
"Besok kita periksa ke dokter ya", Aldo bicara kepada istrinya yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur.
"Nggak usah, aku baik baik aja. Paling cuma kecapekan", jawab Kirani.
"Siapa tahu ucapan Mami benar", kata Aldo.
"Maksud kamu aku hamil lagi?", tanya Kirani.
"Bisa jadi", Aldo terlihat begitu yakin.
"Enggak mungkin deh, seminggu yang lalu baru aja aku datang bulan", Kirani sepertinya kurang sependapat dengan suaminya.
"Mungkin aja, kan udah aku top up lagi.. siapa tau jadi..", ucap Aldo sambil mencubit pipi Kirani.
"Tapi kan..", saat Kirani hendak menjawab perkataan suaminya, tiba tiba jari telunjuk Aldo berdiri tepat di bibir Kirani yang mengisyaratkan untuk diam dan tidak melanjutkan kata katanya.
"Kalau kamu masih ragu, lebih baik aku buat kamu lebih yakin kalau Raihan pasti akan segera punya adik", Raihan berkata sambil mendekatkan bibirnya tepat di bibir Kirani.
Kirani mengerti isyarat yang di berikan suaminya, hingga setelah itu Kirani lah yang lebih agresif.
Menit menit selanjutnya semakin menegangkan, keduanya terbakar api gairah.
Tak kalah panas dengan pasangan pengantin baru yang di sana, yang di sini pun juga menggelora.
__ADS_1
Helai demi helai pakaian mulai berjatuhan di lantai. Waktu tak di sia siakan begitu saja, mereka melampiaskan hasrat yang memuncak.
Kali ini Aldo benar benar ingin menanam benih kembali pada rahim Kirani.
Tanpa kontrasepsi dan cara penghalang apapun, Aldo yakin Kirani akan segera hamil lagi.
Nafas mulai berhembus kencang bergantian, keduanya mencapai puncak finish masing masing.
"Kamu yakin?", Aldo bertanya pada istrinya dengan nafas yang belum teratur.
"Yakin", Kirani menjawab dengan lirih karena kelelahan. Keduanya saling berpelukan tanpa ada sehelai pakaian di tubuh mereka.
-------
Tania sudah selesai mandi dan segera ke dapur membantu Bi Nilam menyiapkan sarapan. Pagi ini Indra berangkat kerja pukul 08.00 pagi.
Mereka bertiga sudah duduk di meja makan, Bi Nilam masih berdiri di samping meja karena membantu David mengupas buah.
"Papa nanti kita ke rumah sakit dulu ya sebelum David sekolah", David tiba tiba mengucapkan kalimat yang membuat semua panik.
"Ada apa sayang, kamu sakit? apanya yang sakit? apa bekas jahitan yang kemaren sakit lagi?", Tania nampak begitu panik.
Sama halnya kepanikan yang di rasakan Indra,
__ADS_1
"Iya sayang, kamu kenapa? apanya yang sakit nak?"
"Bukan David yang sakit, tapi mama", jawab David.
"Mama?", pandangan Indra kini ganti tertuju ke Tania. Sementara Tania masih belum mengerti apa maksud David.
"Kamu kenapa sayang, apa benar kata David kamu sakit dan harus ke rumah sakit?", tanya Indra yang semakin bingung.
Tania menggelengkan kepala, "Aku baik baik aja".
"Bohong, mama lagi sakit", David masih berkata bahwa Tania sedang sakit.
"Mama sakit apa sayang?" tanya Indra dengan serius.
"Papa kan seorang Dokter, apa papa tidak tahu kalau mama sedang sakit. Leher mama banyak merah merahnya itu berarti mama sakit. Mama harus ke rumah sakit buat di periksa dan di kasih obat", jawaban David kali ini benar benar mengundang tawa bagi Indra dan juga Bi Nilam yang sempat melirik pada leher Tania.
Pipi Tania memerah karena malu, kemudian dia mencubit pinggang suaminya yang tak bisa menahan tawa mendengar ucapan David.
"Kok papa malah tertawa, papa senang ya lihat mama sakit? papa jahat!", David terlihat begitu kesal dengan sikap Indra.
Indra masih belum bisa menghentikan tawanya, dan juga belum tau cara bagaimana menjelaskan pada David tentang keadaan Tania.
"Mama ga sakit sayang, ini tadi malam mama sama papa lagi main tebak tebakan dan yang kalah harus di beri cap warna merah. Dan ternyata mama kalah banyak jadinya ya seperti ini", jawaban Tania semakin membuat Indra tak bisa menghentikan tawanya.
__ADS_1
Bahkan Bi Nilam yang ikut tak mampu menahan tawa segera pergi ke dapur agar tidak kelepasan ikut tertawa.
Dan untung saja, jawaban ngawur Tania membuat David percaya dan menghentikan pertanyaannya.