Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Bagai di sambar petir


__ADS_3

Kirani duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tentu saja Aldo yang membuatnya harus keramas di siang hari, mungkin juga akan keramas lagi nanti sore dan besok pagi.


"Aku pergi menemui klien dulu di lantai bawah, kamu istirahat saja . Kalau perlu apa apa kamu bisa menghubungi nomor ini" , Aldo berkata sambil menyodorkan kertas kecil berisi nomor telepon salah satu pegawai hotel yang akan melayani segala keperluan Kirani.


"Iya sayang, hati hati ya", jawab Kirani sambil mencium tangan suaminya.


Aldo meninggalkan kamar dan turun ke lantai bawah. Di sana sudah ada beberapa orang klien yang sudah menunggu.


Meeting siang itu berlangsung tiga jam. Seusai meeting Aldo memesan beberapa makanan untuk di bawa ke kamar. Tentunya dia ingin menikmati makan bersama dengan sang istri.


Sebenarnya jika tidak pergi bersama Kirani, Aldo bisa saja langsung pulang kembali ke Indonesia sore itu. Tapi Aldo memang sengaja ingin bermalam di Singapore bersama istri tercinta.


Sore mulai menjelang malam. Selepas menyantap makanan yang di pesan, Aldo menyuruh Kirani untuk ganti baju karena dia ingin mengajak Kirani jalan jalan menikmati suasana malam hari di Singapore.


Namun saat Kirani ganti baju, Aldo malah membuat Kirani berhenti melakukan aktifitasnya. Bagaimana tidak, dalam sela waktu tersebut Aldo malah memanaskan suasana dengan gairah yang menggelora. Kirani hanya bisa terpancing dan mengikuti permainan suaminya, hingga akhirnya Kirani harus kembali ke kamar mandi untuk mandi keramas dan kemudian bersiap siap untuk healing.


Malam itu menjadi malam yang indah, bagai dunia milik mereka berdua dan yang lain cuma ngontrak.


Keesokkan paginya Aldo memesan tiket pesawat untuk mereka tumpangi kembali pulang ke negeri tercinta Indonesia.

__ADS_1


---------


Tania selalu menunggu pesan dari suaminya. Waktu akan menjadi sangat lama ketika Indra sedang menangani pasien, karena dalam waktu tersebut Indra mematikan ponsel. Tentu saja hal itu membuat Tania gelisah karena tidak bisa mendengar kabar Indra.


"Kamu besok pulang jam berapa?", pesan Tania kepada suaminya yang sempat di balas dengan jarak waktu dua jam karena Indra masih banyak pekerjaan.


"Mungkin agak siang sekitar pukul sebelas. Maaf aku baru balas, lagi ada pasien", jawab Indra.


"Iya nggak apa apa mas, apa kamu sudah makan?", tanya Tania lagi.


"Belum", balas Indra lagi.


"Iya sayang, aku mau mandi dulu", Indra meletakkan ponselnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Selesai mandi, Indra video call dengan Tania. Tania sangat senang bisa melihat wajah Indra. Panggilan mereka berakhir ketika Tania mendengar Davina sedang menangis.


Keesokan paginya Indra masih menyelesaikan sedikit tugas sebelum kembali ke Indonesia.


Pesawat Indra akan berangkat pukul 11.15 siang. Tania di rumah sudah tidak sabar menanti kedatangan suaminya.

__ADS_1


Tania berkali kali melihat jam di ponselnya. Dia tidak dapat menghubungi Indra selama berada di mode pesawat, sehingga dia menunggu setengah jam kemudian untuk bisa kembali menghubungi Indra.


Setengah jam telah berlalu. Di rasa jika pesawat Indra sudah mendarat, Tania mengirimkan pesan tapi gagal. Tania sedikit kesal, tapi dia berpikir mungkin Indra belum sampai. Dia memutuskan untuk menunggu sepuluh menit lagi. Pesan berikutnya pun juga gagal. Tania mulai tidak tenang, karena seharusnya Indra sudah mendarat dan mengaktifkan kembali ponselnya.


Tania mencoba menenangkan diri dengan berpikir kalau mungkin bisa saja ponsel Indra kehabisan baterai sehingga perlu beberapa waktu untuk mengisi daya.


Lima belas menit kemudian pesan dikirim kembali dan tetap saja gagal, Tania sudah benar benar panik. Lalu beberapa menit kemudian dia menghubungi Indra lagi dengan langsung menelpon, bukan lewat pesan.


Terdengar suara panggilan mulai menyambung, hati Tania sedikit lega.


Namun panggilan tersebut tidak ada jawaban dari Indra, hingga Tania kembali menelpon untuk kedua kalinya.


Pada panggilan kedua ini ada jawaban dari ponsel Indra. Merasa teleponnya sudah di angkat, Tania tidak menunggu jawaban Indra dan langsung bicara lebih dahulu..


"Kenapa ponselnya susah di hubungi mas? kamu nggak apa apa kan? bukannya perjalanan di pesawat hanya tiga puluh menit?",


Namun tidak seperti yang di harapkan Tania, suara yang menerima telepon di seberang sana bukan lah suara Indra.


"Maaf, apa anda keluarga dari pemilik ponsel ini? karena pesawat yang di tumpangi pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan",

__ADS_1


Bagaikan di sambar petir di siang hari, tubuh Tania terasa membeku. Keringat dingin bercucuran dan matanya mulai sayu. Detik selanjutnya Tania sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2