Siapalah Diriku

Siapalah Diriku
Bukan sebuah mimpi


__ADS_3

Hembusan nafas Indra yang begitu dekat membuat bulu halus Tania berdiri.


Dengan lincah Indra membalikkan tubuh Tania yang membelakanginya.


Mereka saling berhadapan, saling bertatapan tanpa jarak pemisah.


Dada yang saling berdetak kencang karena berhimpitan. Bukan merasa sesak namun justru semakin menggelora.


Tatapan mata yang begitu mesra seakan menjadi isyarat keduanya untuk meluapkan gairah yang selama ini telah terpendam.


Berawal dari ciuman kecil di kening membuat suasana semakin hangat. Dan lebih hangat lagi ketika bibir Indra sudah mendarat di bibir Tania.


Tidak ada lagi hasrat yang terpendam, keduanya saling meluapkan. Kedua tangan Indra memegang dagu Tania yang membuatnya lebih leluasa mendominasi.


Merasa sudah halal bagi mereka, kehangatan mereka di rasa tak cukup hanya sampai di situ.


Jari jemari Indra mulai memberikan sentuhan lembut di seluruh tubuh Tania, hingga bukan hanya kehangatan namun suasana sudah benar benar panas.


Mereka yang bagaikan sedang bertemu dengan air setelah melewati dahaga yang panjang, tak ingin melewatkan waktu berlalu begitu saja.


Malam itu menjadi malam yang begitu mengesankan. Satu demi satu pakaian telah tertanggal.

__ADS_1


Tidak ada jarak dan tidak ada waktu berpikir untuk menunda menuju puncak nirwana.


******* demi ******* terdengar hangat di telinga keduanya dengan di iringi alunan musik yang terdengar begitu syahdu dan sinar lilin yang begitu hangat. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian mereka saling mencapai puncak masing masing.


Masih tanpa tertutup sehelai kain, mereka tidak ingin segera mengakhiri kesempatan emas ini.


Meski sudah resmi menikah, Indra masih punya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan sehingga tidaklah mudah mendapati momen momen seperti ini.


Belum lagi David yang masih suka merengek dan lebih manja dengan Tania sebagai mama barunya. Hal itu membuat mereka harus mengatur waktu untuk punya momen berdua.


Mereka menikmati minuman dan makanan yang telah tersaji di meja. Saling menyuapi dengan sesekali memberikan ciuman mesra di setiap suapan.


Indra membuka mata dan melihat arah jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dia segera mengenakan pakaiannya, lalu dengan pelan pelan memakaikan pakaian di tubuh istrinya tanpa membuatnya terbangun.


Tidak butuh waktu lama, karena saat masuk Tania hanya menggunakan dress mini yang sengaja di belikan Indra untuk Tania pakai di malam pertama.


Sementara Indra juga hanya menggunakan piyama. Setelah keduanya sudah sama sama mengenakan pakaian, Indra menggendong tubuh Tania dan membawanya kembali ke kamar dimana David telah tertidur pulas dengan di temani Bi Nilam.


Sesuai janjinya pada David bahwa malam ini mereka akan tidur bertiga.


Bi Nilam segera meninggalkan kamar tersebut setelah Indra dan Tania kembali.

__ADS_1


Matahari sudah sedikit menampakkan sinarnya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 06.00 pagi.


David yang pertama membuka mata langsung memeluk dan mencium pipi papa dan mamanya bergantian karena memang tubuh David di apit keduanya.


"Terima kasih mama, terima kasih papa. David seneng banget", ucap David yang membangunkan Indra dan Tania.


"Sama sama sayang", jawab Indra dan kemudian membalas ciuman di kening David.


Berbeda dengan Tania yang masih kebingungan, bagaimana saat ini dia bisa terbangun di sisi David sementara tadi malam dia tidak merasa tidur di kamar itu?


"Kok mama nggak cium David juga?", David merengek.


Tania segera memeluk dan mencium David walaupun dia masih berpikir kapan dia pindah ke kamar itu? Apakah yang dia alami tadi malam hanya mimpi?


"Bagaimana dengan mimpi indah tadi malam?", pertanyaan Indra membuyarkan lamunan Tania.


"Jangan lupa mandi dan keramas, kalau keluar tetap urai rambut kamu biar tidak kelihatan itu yang di leher", Indra berlalu ke kamar mandi sambil melemparkan senyum manja ke Tania.


Mendengar ucapan Indra, Tania segera bercermin. Dan benar saja dari leher ,dada bahkan punggung sudah banyak cap merah yang terlukis akibat dari pergulatan tadi malam. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suaminya?


Tania tersenyum malu , lalu berkata dalam hati, "Ternyata yang terjadi tadi malam bukan sebuah mimpi?"....

__ADS_1


__ADS_2