
Suasana duka masih sangat kental di rumah mendiang Indra. Kondisi Tania masih belum pulih total. Tapi Tania sudah mau menyantap makanan, karena dia memikirkan Davina yang masih membutuhkan ASI.
Walaupun makanan yang di telan Tania terasa mengganjal di tenggorokan dan susah untuk di telan, tapi Tania tetap berusaha memakannya.
Bunda Tania sangat senang melihat putrinya sedikit lebih membaik, walaupun terkadang tiba tiba Tania menangis sendiri melihat foto Indra.
"Kamu makan yang banyak ya nak, agar kesehatanmu semakin membaik", kata bunda Tania.
Tania hanya tersenyum dan melanjutkan mengunyah makanannya.
Seusai makan, Tania dan bunda nya duduk berdua menemani Davina yang sedang tidur.
"Nak... Setelah tujuh hari suamimu , ayah dan bunda akan kembali ke London. Kamu ikut kami ke sana ya .. di sana juga rumahmu.. Kamu di sini tinggal di rumah Indra sendiri. Bunda khawatir dengan keadaanmu", kata bunda Tania.
"Tania masih belum bisa memikirkan hal itu sekarang bun, nanti biar Tania pikir pikir lagi", jawab Tania.
Malam itu Tania tidak bisa tidur. Selain karena berduka atas meninggalnya Indra, Tania juga sedang kalut memikirkan hidupnya yang berantakan. Langkah apa yang harus dia pilih untuk maju ke depan.
__ADS_1
Dia bisa saja ikut orang tuanya ke London, tapi bagaimana dengan David? David pasti akan mencarinya. Apakah David di ajak saja sekalian pindah ke London?
"Ah tidak, keluarga almarhum mas Indra pasti melarang. Stella mungkin juga akan mengambil hak nya sebagai ibu kandung dan David akan dia bawa", kata Tania dalam hati.
"Mas Indra, kenapa kamu harus pergi mas...? Ternyata firasat ku kemaren benar, kamu menampakkan sikap yang berbeda. Dan ternyata benar saja sekarang kamu sudah pergi untum selamanya. Sekarang apa yang harus aku lakukan?", Tania kembali menangis dalam ratapannya. Tapi kali ini dia lebih bisa mengontrol emosi dan tidak teriak teriak.
"Mungkin aku harus tetap tinggal di sini. David adalah titipan mas Indra yang harus aku jaga. Aldo.... iya Aldo ... aku akan mencari Aldo jika aku membutuhkan sesuatu. Karena bagiku, mungkin Tuhan memang tidak memisahkan kami. Buktinya donor rahim itu juga tidak akan terlaksana jika Aldo tidak memberikan dana yang begitu besar. Walaupun memang anak yang aku kandung bukanlah anak dia, tapi dia yang membuatku bisa hamil lagi karena kembali memiliki rahim", Tania menciptakan jalan pemikirannya sendiri.
Kini dia telah mantab dengan keputusannya untuk tetap tinggal di rumah mendiang suaminya.
Keesokan pagi bunda Tania datang ke kamar dengan membawa nampan berisi menu sarapan. Putrinya terlihat masih tidur di balik selimut. Bunda Tania membangunkannya,
Tania menggeliat dan berusaha membuka mata. Wajahnya sembab karena terlalu lama menangis. Kemudian dia bangun dan lekas ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Setelah matanya terbuka sempurna, Tania menghampiri nampan yang berisi makanan yang sudah bunda bawakan untuknya.
Tania mulai memegang sendok dan sedikit demi sedikit memasukkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Seusai sarapan, bunda masih menemani putrinya. Beliau kembali menanyakan tentang hal kemaren.
"Bagaimana nak, apa sudah kamu pikirkan tentang hal kemaren. Kamu akan ikut kami ke London kan setelah tujuh hari almarhum suamimu?"
"Tidak bun, Tania akan tetap tinggal di sini bersama David dan Davina", Tania menolak ajakan bundanya.
"Tetap tinggal di sini? apa tidak salah? apa kamu yakin? siapa yang akan menemanimu tinggal di sini?", Bunda Tania terkejut mendengar jawaban putrinya.
"Yakin bun, aku yakin dengan keputusanku. Aku akan tinggal bersama David dan Davina, dan jika aku membutuhkan sesuatu aku akan menghubungi Aldo", kata Tania.
"Aldo? bukankah dia sudah beristri? dia tidak akan memperdulikan kamu lagi", Bunda Tania tidak sependapat dengan putrinya.
"Davina yang akan membuatnya perduli padaku, karena aku bisa mengandung anak almarhum mas Indra karena dia. Dan sekarang mas Indra telah tiada, jadi dia punya tanggung jawab juga untuk membantuku merawat anak mas Indra", jelas Tania.
"Dia? maksud kamu apa Tania?", Bunda tidak mengerti dengan ucapan putrinya.
"Aldo yang telah membiayai operasi donor rahim tersebut. Tanpa dia mungkin aku tidak akan punya rahim lagi serta tidak akan bisa melahirkan Davina", jawab Tania.
__ADS_1
Bunda terkejut mendengar hal itu, tapi dia juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.