
Malam itu Tania dan Indra pulang ke rumah dengan raut muka Tania yang lesu.
Sesampainya di rumah Tania segera masuk kamar dan istirahat. Dia merasakan sedikit nyeri pada jahitan di perutnya.
Indra yang mengetahui jika istrinya sedang kesakitan segera berinisiatif memberikan obat pereda nyeri. Biar bagaimanapun kekesalan yang di rasakan Indra itu karena dia terlalu mencintai istrinya.
"Kamu minum obat ini untuk mengurangi rasa nyerinya", ucap Indra.
Tania mengangguk dan lekas menelan obat tersebut dengan segelas air yang sudah di siapkan oleh suaminya.
Setelah minum obat , tubuh Tania di baringkan di kasur oleh Indra. Dengan lembut dia membelai rambut istrinya lalu menyelimuti tubuhnya.
Tania merasa bahagia dengan perlakuan suaminya yang begitu tulus merawatnya.
Tiba tiba dia merasa menyesal dengan sikapnya kemaren. Dia merasa bersalah pada Indra.
"Mas..", kata Tania.
"Iya .. ada apa?", mungkin Indra masih menyimpan sedikit kekesalan kepada istrinya, sehingga kata "sayang" yang biasa dia ucapkan sementara waktu ini menghilang.
__ADS_1
"Aku ... aku minta maaf atas sikapku kemaren", Tania tidak berani memandang wajah suaminya saat mengucapkan kalimat tersebut.
Indra tertegun, dia tidak menyangka kalau istrinya berani mengakui kesalahannya.
Yang dia tahu selama dulu pernah berumah tangga dengan Stella, seorang perempuan itu tidak mau untuk mengakui kesalahannya. Apalagi berlapang dada untuk meminta maaf.
Dengan cepat Indra membalas kalimat istrinya, " Aku mengerti, kamu nggak perlu minta maaf. Sudah jangan mikir yang aneh aneh, sekarang kamu istirahatlah".
Mendengar jawaban suaminya, Tania justru menarik pergelangan tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"I Love you so much baby", Tania berkata manja kepada Indra.
Gairah mulai menghangat ketika bibir mulai bersentuhan. Detik demi detik membuat suasana semakin gerah. Namun ketika keduanya sedang terlena tiba tiba ada sesuatu yang di rasakan oleh Tania,
"Aduh.. sakit..", Tania melepaskan bibir Indra kemudian merintih ketika perutnya sempat sedikit tertindih tangan Indra.
"Maaf sayang, aku minta maaf... Kamu masih perlu banyak istirahat .. kalau sudah benar benar sembuh kita teruskan lagi ya", Indra berkata sambil mengecup kening istrinya.
Tania menurut kemudian dia perlahan memejamkan mata di pangkuan suaminya.
__ADS_1
Hari terus berlalu, hingga dua minggu kemudian Tania sudah benar benar sehat. Jahitan di perutnya sudah kering dan tidak terasa nyeri.
Melihat keadaan istrinya yang semakin membaik, Indra merasa sangat bersyukur. Hubungan mereka juga semakin hangat.
Malam itu menjadi saksi kerinduan untuk menyatu dari dua orang insan yang telah lama menunggu.
David sudah tertidur, sehingga membuat keduanya leluasa. Pemanasan demi pemanasan di lakukan untuk memanaskan gairah yang menggelora.
Hingga pada menit selanjutnya permainan demi permainan di jelajahi demi mencapai puncak nirwana dan jika di kehendaki Tuhan, tentu saja demi mendapatkan benih buah hati.
Nafas mulai tersengal, permainan mereka telah usai. Keduanya kelelahan sehingga tanpa mereka sadari mata mereka terpejam tanpa sehelai kain di raga mereka.
Esok pagi Indra bangun ,dia lihat istri nya sudah tidak ada di sampingnya. Terdengar gemericik air di dalam kamar mandi, pertanda Tania sedang berada di dalamnya.
Indra berjalan mendekati kamar mandi dan perlahan memutar pegangan pintu hingga pintu terbuka. Indra memeluk Tania dari belakang. Dan tentu saja bisa di tebak apa yang terjadi setelah itu.
Babak selanjutnya dari permainan semalam pun berlangsung pagi ini.
(Maaf ya,, bukan novel panas jadinya dikit dikit aja nyalain apinya biar nggak kepanasan.. entar takutnya kebakaran🤭)
__ADS_1