
Suasana duka masih kental di rumah Aldo. Sudah genap tujuh hari meninggalnya almarhum Mami. Dan genap tujuh hari juga Aldo tidak masuk kerja, dan hari ini barulah Aldo kembali bekerja.
Kabar duka tersebut juga terdengar di telinga Dion berkat informasi dari Tania. Dion sedikit gembira mendengar kabar itu, setidaknya hati Aldo pasti bersedih dan kurang fokus pada pekerjaan.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu, Dion segera membuat rencana.
Rencana yang dulu pernah dia atur bersama Tania terpaksa berubah haluan karena Tania ingin lebih dulu menjebak Kirani, bukan Aldo.
"Kriiiiing...",
Telepon Tania berdering.
"Halo..ada apa Dion?", jawab Tania.
"Kita harus bergerak, ini waktu yang tepat untuk membuat jebakan", kata Dion.
"Jebakan apa maksud kamu?", tanya Tania.
"Kamu hubungi istri Aldo, buat dia mendatangi suatu tempat karena hal penting. Di sana aku akan menjebaknya", Dion memberi penjelasan.
Tania sedikit mengernyitkan dahi, otaknya mulai bekerja memikirkan ucapan Dion.
"Hei... kenapa diam tidak menjawab?", tanya Dion dari seberang telepon.
__ADS_1
"Iya... aku lagi berpikir", jawab Tania.
"Tugas kamu memikirkan alasan dan menentukan tempatnya.. kalau sudah ketemu kamu hubungi aku lagi", kata Dion lalu mengakhiri panggilannya.
Tania selalu menggeleng kan kepala melihat kelakuan Dion yang sangat dingin.
Setelah Tania menaruh ponselnya, dia mulai memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan.
Hingga akhirnya setelah satu jam memutar otak,terpikirkan suatu hal di benak Tania.
"Oke.. aku sudah dapat ide", Tania kembali mengambil ponsel dan kembali menelepon Dion.
"Halo... apa kamu sudah memikirkan rencana itu?", tanya Dion.
"Katakan..." , kata Dion.
"Kita tidak perlu susah susah menyusun rencana lagi, cukup gunakan saja rencana awal mu, bedanya nanti Kirani yang kita jebak bukan Aldo", jawab Tania.
"Oh ya.... kenapa tidak terpikirkan olehku? kamu memang smart", kata Dion.
"Jangan berlebihan, rencana itu kamu yang buat bukan aku", jawab Tania lagi.
"Oke... hari ini juga akan aku mulai jalankan rencana itu agar lusa bisa terealisasi", lagi lagi Dion berkata sekaligus mengakhiri panggilan sepihak.
__ADS_1
-----
Hari itu Dion melibatkan temannya yang sekaligus juga teman sekolah Aldo waktu SMA, untuk membantunya menjalankan isi otaknya.
Dion telah berhasil membuat acara di hotel Aldo dengan tema reuni. Aldo sama sekali tidak menyadari jebakan itu, karena dia pikir memang benar benar acara reuni. Acara tersebut akan di adakan lusa.
Kirani juga di minta hadir dalam acara tersebut. Tapi dalam acara reuni itu telah di beri note bahwa tidak boleh membawa anak kecil, sehingga baby R terpaksa harus tetap di rumah.
Lusa pun tiba, semua undangan telah berkumpul. Makanan dan minuman yang di pesan dari Tania's Resto juga telah di hidangkan.
Tania tidak ikut hadir dalam acara itu agar dirinya tidak nampak terlibat dalam rencana yang akan mereka jalankan.
Para tamu yang merupakan para sahabat lama waktu SMA itu telah larut dalam pertemuan mereka. Termasuk juga Aldo.
Mereka saling ngobrol dan bertukar cerita satu sama lain. Sungguh tidak di kira bahwa di balik acara itu ada tujuan buruk di belakangnya.
Tiba pada waktu yang di anggap tepat menjalankan misi, teman Dion sengaja memisahkan tempat berdirinya Aldo dan Kirani.
Setelah terlihat sendiri, seorang pelayan memberi minum kepada Kirani.Di dalam minuman itu sudah di beri obat per*ngsang oleh Tania. Tanpa berpikir panjang, Kirani pun meminumnya, karena semua tamu memang sedang menikmati makan dan minum bersama.
Dari jauh Dion memantau gerakan Kirani. Setelah di rasa semua obat telah tertelan dan mulai bereaksi, Dion pura pura mendekati Kirani dan mengajaknya bicara basa basi.
Kirani mulai pusing dan pandangannya berkunang-kunang, Dion segera memapah tubuh Kirani dan pelan pelan membawanya pergi ke suatu kamar hotel yang sudah di persiapkan.
__ADS_1
Rencana itu berjalan mulus karena teman Dion sengaja mematikan lampu sejenak untuk membuat keseruan. Tidak ada yang curiga, bahkan Aldo pun tidak menyadari bahwa dirinya sudah sedikit lama terpisah dari Kirani.