsih kembali ke kamarnya untuk beristirahat kembali karena malam sudah semakin larut.
Sementara di dalam kamar tersebut tinggal Mami dan Kirani yang masih terjaga.
__ADS_1
Mami bisa melihat raut kesedihan di wajah menantunya, meski Kirani tidak mengatakan hal apapun.Beliau pun berniat untuk mengorek tentang masalah yang terjadi antara menantu dan putranya.
"Katakan yang sebenarnya nak, apa yang telah terjadi? kenapa suamimu bisa bersikap seperti itu kepadamu? Mami yakin ini bukan yang pertama kalinya Aldo bersikap seperti itu? ", Mami berkata dengan lembut agar Kirani bisa terbuka dan tidak menutup nutupi masalah mereka.
Namun Kirani nampak ragu untuk menjawabnya, dia takut jika ucapannya tidak akan di percaya. Dan yang lebih dia takuti lagi adalah jika Aldo semakin kesal padanya jika dia mengadukan semua kepada Mami.
"Jangan takut untuk bercerita kepada Mami. Bayangkan jika ibu kandungmu sendiri yang mengetahui hal ini, pasti beliau sangat sakit hati melihat putrinya di perlakukan seperti ini. Dan Mami pun tidak akan punya muka di depan orang tuamu.
Jadi Mami mohon ceritakan semuanya, dan kita akan pecahkan masalah ini bersama sama", Mami melanjutkan ucapannya dan berharap Kirani akan bercerita.
Kirani membenarkan dalam hati apa yang di ucapkan Mami, dia menarik nafas panjang dan berniat untuk menceritakan saja semuanya kepada Mami.
Mami masih sabar menunggu Kirani membuka mulut, beliau menambahkan satu kalimat yang membuat Kirani semakin yakin untuk bercerita, "Ingat nak, batin ibu dan anak itu terikat. Jika kamu bahagia putramu akan tersenyum, tapi jika kamu bersedih maka dia akan menangis".
Mendengar hal itu akhirnya Kirani bercerita tentang kejadian sebenarnya, dari awal Tania mengancamnya sampai pertengkaran pertengkaran yang sering terjadi antara dia dan Aldo.
Mami yang mendengarnya mulai tidak bisa menahan emosi, rasanya dia ingin mengusir Tania malam itu juga.
"Mi, ku mohon Mami jangan terburu buru mengambil keputusan. Yang kita hadapi adalah wanita yang pintar memanipulasi keadaan, pandai memutar balikkan fakta. Apalagi sekarang Aldo sudah masuk dalam perangkapnya. Kita harus berhati hati dalam melangkah", Kirani nampak khawatir dengan sikap Mami yang hampir tak terkendali.
"Satu hal lagi yang terpenting Mi, jangan sampai suamiku tahu jika aku sudah menceritakan semuanya. Aku yakin dia tidak akan mempercayaiku, dan dia akan sangat kesal kepadaku jika dia tahu aku menceritakan semua kepada Mami", Kirani sangat berharap Mami bisa mengerti posisinya.
" Baiklah, Mami mengerti. Kita akan mencari cara untuk menghadapinya", jawab Mami yang membuat hati Kirani bagaikan mendapat guyuran hujan ditengah dahaga. Karena setidaknya beban itu tidak akan dia pikul sendiri.
__ADS_1
---------
(Semoga para pembaca tetap setia dengan novel iniπ)