
Satu minggu telah berlalu. Tania sudah berangsur membaik pasca operasi yang di jalaninya.
Indra merawat Tania dengan penuh kasih sayang, bahkan melebihi dulu saat Aldo merawatnya ketika dia sedang dalam gangguan jiwa.
Indra rela mengambil cuti kerja demi merawat Tania secara intensif. Tak kalah perhatiannya, David juga selalu mengisi waktu Tania dengan tingkah lucunya.
Meski Tania hanya ibu sambungnya, namun mereka nampak akrab seperti ibu kandung.
"Mas, kondisiku sudah membaik. Kapan kita akan pergi menemui Aldo dan berterimakasih padanya?", tanya Tania.
"Nanti kalau kamu sudah benar benar pulih", jawab Indra.
"Tapi kapan mas? aku sudah sehat kok", Tania sedikit memaksa.
"Kenapa harus buru buru? Tuan Aldo pasti juga mengerti tentang keadaanmu. Dia pasti bisa mengerti kenapa kita belum menemuinya", Indra memberi penjelasan kepada istrinya.
"Ya harus di utamakan dong mas, ini sesuatu yang berharga banget buat rumah tangga kita dan terutama buat hidupku. Tanpa bantuan dia mungkin kita tidak akan memiliki keturunan selamanya", Tania berkata dengan nada yang sedikit lebih tinggi dan keras.
Mendengar ucapan istrinya, Indra juga membenarkan hal tersebut. Namun ternyata secara tidak sengaja hal tersebut telah menyinggung perasaannya.
Indra memilih diam dan berlalu dari tempat dia duduk di sebelah Tania.
__ADS_1
Tania yang masih diliputi rasa kesal tidak merasa bersalah sedikitpun. Justru dia semakin kesal melihat reaksi Indra yang tidak mendukungnya.
Di dalam kamar Kirani sedang istirahat. Dia tertidur dan bermimpi buruk. Tentunya mimpi tersebut tentang suaminya.
Sampai akhirnya dia terbangun lalu menceritakan hal tersebut kepada Aldo.
"Itu hanya bunga tidur sayang, kamu terlalu berlebihan berpikir tentang aku. Aku juga tidak akan melakukan hal seperti yang ada pada mimpi kamu", Aldo menenangkan istrinya.
Mendengar jawaban Aldo yang begitu menenangkan Kirani lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Aku mencintaimu sayang, kuharap kamu tidak akan mengecewakanku", Kirani berkata manja kepada suaminya setelah beberapa hari berlalu sempat terjadi keheningan di antara mereka.
--------------
Di saat hubungan Kirani dan Aldo mulai membaik, rupanya tidak pada Indra dan Tania.
Suatu kebahagiaan yang di damba Indra setelah operasi, kini menemui sedikit kerikil tajam yang menusuk hatinya.
Sampai sekarang Tania masih bersikeras ingin menemui Aldo dengan kondisi yang belum pulih sempurna.
__ADS_1
"Baiklah, mari aku antar ke rumah Tuan Aldo", meski hatinya tersinggung dengan ucapan Tania namun Indra masih tetap selalu menghargai Aldo.
Malam itu Tania dan Indra pergi ke rumah Aldo, mereka datang tanpa membuat janji karena mereka pikir jika malam hari Aldo pasti ada di rumah.
Mereka berdua telah sampai di depan rumah Aldo, bel mulai di tekan agar bisa di ketahui penghuni rumah bahwa ada tamu yang menunggu di luar.
Bi Ningsih segera menuju pintu dan membukanya.
"Malam Bi, Tuan Aldo nya ada?", tanya Indra.
"Iya Tuan ada Dok, mari silahkan masuk", jawab Bi Ningsih.
Keduanya bersama sama berjalan masuk. Bi Ningsih mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu.
"Saya panggilkan Tuan Aldo, beliau sedang beristirahat di kamar", kata Bi Ningsih.
Melihat suasana yang hening dalam rumah tersebut membuat Indra menggerutu kepada istrinya.
"Sepertinya kita datang pada waktu yang tidak tepat, mereka semua sedang beristirahat dan tidak ingin menerima tamu".
"Enggak mas, kamu nya aja yang nggak mau ngasih tau duluan kalau mau bertamu. Kalau mereka tau lebih dulu pasti mereka menyambut kita sebelum kita datang", Tania masih saja tidak sependapat dengan suaminya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja", kali ini Indra menjawab dengan nada datar.