
Kirani masuk ke kamar, dan ternyata suaminya sudah lebih dulu berada di sana.
"Sudah selesai ngobrolnya? ", Aldo bertanya kepada istrinya.
Kirani tidak langsung menjawab karena dia sedang berpikir apakah suaminya mendengar percakapannya dengan Tania? Dalam hati Kirani berharap suaminya mendengar semuanya agar dirinya tak susah susah mengadu.
Namun jika suaminya mendengarkan semua, kenapa dia nampak santai dan tidak marah?
"Sayang di tanya kok malah melamun? ", Aldo menambah pertanyaannya.
Kirani nampak menjawab dengan gelagapan, "Tidak, tidak apa apa.. aku tidak melamun",
"Lalu apa yang sedang kamu pikirkan? Apa Tania berkata sesuatu kepadamu? ", Aldo mencoba menebak nebak.
Kirani terdiam, lalu kemudian dia malah balik bertanya kepada suaminya, " Apakah yang sebenarnya membuatmu lebih mencintaiku daripada kak Tania? Apa hanya karena calon buah hati kita? Karena kak Tania tidak mungkin lagi bisa mengandung lagi".
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang kalian bicarakan sehingga kamu memberi pertanyaan tersebut kepadaku? ", Aldo terlihat bingung dengan pertanyaan istrinya.
Kirani menundukkan kepala, rasanya dia ingin menyampaikan semua yang telah Tania katakan. Tapi dia takut kalau Tania malah memutar balikkan fakta dan menuduh dirinya memfitnah Tania, yang ada suaminya akan menganggap dirinya mempunyai sifat buruk.
Selain khawatir jika di anggap buruk oleh suaminya, Kirani juga memikirkan keselamatan anak dan Mami yang juga di jadikan sasaran Tania jika menghalangi rencananya.
Kirani menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan kasar, dan hal itu membuat suaminya yakin bahwa pasti ada sesuatu yang mereka bicarakan tadi.
"Katakanlah, apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Kamu harus ingat pesan Dokter kalau kamu jangan terlalu stress. Berbagilah beban dengan ku, atau kalau perlu berikan semua bebanmu kepadaku biar aku yang memikulnya", Aldo mencoba memberi ketenangan kepada istrinya yang terlihat sangat resah.
Tak bisa di pungkiri jika Kirani selalu luluh hatinya jika mendengar kata kata yang terucap dari mulut Aldo, hingga akhirnya dia langsung memeluk erat suaminya.
Aldo yang mengetahui kegelisahan di pikiran istrinya langsung membalasnya juga dengan pelukan yang erat tanpa banyak bertanya. Dia biarkan semua beban pikiran istrinya tumpah di dadanya meski dengan mulut yang terbungkam.
Siang itu ketika Kirani tertidur pulas, Aldo berniat turun ke bawah untuk mengambil minum. Saat Aldo menuruni anak tangga tak sengaja Tania melihatnya, dengan terburu buru Tania mengambil sapu dan lap. Dia berniat mencari perhatian Aldo yang hendak berjalan menuju dapur.
Tania menyapu dengan giat dan mengelap perabotan, mata Aldo pun menangkap kejadian itu dan membuat hatinya bergetar lagi.
__ADS_1
"Apa sekejam itu aku harus memperlakukan dia seperti ini? "Aldo bertanya dalam hati.
Tania yang merasa dirinya sedang di perhatikan oleh Aldo, nampak begitu senang karena ternyata rencananya berhasil untuk menarik perhatian Aldo.
Kali ini Tania bersikap agak acuh, karena memang yang dia inginkan adalah Aldo yang datang kepadanya. Bukan dirinya yang mengemis cinta kepada Aldo.
Dan seperti itu terus keadaanya selama berminggu minggu Tania berada di rumah Aldo. Tidak ada percakapan panjang di antara mereka, namun Tania yakin jika rencananya sudah mampu meluluhkan hati Aldo. Dia tinggal menunggu beberapa hari lagi saat Kirani akan melahirkan dan akan melanjutkan rencana barunya.
Malam itu saat semua orang sedang tidur tiba tiba Kirani merasa nyeri di perutnya, dia pun membangunkan suaminya dengan suara yang pelan menahan rasa sakit,
"Sayang, perutku terasa sakit",
Aldo nampak belum terbangun karena suara Kirani yang lirih.
Kirani pun mengulang ucapannya dengan sedikit keras,
" Sayang, bangun.. perutku sakit.. ",
"Kita ke Rumah Sakit sekarang, apa kamu masih sanggup berjalan ke bawah? "
Kirani hanya mengangguk dan pelan pelan berdiri kemudian berjalan dengan di bantu oleh suaminya.
Mereka dengan hati hati menuruni anak tangga, setelah sampai lantai bawah Aldo menyuruh istrinya istirahat sebentar di sofa sementara dirinya membangunkan Bi Ningsih untuk kemudian menyuruhnya membangunkan supir dan segera di suruh mengantar ke Rumah Sakit.
Setelah membangunkan Bi Ningsih dan supirnya, Aldo lekas berjalan ke arah kamar Maminya. Dengan hati hati dia mengetuk pintu kamar agar tidak membuat Maminya kaget.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka,
"Aldo? Kenapa malam malam kamu membangunkan Mami nak? ", Mami bertanya dengan mata yang belum terbuka sempurna.
" Maaf Mi kalau Mami terganggu, tapi aku mau pamit pergi ke Rumah Sakit karena Kirani merasa nyeri di perutnya. Mami di rumah saja nggak usah ikut", Aldo menjelaskan kepada Mami tentang keadaan istrinya.
Sementara Mami tidak mau tinggal di rumah, dia meminta untuk ikut. Aldo pun tidak bisa melarangnya. Akhirnya mereka bertiga berangkat bersama ke Rumah Sakit dengan mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Aldo.
__ADS_1
Selama di perjalanan Kirani terlihat semakin merintih kesakitan, bahkan nampak sudah ada cairan yang keluar hingga membasahi daster yang dia kenakan.
Aldo begitu panik dan meminta pak supir untuk menambah kecepatannya. Aldo memang sudah dua kali menikah, tapi ini adalah pengalaman pertamanya mendampingi istrinya yang hendak bersalin. Panik, gugup dan gemetar di tambah dengan keringat dingin menyelimuti tubuhnya.
Sesampainya di IGD, para perawat lekas memberi pertolongan dan membawa Kirani ke ruang bersalin dengan di dampingi Mami, sementara Aldo mengurus administrasi.
Setelah di periksa Dokter ternyata Kirani sudah pembukaan ke tujuh dan sebentar lagi akan melahirkan. Aldo semakin tidak karuan menyaksikan rintihan istrinya, dia merasa kasihan tapi tidak bisa membantu apa apa selama berada di sampingnya.
"Kamu harus kuat sayang, aku selalu di sini mendampingi mu", Aldo mencoba menyemangati istrinya dengan berkali kali mengecup keningnya.
Tak lama kemudian pembukaan telah sempurna dan Dokter mulai memberi aba aba untuk mengatur pernafasan Kirani dan kemudian untuk selanjutnya Kirani di suruh mengejan.
Dua puluh menit berlalu dan akhirnya terdengar suara tangis bayi laki laki dalam ruangan tersebut, seketika air mata menetes di mata Aldo sebagai air mata bahagia dan haru.
Para perawat sibuk membereskan peralatan persalinan, sebagian lagi mengurus tubuh Kirani dan bayinya.
Setelah semua rapi dan bersih, seorang perawat menyerahkan bayi tersebut kepada Aldo dan Aldo pun dengan hati hati belajar menggendong putra pertamanya.
Sementara pagi hari saat Tania keluar dari kamar dia melihat suasana rumah sangat sepi dan mencoba mencari tahu kemana para penghuni rumah tersebut. Bi Ningsih pun memberitahu semuanya.
Mendengar berita tersebut Tania langsung pergi menuju Rumah Sakit dimana Kirani di rawat.
Sesampainya di sana Tania langsung memasuki ruangan, terlihat Mami sedang ada di sofa dengan jarak satu meter dengan tempat tidur Kirani dan bayinya.
Tania pun mendekat dan hal itu membuat Kirani khawatir, dia langsung menggendong erat putranya.
"Kenapa? Kamu takut aku akan menyakiti bayimu? Tenang saja, aku tidak akan bermain kasar. Aku akan bermain dengan halus dan pelan tapi pasti. Tunggu saja permainanku selanjutnya, aku masih baik hati untuk menunggumu sampai pulih kembali", Tania berkata dengan pelan di dekat telinga Kirani agar tak terdengar oleh Mami.
Selama ini Mami memang tidak terlalu peduli dengan kehadiran Tania, sehingga saat Tania datang Mami pun terlihat acuh. Sementara Aldo sedang tidak ada di ruangan tersebut karena sedang pergi keluar membeli makanan.
-------
Baca terus kelanjutannya ya🙏
__ADS_1