Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Berkunjung


__ADS_3

Mobil mereka telah tiba di rumah, Kirani dan Aldo segera turun. Nampak Kirani yang masih terdiam, sesekali nya di ajak bicara oleh Aldo hanya di jawab dengan senyum kecil dan isyarat kepala yang menggeleng atau mengangguk.


Aldo yang tau tentang kegelisahan hati Kirani memilih untuk tidak membicarakan lagi tentang rencananya untuk mengajak Kirani berkunjung ke tempat Tania di rawat. Aldo lebih sering mengalihkan pembicaraan, dan membahas hal lain agar Kirani bisa lebih nyaman. Namun hal itu tak bisa menghapus kegelisahan di hati Kirani.


Selesai membersihkan diri, Aldo berjalan menuju arah Mami nya untuk makan malam bersama.


"Dimana Kirani, kok belum turun? ", tanya Mami Aldo kepada putranya.


" Mungkin belum selesai mandi Mi, maklum anak gadis kan mandinya lama", Aldo menjawab dengan santai sambil memakan salah satu buah yang sudah terhidang di meja makan. Padahal Aldo tau mungkin di dalam kamar sana Kirani pasti masih memikirkan ajakannya tadi siang. Aldo tiba tiba merasa takut sendiri, teringat akan Tania yang terlalu depresi hingga membuatnya menjadi seperti sekarang.


Ada rasa takut pada hati Aldo jika sampai hal itu juga akan terjadi kepada Kirani jika terlalu stress memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya Aldo berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membuat Kirani hidup nyaman dan bahagia bersama dia, dan tak ingin memberi beban pikiran kepada Kirani.


"Bii... tolong panggil Kirani, atau kalau memang dia belum bisa turun untuk makan malam tolong bawakan saja makanan ke kamarnya", Mami Aldo memberikan perintah untuk Bi Ningsih.


Sementara yang duduk di sebelah langsung menyahut, " Nggak usah Mi, biar Aldo saja yang antar ke kamar Kirani".


"Oke baiklah, tapi di kamar Kirani kamu jangan macam macam ya! ",Mami Aldo mewanti wanti putranya.


" Siap Mami", jawab Aldo sambil membawa makanan menuju kamar Kirani.


Sementara berbeda dengan yang Aldo khawatirkan, Kirani di dalam kamar justru sedang berada di meja rias setelah mandi dengan rambut terurai basah. Bahkan dia hanya menggunakan dress rumahan yang panjang nya di atas lutut.


Awalnya memang Kirani sempat menghabiskan waktu hingga satu jam untuk melamun, namun tak ingin berlama lama hingga akhirnya dia bergegas mandi. Dan sepertinya dia sudah bisa lebih bijak menyikapi persoalan ini.


Ketika Kirani hendak membuka pintu almari dan berniat ganti baju, dari luar terdengar suara ketukan pintu.


Tok.. tok.. tok

__ADS_1


Kirani segera membuka pintu tersebut, yang ada dalam pikiran Kirani mungkin Bi Ningsih yang datang karena memang sekarang sudah agak lewat jam makan malam. Mungkin saja Mami Aldo sudah terlalu lama menunggu sehingga menyuruh Bi Ningsih memanggilnya.


Dan ternyata setelah pintu terbuka Kirani kaget karena yang berdiri di hadapannya adalah Aldo, dan Kirani lebih gugup lagi karena dia hanya menggunakan dress rumahan yang panjangnya di atas lutut. Sehingga mata Aldo langsung di suguhi paha mulus milik Kirani.


"Oh maaf", Aldo berpura pura minta maaf sambil menutup matanya dengan lima jari, namun renggang di antara kelima jari tersebut sangat lebar sehingga masih tampak jelas untuk melihat.


" Aku ganti dulu, kamu tunggu di situ", jawab Kirani dengan langsung membalikkan badan. Namun tangan Aldo lebih dulu menariknya, sehingga tubuh Kirani kembali berputar arah menghadap Aldo.


"Kalau mau ganti, ganti sama dress yang agak tinggian lagi ya dari lutut, biar aku gampang melihat nya", kata Aldo dengan mata sedikit nakal. Kirani yang mendengar ucapan Aldo langsung mencubit keras pada pinggangnya.


Setelah mencubit Aldo, Kirani lekas masuk ke kamar setelah melihat genggaman tangan Aldo sudah mulai di lepas karena dia kesakitan kena cubitan.


Segera dia ambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi dengan mengunci pintu rapat rapat.


Lima menit kemudian Kirani keluar dari kamar mandi, sementara Aldo sudah menanti di sofa sebelah tempat tidur Kirani.


" Tumben kamu yang di suruh, biasanya Bi Ningsih", jawab Kirani sambil mulai memegang sendok makan dan melahap makanannya.


"Aku yang minta, karena aku rindu sama calon istriku", Aldo mulai menggombal kepada Kirani hingga membuat Kirani hanya mengerutkan keningnya tanda tak percaya.


Aldo menemani Kirani makan sampai selesai, setelah selesai makan Kirani melontarkan kata kata kepada Aldo, " Besok pulang kerja kita bisa ke Rumah Sakit Jiwa mengunjungi Tania".


Tentu saja Aldo kaget dan heran, tadi siang Kirani nampak tegang memikirkan hal itu dan sekarang malah dengan santainya dia mengajak berkunjung ke tempat Tania di rawat.


Aldo hanya mengangguk kecil sambil matanya masih sedikit membulat tanda kurang percaya dengan apa yang Kirani katakan.


Keesokkan harinya seperti biasa mereka berangkat kerja bersama, tak lupa juga saat Kirani hendak membuka pintu mobil keburu Aldo duluan yang membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Dan sepertinya akan seperti itu seterusnya. Dalam hati Kirani merasa tersanjung dengan perlakuan Aldo kepadanya.


Di perjalanan Aldo bertanya kepada Kirani, "Kamu sudah benar benar siap untuk mengunjungi Tania?aku nggak ingin membebani pikiranmu jika ternyata kamu hanya memaksakan diri untuk siap".


Kirani tersenyum lalu menjawab pertanyaan Aldo, " Apa bedanya sekarang atau nanti? karena waktu itu pasti akan tiba".


"Oke baiklah, kita akan berkunjung setelah pulang kerja nanti sore", jawab Aldo yang kemudian meneruskan laju mobilnya.


Waktu bekerja telah usai, kini Aldo dan Kirani bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit Jiwa tempat Tania di rawat.


Tepat pukul 17.00 sore mereka tiba di sana. Aldo melangkah dengan di iringi Kirani di belakangnya. Setelah melewati beberapa ruangan tibalah mereka di ruangan Tania.


Nampak masih ada Dokter yang sedang memeriksa para pasien, hingga akhirnya Aldo dan Kirani menunggu di luar.


Kirani melihat lihat suasana sekitar dimana dia duduk. Berbeda dengan Rumah Sakit pada umumnya yang merawat orang yang sakit pada tubuhnya, tapi di sana yang sakit adalah jiwa mereka dengan berbagai macam latar belakang penyebabnya.


Nampak seseorang berbicara sendiri lalu kemudian tersenyum, ada yang lari lari ke sana kemari sambil membawa makanan di kedua tangannya seperti anak kecil. Ada juga yang diam tanpa kata dengan tatapan mata yang kosong.


Miris. Satu kata yang cukup mewakili semua yang telah dilihat Kirani. Tiba tiba dia teringat pada Tania, bagaimana keadaannya sekarang? apa dia masih suka berteriak histeris seperti dulu? atau mungkin keadaan Tania sudah membaik?


Pertanyaan yang bergejolak di pikiran Kirani terhenti setelah Aldo memanggilnya, "Sayang ayo masuk. Dokter sudah keluar dari ruangan Tania".


Kirani hanya mengangguk kemudian perlahan memulai langkahnya untuk masuk ke ruangan Tania dengan Aldo yang lebih dulu berjalan di depannya.


-------


(like, koment, and favorit nya jangan lupa ya👍❤👍❤)

__ADS_1


__ADS_2