
Tania masih memutar otak untuk bisa meluluhkan hati Aldo, dan menyingkirkan Kirani. Apalagi Aldo berkata kalau akan menikahinya jika Kirani sudah memberinya izin.
Malam itu Tania tidur di kamar di lantai dua dimana dulu kamar tersebut di tempati Kirani sebelum Aldo menikahinya.
Tania terlihat resah, dia tidak dapat memejamkan mata. Dia jelas tidak mau lama lama berada di posisi ini, dia ingin segera merebut Aldo kembali.
Sementara yang berada di kamar lain sedang sama sama terdiam tanpa suara meski sedang bersama. Aldo tahu jika saat ini suasana hati istrinya sedang tidak baik, bahkan bisa di bilang hati Kirani pasti terluka dengan kejadian tadi siang. Semua ketakutan yang dulu pernah dia utarakan ternyata benar benar menjadi kenyataan.
Baru kemaren malam Kirani bahagia karena kemaren adalah malam anniversary nya, tapi malam ini justru seperti malam petaka.
Sesekali terlihat dia menyeka air matanya, tapi dia harus tetap kuat dan bertahan demi sang buah hati.
"Apa kamu mencintainya? ", tiba tiba Kirani bertanya kepada suaminya.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? ", Aldo terkejut dengan pertanyaan istrinya.
" Aku tidak mau menjadi wanita paling berdosa jika menghalangi cinta kalian", Kirani terlihat sangat putus asa dengan keberadaanya di antara mereka Tania dan suaminya.
"Aku akan menunggu anak kita lahir, setelah itu menikahlah dengan Tania dan aku akan pergi", Kirani melanjutkan ucapannya sambil tak bisa menahan tangis.
" Tidak, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Apa kamu tidak memikirkan nasib anak kita yang akan berpisah dengan salah satu orang tuanya? Bukankah aku pernah katakan kepadamu jika pertemuan kita terjadi karena takdir? maka biar takdir pula yang memisahkan, bukan karena keegoisan atau keinginan kita sendiri", Aldo berkata sambil menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.. dengan niat mu untuk menyuruhku menikahi Tania sementara kamu korbankan dirimu sendiri untuk pergi demi kebahagiaanku dan Tania, itu membuatku semakin mencintaimu.. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan menyianyiakan wanita yang benar benar tulus mencintaiku. Yang rela berkorban demi kebahagiaanku.Bodoh nya diriku jika sampai melepaskan dirimu", Aldo mengecup puncak kepala istrinya berulang ulang.
"Aku juga sangat mencintaimu, kamu laki laki pertama yang aku cintai dalam hidupku. Dan akan menjadi laki laki terakhir pula dalam hidupku. Karena jika sampai kamu meninggalkan diriku, aku tidak akan pernah membuka hatiku lagi untuk laki laki lain", Kirani berkata sambil membenamkan kepala nya di dada suaminya.
Malam semakin larut dan akhirnya Kirani terlelap dalam pelukan suaminya. Sementara Tania mulai tersenyum sendiri karena dia tahu apa yang harus dia lakukan mulai besok.
__ADS_1
Pagi hari pun tiba, Kirani terbangun dengan wajah yang sembab karena tangis semalam.
Aldo melarang Kirani ketika dia hendak memasak untuk sarapan, karena rutinitas Kirani setiap pagi biasanya adalah ikut memasak di dapur menyiapkan sarapan pagi. Tapi kali ini Aldo meminta agar Kirani tetap tinggal di kamar. Bahkan hari ini Aldo akan mengambil cuti untuk menemani istrinya.
Aldo berpikir dalam keadaan seperti ini Kirani harus terus di dampingi, mengingat usia kandungannya yang sudah tua dan karena keberadaan Tania di rumah itu.
Ketika di rasa sarapan sudah terhidang Aldo mengajak istrinya turun untuk makan. Terlihat Mami sudah duduk di kursi meja makan.
Sementara tak nampak ada Tania di sana, dan rupanya Tania telah sibuk di dapur membantu para asisten memasak. Hal itu lumayan membuat Aldo heran, karena selama menjadi istrinya dulu Tania tidak pernah ikut memasak di dapur.
"Pagi sayang gimana keadaan kamu, sudah baikan? sekarang ayo lekas makan dan minum vitaminnya", Mami terlihat begitu perhatian kepada menantunya.
" Tumben Mi Tania mau ke dapur, apa tidak sebaiknya kita suruh dia makan bersama kita?", Aldo meminta pendapat kepada Maminya.
"Syukurlah kalau dia berubah menjadi lebih baik dan biarkan saja dia makan di meja yang lain", Mami terlihat tak peduli dengan keberadaan Tania.
Kirani bisa membaca isi pikiran suaminya, dia berniat untuk berbicara dengan Tania secara empat mata seusai sarapan.
Ketika mereka bertiga sedang memulai menyantap makanan, terlihat Tania datang ke meja makan untuk menaruh buah buahan. Tiba tiba Kirani memanggilnya,
"Kak Tania mari ikut makan bersama kami di sini",
" Nggak usah, aku makan di belakang saja. Kalian lanjutkan sarapannya nanti kalau selesai biar aku rapikan", Tania berkata dengan lembut di sertai senyuman.
Aldo yang sempat memandang wajah Tania seketika bergetar hatinya melihat sikap Tania. Antara iba atau cinta, dia pun tidak mengerti.
"Iya sudah buruan kamu makan sana", Mami langsung menyela agar suasana nggak begitu lama lama dramatis.
__ADS_1
Tania pun lekas menjauh dari meja makan dan pergi ke dapur.
Aldo dan Kirani tidak bersuara, mereka bergejolak pada pemikiran masing masing. Kirani sangat yakin jika suaminya masih sangat memperhatikan Tania.
Selesai sarapan Kirani membantu merapikan piring kotor dan membawanya ke dapur, walaupun Mami dan Aldo sudah melarangnya tapi Kirani tetap berjalan menuju dapur sambil membawa piring kotor.
Sesampainya di dapur Kirani mendekati Tania kemudian ia mulai mengajaknya bicara,
"Kenapa kak Tania tadi tidak mau makan bersama kami? ",
Sebelum menjawab pertanyaan Kirani, Tania terlihat memperhatikan sekeliling. Kirani agak kebingungan dengan sikap Tania kenapa menoleh ke sana kemari. Dan setelah Tania yakin tidak ada Aldo dan Mami, Tania pun agak mendekat pada Kirani dan kemudian mengatakan sesuatu tepat di depan telinga Kirani,
" Jangan terlalu bergembira, karena sebentar lagi aku yang akan berada di posisimu sementara akan aku pastikan kamu yang akan keluar dari rumah ini. Tapi jangan pernah berharap kamu akan bisa membawa anakmu pergi, karena jika anak itu bersama kamu, maka akan menjadi masalah buat aku. Karena kemanapun kamu pergi Aldo pasti akan mencari anakmu. Jadi anakmu harus tetap tinggal disini tanpa kamu.
Jangan pernah berniat mengadukan ucapanku ini kepada Aldo, karena aku punya seribu cara untuk memutar balikkan fakta. Aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi rencanaku, termasuk dirimu, bayimu ataupun Mami. Aku akan bersabar menunggu sampai bayimu lahir, tapi setelah itu bersiaplah keluar dari rumah ini atas perintah Aldo. Aku pastikan hal itu akan terjadi", Tania mengakhiri perkataannya.
Sementara Kirani nampak syok mendengar perkataan Tania, sungguh dia tidak menyangka bahwa Tania akan mengatakan semua itu.
Mengapa Tania bisa bermuka dua? Dia bersikap begitu baik di depan Aldo, tapi jika di belakangnya Tania menjadi sangat kejam. Bahkan tega mau menyingkirkan siapapun yang menghalanginya.
"Tidak.. tidak .. tidak mungkin", Kirani berkata sangat pelan sambil menggelengkan kepalanya. Air mata pun tak luput menetes di pipinya. Tapi Kirani lekas menyeka air matanya saat dia berjalan keluar dari dapur dan menghampiri suaminya. Dia tidak ingin suaminya curiga.Karena jika Aldo tahu apa yang di katakan Tania, pasti Aldo akan sangat marah.
Tapi bukan kemarahan Aldo yang menakutkan, melainkan ancaman Tania kepada dirinya, bayinya dan juga Mami.
-------
Terima kasih buat para pembaca..dan ikuti terus kelanjutannya ya,, 🙏🙏
__ADS_1