
Hari itu begitu cuaca begitu cerah secerah hati dua insan yang sedang kasmaran.
"Silahkan masuk tuan putri", Aldo berkata sambil membukakan pintu mobil untuk Kirani di kala mereka hendak berangkat bekerja.
Kali ini Aldo memang ingin menyetir mobil sendiri tanpa di temani supir.
" Apaan sih? ", Kirani terlihat malu di perlakukan seperti itu dan segera masuk ke dalam mobil.
Aldo bersiap menancapkan gas nya. Selama di perjalanan mereka bercakap cakap tentang rencana lamaran yang akan mereka adakan setelah empat puluh hari meninggal nya Papi Aldo.
" Kamu sudah kasih kabar ke Mama dan Papa kamu? ", Aldo bertanya kepada Kirani.
" Belum, rencana nya nanti siang aku mau menelpon. Tadi malam aku sudah mencoba menelpon tapi tidak di angkat, mungkin mereka sudah tidur", jawab Kirani.
"Gimana perasaan kamu, kamu sudah benar benar siap untuk aku pinang?", tanya Aldo yang membuat Kirani langsung menatap Aldo.
" Bukan kah seharusnya aku yang bertanya tentang hal itu kepadamu? ", Kirani malah membalikkan pertanyaan kepada Aldo.
" Aku siap, bahkan jika siang ini kita harus menikah pun aku juga sudah siap", jawab Aldo dengan santai sambil terus memperhatikan jalanan untuk menyetir.
"Aku serius Aldo, jangan bercanda", Kirani berkata dengan menatap tajam ke arah Aldo.
__ADS_1
" Aku juga serius sayang", Aldo membalas tatapan Kirani namun tak lama kemudian dia kembali memperhatikan jalan.
"Apa kamu ... sudah bisa... membuang keraguan mu?apa kamu... sudah benar benar yakin dengan keputusan mu untuk melamar ku...? bagaimana jika... ", Kirani terlihat ragu untuk menanyakan semuanya kepada Aldo, tapi dia sangat ingin tau seperti apa sebenarnya isi hati Aldo.
" Sayang, aku tau apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu takutkan. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok. Tuhan sudah mengatur segalanya, tugas kita hanya menjalani dan menerima semua dengan ikhlas", Aldo mulai serius dengan kata kata nya, kata kata bijak yang dulu mampu menaklukkan hati Kirani.
"Sebagai seorang suami aku sudah berusaha untuk setia pada istriku dan mempertahankan rumah tanggaku, merawat istriku dengan kasih sayang walaupun kejiwaannya terganggu. Tapi sekuat apapun aku menahan dia untuk tetap di sampingku, faktanya memang istriku membutuhkan perawatan yang intensif pada kejiwaannya. Dan kamu tau kan bagaimana hukum nya sepasang suami istri yang salah satu diantara mereka sedang dalam gangguan jiwa? Dan siapa juga yang menyangka Tuhan mengirimkan kamu dalam kehidupanku? Lalu pantaskah kita ragu dengan jalan yang sudah di berikan Tuhan kepada kita? ", Aldo dengan panjang lebar menjelaskan kepada Kirani dan berharap Kirani menghilangkan ketakutan dalam hatinya.
Kirani hanya diam, tak bisa menjawab perkataan Aldo. Namun Aldo malah memberinya pertanyaan, " Kamu boleh ragu padaku, tapi apa kamu juga akan meragukan takdir Tuhan? ".Sontak Kirani langsung menggelengkan kepala.
" Kalau begitu kita ikuti saja takdir yang telah Tuhan berikan kepada kita. Mungkin entah sudah berapa kali aku mengulang kata kata ini kepadamu. Dan aku harap ini terakhir kali aku mengatakannya, karena aku sudah nggak ingin melihat kamu berada dalam bayangan ketakutan dan merasa tersudut. Oke? ", Aldo mengakhiri percakapannya sambil salah satu tangannya mengelus rambut Kirani sementara tangan satunya masih fokus menyetir. Dan Kirani hanya bisa mengangguk.
Tak lama kemudian mobil mereka telah sampai di depan Hotel dan mereka lekas turun. Lagi lagi Aldo yang membukakan pintu mobil untuk Kirani dengan ucapan yang sama, "Silahkan tuan putri".Kali ini Kirani hanya tersenyum tanpa protes dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Aldo.Lain halnya ketika berangkat tadi Kirani masih nampak canggung di perlakukan seperti tuan putri.
"Nanti sore sebelum pulang ke rumah, aku mau mengajakmu dulu", kata Aldo kepada Kirani sambil menikmati makanan yang sudah mereka pesan.
" Kemana? ", Kirani menanggapi ajakan Aldo sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
" Berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa tempat Tania di rawat", jawab Aldo yang membuat Kirani hampir tersedak karena kaget.
Kirani langsung mengambil minum agar makanan yang tiba tiba tersumbat di tenggorokan bisa dia telan.
__ADS_1
"Kamu mau kan? ", tanya Aldo kembali kepada Kirani hingga membuat Kirani kembali meminum minumannya sampai habis.
" Kenapa harus denganku? bukankah biasanya kamu datang sendiri ke sana? jujur saja aku takut, karena Tania belum mengenalku. Aku takut dia akan berontak jika bertemu orang asing? ", jawab Kirani dengan mengungkapkan kegelisahan yang tiba tiba menghampiri pikirannya.
" Maka dari itu aku ingin mengajak kamu, aku ingin ngenalin kamu ke Tania agar kamu bukan menjadi orang asing lagi bagi kami. Selain itu ini juga termasuk adab. Biar bagaimanapun, aku harus tetap meminta izin kepadanya meskipun tidak akan mendapat jawaban apa apa dari dia", jelas Aldo kepada Kirani.
Kirani diam, mulut nya membisu. Entah kepalanya akan menggeleng atau mengangguk dengan penjelasan yang telah Aldo berikan.
Beberapa menit kemudian berlalu tanpa suara dari mereka, nampaknya Kirani benar benar gelisah memikirkan permintaan Aldo yang mengajaknya mengunjungi Tania. Bahkan selera makan Kirani pun hilang begitu saja, tiba tiba ada yang mengganjal di ujung tenggorokan yang membuatnya susah menelan makanan.
Keheningan tersebut usai setelah Aldo melontarkan kata kata kepada Kirani, "Jika kamu belum siap nggak apa apa, mungkin kita bisa pergi lain waktu jika kamu sudah merasa siap".
Kirani hanya mengangguk pelan, karena memang sebenarnya hal itu yang ingin Kirani katakan dan lagi lagi Aldo bisa membaca isi pikirannya.
Dalam perjalanan pulang Kirani nampak tak banyak bicara, pandangannya lebih sering tertuju ke arah jendela mobil. Entah apa yang dia pandangi, namun sepertinya hanya sebuah lamunan kosong.
Hati Kirani begitu gelisah, dalam hati kecilnya dia merasa bersalah pada posisinya. Tapi jika mundur begitu saja dia akan menyakiti banyak orang. Aldo tentunya kemudian Maminya dan yang terlebih jika dia mundur maka Aldo akan dihantui oleh pesan terakhir dari almarhum Papinya yang meminta Aldo segera menikahi dirinya agar segera mempunyai keturunan.
Ditambah lagi dia teringat saat pertama kali menemui Tania waktu masih tinggal satu rumah dengan Aldo, saat itu tiba tiba Tania menangis histeris dan membuat Kirani merasa lemas tak berdaya saat melihat Aldo menenangkan Tania. Terlihat ungkapan kasih sayang yang besar dan tulus dari Aldo hingga mampu meredakan tangis Tania. Mengingat semua itu membuat Kirani merasa tak pantas ada di antara mereka.
Kirani menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa dia harus siap untuk melihat kejadian seperti itu lagi saat berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa nanti.
__ADS_1
------