Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Mengantar Tania


__ADS_3

Seperti malam malam sebelum nya, kedatangan Aldo di rumah di sambut dengan ratapan kosong Tania di depan jendela kamar.


Tapi malam ini Tania kembali extrem,dia berteriak teriak histeris. Membuat Aldo tiba tiba panik, walaupun Tania mengalami gangguan jiwa tapi dia tidak pernah mengamuk dengan memukul atau melempar benda. Dia hanya menangis histeris sejadi jadi nya.


Aldo bergegas menghampiri nya, berusaha menenangkan Tania dan memberikan pil penenang seperti biasa. Pil itu hanya di berikan saat Tania sedang extrem, sedang untuk di konsumsi setiap hari ada pil lain lagi.


Tapi kali ini Aldo masih belum bisa menenangkan nya meski pun pil tersebut sudah di konsumsi oleh Tania. Biasa nya kinerja pil tersebut hanya dalam hitungan menit sudah bereaksi dan bisa menenangkan Tania bahkan membuat nya tidur. Tapi kali ini sulit,hingga beberapa waktu kemudian tangis itu berangsur pelan dan diam tapi setelah itu Tania bangkit dan menangis lagi.


Sementara itu pil penenang tersebut berdosis tinggi, sehingga Aldo tidak berani meminum kan nya lebih dari satu kali kepada Tania .Itu akan berbahaya untuk nya,Tania bisa OD.


Tidak ada pilihan lain,selama hampir semalaman Aldo tetap terjaga untuk menjaga Tania, hingga hampir pukul 03.00 pagi Aldo baru bisa memejamkan mata. Fokus nya hanya pada Tania bahkan sampai dia lupa mengambil ponsel nya yang masih tersimpan di dalam tas kerja nya. Seharian kemaren hujan melanda sehingga Aldo mengaman kan ponsel nya dengan tetap menaruh nya di dalam tas agar terhindar dari guyuran air hujan.


Padahal di ponsel tersebut ada beberapa pesan Kirani yang tak terbalas, bahkan tak terbaca.


"Sayang lagi apa? "


"Besok kita berangkat bareng lagi atau nggak?"


"Apa kamu sudah tidur"


"Baik lah mungkin kamu benar benar sudah terlelap"


"Good night, have nice dream"


Pesan pesan tersebut tidak terbalas, bahkan baru sempat terbuka di pagi hari. Kala itu Aldo mengambil ponsel nya karena ingin menghubungi Kirani.


Tuut.. tuut.. tuut..


Telepon sudah mulai menyambung dan menunggu jawaban, hingga dua kali Aldo


mengulangi panggilan tersebut barulah terdengar jawaban dari sana.

__ADS_1


"Haloo"


"Haloo sayang maaf aku baru buka pesan mu. Semalam aku sibuk, aku kelelahan dan tidak sempat melihat ponsel"


Kening Kirani mengerut tanda bahwa dia masih belum jelas dengan jawaban Aldo yang mengatakan sibuk. Belum sempat Kirani menanyakan kejelasannya Aldo terlebih dahulu memberikan kata kata.


"Hari ini aku tidak masuk kerja, kamu hati hati ya kalau berangkat kerja"


"Kamu kenapa tidak masuk kerja hari ini"


"Nanti siang rencana nya aku mau mengantar Tania ke Dokter. Tapi pagi ini aku benar benar lelah dan mengantuk karena aku tidur hampir pukul tiga pagi"


"Ooh.. oke.. hati hati"


"Makasih sayang"


Tuut.. tuuuut... telepon di tutup..


Hari beranjak siang, matahari pun mulai menyengat. Aldo terbangun dari tidur nya tepat pukul 10 pagi, karena tadi dia mulai memejam kan mata nya lagi pukul 06.30 pagi setelah hampir semalaman tidak tidur.


Aldo melihat Tania yang sudah kembali duduk di tempat biasa nya, hari ini mereka mau ke dokter untuk memeriksa kan Tania. Kejadian tadi malam membuat Aldo khawatir akan keadaan Tania karena semakin hari tidak ada perubahan yang lebih baik. Mungkin Tania memang harus di rawat intensif di rumah sakit. Kali ini Aldo tidak akan menolak jika memang dokter menganjurkan Tania harus tinggal di Rumah Sakit.


Karena khawatir pada keadaan Tania atau karena sudah ada Kirani? mungkin dua dua nya adalah alasan untuk Aldo.


Dengan di bantu dan di temani ART nya, Aldo membawa Tania ke Rumah Sakit dengan menggunakan taxy. Sementara yang jauh di sana masih kepikiran dengan apa yang di lakukan Aldo tadi malam?


Mereka pun tiba di RSJ tempat Kirani mendapat perawatan.Tim perawat langsung membantu untuk membawa Tania masuk ke dalam Rumah Sakit dan langsung memanggil Dokter untuk memeriksa nya.


Setelah menunggu beberapa menit , terlihat seorang perawat keluar dari ruangan dan memanggil ke arah Aldo. "Tuan keluarga pasien Tania? ", Aldo mengangguk dan di minta masuk ke dalam ruangan. Di sana Dr. Spesialis yang menangani Tania sudah menunggu.


" Ada apa Dok, gimana keadaan istri saya? ", Aldo bertanya pada Dokter yang menangani penyakit Tania sejak awal dia mengalami gangguan jiwa.

__ADS_1


" Kondisi pasien terus terang saja sangat buruk, untuk lebih efisien nya lebih baik jika pasien di rawat lebih intensif di Rumah Sakit ini" jelas Dokter kepada Aldo.


Belum sempat Aldo menjawab nya, Dokter tersebut menambahkan kalimat nya, "Tentu nya kondisi seperti ini tidak akan terjadi pada pasien jika sejak bulan bulan lalu dia sudah mendapat perawatan di sini, tapi anda selalu menolak nya".


Aldo hanya terdiam mendengar semua penjelasan sang Dokter, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dalam lubuk hati nya dia mengutuk diri nya sendiri, "Lagi lagi aku yang membuat Tania semakin buruk kondisi nya".


Sejak awal kejadian itu memang Aldo selalu menyalahkan diri nya sendiri. Andai waktu itu dia mendampingi Tania mungkin Tania tidak akan kecelakaan.. tidak akan keguguran... tidak akan kehilangan rahim.. tidak akan mendengar keputusan orang tua nya yang menyakitkan Tania.. dan pasti nya tidak akan membuat Tania mengalami gangguan yang seburuk ini...


Mata Aldo mulai berkaca kaca dalam lamunan nya, hingga suara Dokter tersebut membangun kan lamunan Aldo, "Bagaimana Tuan, apakah Tuan mengizinkan istri anda untuk di rawat di Rumah Sakit ini? "


Aldo hanya bisa mengangguk kan kepala,dada nya begitu sesak. "Baik Dok, saya minta maaf karena kemaren kemaren saya selalu menolak saran Dokter. Saya tidak tahu jika semua nya akan menjadi lebih buruk. Sekarang saya pasrah kan semua kepada Dokter, berikan istri saya penanganan yang terbaik".


" Baik Tuan, sekarang silahkan urus administrasi nya di luar. Kami akan memberi tindakan lebih lanjut. Dan tinggal kan nomer ponsel jika sewaktu waktu kami perlu menghubungi anda", Dokter menyampaikan perkataan nya sambil berjalan menuju Tania untuk menangani nya lebih lanjut.


Aldo keluar dengan langkah yang berat kemudian berjalan menuju ruang administrasi. Selama Aldo bekerja, gaji nya hanya untuk membiayai pengobatan Tania dan membayar ART yang selama ini membantu mengurus Tania saat Aldo pergi kerja.Sisa nya buat makan sehari hari.


Selesai melakukan administrasi, seorang perawat menunjukkan kepada Aldo ruang perawatan untuk Tania. Tania sudah di pindah dari ruang Dr. spesialis ke ruang perawatan tempat dimana dia akan beristirahat selama dia di rawat di Rumah Sakit tersebut.


Tania nampak sudah berbaring di salah satu bed di ruang tersebut, dia juga tampak lebih tenang dari pada saat dia berada di rumah. Di dalam ruangan tersebut ada lima orang pasien yang di rawat bersama Tania.


Sungguh pilu hati Aldo melihat nya, melihat orang yang di cintai nya berada di suatu ruangan Rumah Sakit Jiwa. Yang dulu mereka berdua duduk manis di pelaminan dengan senyum penuh cinta, yang dulu mereka tertawa bahagia di sebuah ruang USG saat kedua nya memeriksa kandungan Tania, tapi sekarang semua nya kelam di dalam ruangan tersebut.


Tidak ada senyum, tidak ada tawa, tidak ada canda.. hanya ada ratapan dan air mata.. Bahkan seketika itu bayangan Kirani sempat menghilang sejenak dari pikiran Aldo. Itu semua karena dia begitu pilu melihat keadaan Tania yang sekarang.


"Tuan.... Tuan.. " seorang perawat memanggil Aldo namun tidak ada jawaban dari nya karena Aldo masih larut dalam lamunan nya.


Hingga perawat itu memanggil nya satu kali lagi dengan nada yang agak tinggi hingga membuat Aldo terbangun dari lamunannya.


"Maaf Tuan, ini ada beberapa resep obat yang harus anda ambil hari ini juga. Sisa nya besok kami akan memberi informasi lagi kepada anda", ucap perawat tersebut sambil menyerah kan selembar kertas berisi resep obat Dokter.


" Baik, saya akan segera mengambil nya".

__ADS_1


.....


__ADS_2