Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Pemakaman


__ADS_3

Tubuh Aldo masih sangat lemas melihat kepergian Papi nya, kini dia perlahan masuk ke ruangan dimana Mami nya di rawat.


Aldo berusaha bersikap tegar agar bisa menyampaikan kabar tersebut kepada wanita yang dia kasihi.


Aldo mendekat dan menggenggam tangan wanita berusia empat puluh lima tahun tersebut, "Miii.. ".Dengan suara lirih dia mulai memanggil Mami nya.


" Aldo... kamu di sini? siapa yang nungguin Papi di sana? " tanya Mami Aldo kepada Aldo dengan suara yang jelas, karena sampai saat ini kondisi beliau memang sudah berangsur membaik.


Aldo menghela nafas panjang, dan berusaha mengatur kata kata yang tepat untuk menyampaikan kabar duka tentang Papi nya.


"Aldo sayang Mami sama Papi, Mami juga sayang kan sama Aldo dan Papi? ", Aldo nampak sangat berhati hati untuk menyampaikan kabar duka tersebut.


"Tentu saja Mami sayang sekali sama kalian, kalian adalah harta berharga Mami. Kenapa kamu bertanya seperti itu Aldo? " jawab Mami Aldo yang di buat bingung dengan kata kata Aldo.


"Mi, Aldo mau menyampaikan sesuatu sama Mami tapi Aldo minta Mami tetap kuat mendengar nya. Aldo nggak mau terjadi apa apa sama Mami, Aldo sangat butuh Mami" Aldo masih berputar putar dengan perkataan nya.


"Ada apa Aldo? katakan..! ", Mami Aldo nampak sudah begitu panik.


"Mi, tiga puluh menit yang lalu Papi... " Aldo menghentikan ucapan nya.


"Papi kenapa Aldo? " Mami Aldo semakin bertambah panik.


"Paa.. paa.. pi.. Papi.. meninggalkan kita semua Mi... " tak mampu melanjutkan perkataan nya Aldo sudah terlanjur meneteskan air mata dengan kepala tertunduk lemas.


"Apa kamu bilang? kamu pasti bercanda Aldo? ", Mami Aldo tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Aldo.

__ADS_1


Sementara Aldo tak bisa menjawab lagi, hanya bisa menggelengkan kepala. Pertanda bahwa dia tidak sedang bercanda.


" Tidaaaak... Papi nggak mungkin pergi... tidaak.. ", Mami Aldo mulai menangis histeris.


" Mi,, Aldo juga nggak mau Papi pergi Mi.. Mami harus kuat... Kita semua kehilangan Mi... Kini hanya Mami harapan Aldo untuk kuat menghadapi semua ini Mi... Mami juga harus kuat", Aldo berusaha menenangkan Mami nya.


"Tapi Al.. kenapa secepat ini? rasa nya Mami ingin ikut saja sama Papi", suara isak tangis memenuhi ruangan VIP tersebut.


" Jangan berkata seperti itu Mi, apa Mami nggak sayang Aldo? apa Mami tega meninggalkan Aldo? Aldo sayang Mami.. Aldo nggak mau kehilangan lagi Mi", dengan erat Aldo memeluk Mami nya.


Selama kurang lebih tiga puluh menit meluapkan tangis nya akhir nya Mami Aldo sudah bisa lebih tenang.


"Mi abis ini jenazah Papi akan segera di bawa pulang ke rumah untuk acara pemakaman sore nanti. Mami di sini di jaga in Bi Ningsih dulu ya Mi, Aldo sama Kirani akan pulang untuk menghadiri acara pamakaman", Aldo pamit untuk segera pulang mengantar jenazah Papi nya.


Mami Aldo masih dalam tangis nya dan tidak menjawab ucapan Aldo, hingga beberapa menit kemudian beliau berkata, " Mami ikut ke pemakaman".


" Ini kesempatan terakhir Mami melihat wajah Papi mu Aldo, Mami ingin mengantar Papi mu ke peristirahatan terakhir nya", Mami Aldo bicara dengan di iringi tangis.


"Baiklah Mi, Aldo akan bicara dulu sama Dokter", Aldo segera menemui Dokter untuk membicarakan tentang kemauan Maminya ingin ikut ke pemakaman.


Setelah lima belas menit Aldo berada di ruang Dokter membicarakan hal itu, akhir nya Dokter mengizinkan Mami Aldo untuk ikut ke pemakaman. Tentu nya dengan di jaga oleh beberapa tim medis dan selama perjalanan tidak boleh menggunakan mobil pribadi, melainkan menggunakan ambulance yang di lengkapi dengan alat alat medis.


Pukul 13.00 jenazah telah sampai di rumah duka, sanak kerabat menyambut dengan tangis haru. Tak kalah mengharukan dengan keadaan Mami Aldo yang di tangan nya masih tertancap selang infus dan selang oksigen yang masih singgah di rongga pernafasan nya. Bahkan masih nampak kateter yang masih terpasang dengan rapi serta di iringi oleh tim medis, memaksakan diri untuk menghadiri acara pemakaman suami nya.


Jenazah rencana nya akan di kebumikan pukul 15.00 sore.

__ADS_1


Masih berada di rumah duka, telah nampak juga keluarga Kirani datang untuk ber bela sungkawa. Meski pun mereka belum saling kenal dan belum pernah ketemu, tapi keluarga Aldo sudah sangat baik kepada Kirani. Sehingga orang tua Kirani merasa banyak berhutang budi kepada keluarga Aldo.


Sambil menunggu jenazah di mandikan, orang tua Aldo melihat setiap sudut rumah bagaikan istana yang di tinggali putri nya. Mereka tidak menyangka putri nya akan bernasib baik dengan berhubungan dekat dengan Aldo yang mereka harapkan hubungan tersebut akan berakhir di pelaminan.


Namun sejak tadi orang tua Kirani belum bisa melihat wajah putri nya, karena begitu banyak orang yang datang untuk ber bela sungkawa. Dan semua nya rata rata adalah pengusaha serta pejabat dengan kendaraan mewah.


Hingga akhir nya setelah beberapa waktu, Kirani membuka ponsel nya dan di sana sudah ada pesan dari Mama nya kalau mereka sudah datang di kediaman Aldo sejak tadi. Kirani segera mencari keberadaan mereka, dan tak butuh waktu lama mereka bertemu karena Kirani sudah hafal betul dengan setiap sudut ruangan rumah tersebut.


"Mama... Papa..", Kirani langsung memeluk Mama dan Papa nya bergantian. Selain karena berduka, Kirani juga sangat rindu kepada mereka.


Semenjak tinggal di rumah Aldo Kirani belum pernah pulang ke rumah, padahal yang Aldo rencanakan minggu depan akan berkunjung ke rumah Kirani bersama Mami dan Papi nya untuk melamar Kirani. Namun Tuhan berkehendak lain, karena kini Papi nya telah berpulang.


"Kamu baik baik aja nak? ", tanya Mama Kirani yang cemas juga memikirkan putri nya saat beliau mendengar terjadi kecelakaan pada mobil yang di tumpangi putri nya malam itu.


Mungkin jika malam itu Aldo tak mengajak Kirani ke Taman, entah apa yang sekarang terjadi pada Aldo dan Kirani.


Tapi ternyata nasib baik masih berpihak pada kedua insan tersebut.


"Kirani baik baik saja Ma, tapi Aldo masih sangat syok. Mami Aldo juga memaksakan diri untuk ikut ke pemakaman meski tubuh nya masih lemah pasca operasi", Kirani menjelaskan dengan wajah yang sangat lesu.


" Kita doakan saja nak, semoga Almarhum di terima di sisi Yang Maha Kuasa dan di ampuni semua dosa nya serta di terima semua amal baik nya. Untuk semua keluarga yang di tinggal kan semoga di beri kekuatan dan keikhlasan", Papa Kirani berdoa untuk almarhum dan untuk keluarga yang di tinggalkan.


"Amiiin, terima kasih Paa atas doa nya", jawab Kirani yang kemudian segera mengajak kedua orang tuanya untuk ikut ke TPU karena sebentar lagi jenazah akan berangkat ke tanah peristirahatan.


Tepat pukul 15.00 taburan bunga telah memenuhi gundukan tanah yang di atas nya terpampang foto Papi Aldo, isak tangis masih terus mengiringi. Kirani nampak selalu mengelus pundak Aldo untuk berusaha memberi ketenangan, sementara Aldo hanya bisa pilu melihat kepergian Papi nya serta melihat kondisi Mami nya.

__ADS_1


-----------


__ADS_2