
Siang itu Tania beristirahat di kamar tamu di rumah Dokter Indra.
"Saya ke belakang dulu non, kalau butuh apa apa bisa cari saya di belakang", kata Bi Nilam, asisten rumah tangga di rumah Dokter Indra.
" Iya Bi", jawab Tania.
Tania mulai merebahkan badannya di kasur, dan tak terasa hanya dalam hitungan menit dia tertidur.
Sore hari di rumah Aldo, Mami menggendong Raihan sambil melihat televisi. Terdengar suara mobil datang, dan ternyata Aldo pulang dari kerja.
"Sore Mami.. sore juga jagoannya Daddy", Aldo mencium tangan Mami kemudian mencium kening Raihan.
" Sore sayang, hari ini Mami ada kabar gembira", Mami terlihat bahagia dengan kabar yang akan beliau sampaikan.
"Iya kah, kabar apa Mi? ", Aldo juga penasaran dengan kabar yang akan Mami sampaikan.
" Tania, dia sudah ikut bersama Dokter Indra", tanpa meninggalkan senyum di wajahnya Mami menyampaikan kegembiraannya.
"Benarkah Mi? bukankah dia sedang sakit? ", Aldo kembali bertanya.
" Dia sudah sehat, awalnya memang dia merasa belum siap. Tapi waktu Dokter Indra berpamitan, dia malah meminta untuk ikut", jelas Mami.
"Tapi itu semua karena kemauannya kan Mi? bukan paksaan? ", Aldo dengan ragu menanyakan hal itu.
" Maksud kamu Mami yang memaksa, gitu? ", raut wajah Mami sedikit berubah mendengar pertanyaan putranya
" Bukan gitu Mi, Aldo khawatir aja jika di paksa dan dia tertekan nanti malah berpengaruh pada kejiwaannya. Dia kan baru saja sembuh", penjelasan Aldo membuat Mami memasang wajah sedikit kesal.
"Sepertinya kamu keberatan? ", tanya Mami tanpa basa basi.
" Bukan Mi, Aldo tidak keberatan asal dia bahagia. Tapi kalau dia terluka Aldo merasa bersalah", Aldo berkata sambil menundukkan pandangan.
"Lalu bagaimana jika istri dan anakmu yang terluka jika dia tetap tinggal disini? apa kamu tidak merasa bersalah juga? ", Aldo di buat mati kutu dengan ucapan Mami.
" Maaf Mi kalau Aldo salah bicara", rasanya Aldo ingin menarik kembali ucapannya jika tahu semua akan membuatnya berdebat dengan Mami.
"Mami juga wanita, Mami juga tidak mau jika di madu. Entah berada di posisi Tania atau pun Kirani semuanya tidaklah nyaman. Mami melakukan semua demi kebahagiaan kalian semua. Kalau Mami kejam, Mami sudah usir dia seketika saat Mami tahu kalau dia hendak... ", Mami menghentikan ucapannya. Dia teringat pada ucapan menantunya untuk tidak mengadukan semua sikap Tania kepada Aldo, kecuali jika Aldo mengetahuinya sendiri.
" Hendak apa Mi? ", Aldo di buat penasaran dengan ucapan Mami.
__ADS_1
" Bukan apa apa, kamu buruan masuk kamar dan mandi. Abis itu kamu gendong Raihan, istrimu sedang menerima telpon dari mertuamu", Mami mengalihkan pembicaraan agar Aldo tidak terus bertanya.
"Baik Mi, Aldo masuk duluan", Aldo beranjak dari tempatnya. Namun dalam hatinya masih penuh dengan tanya. Apa yang di maksud Mami, dan kenapa Mami menghentikan ucapannya? Rasanya ada yang di rahasiakan oleh Mami tentang Tania.
Sore itu di rumah Dokter Indra, Tania terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke arah jam dan sudah menunjukkan pukul 17.00 sore.
Dia lekas mandi dan keluar kamar untuk membantu Bi Nilam menyiapkan masakan untuk makan malam.
Dua puluh menit kemudian Tania sudah berada di dapur.
"Sudah bangun Non? ", tanya Bi Nilam.
" Sudah Bi, maaf saya tadi ketiduran", jawab Tania.
"Nggak apa apa non, tadi rencananya saya mau mengantarkan minuman ke kamar Non. Tapi melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Bibi langsung masuk dan melihat Non lagi tidur", jawab Bi Nilam.
" Iya Bi, sebenarnya aku baru sembuh dari sakit jadi masih agak lemas", jawab Tania dengan wajah lesu.
"Non istirahat saja, nggak usah ikut bantu bantu. Biar saya kerjakan sendiri", kata Bi Nilam.
Belum sempat Tania menjawab, terdengar ada suara seorang anak kecil.
" Bi... Bi... aku mau beli es krim", seorang anak laki laki berusia lima tahun datang menghampiri Bi Nilam.
" Tuan kecil? apakah ini anaknya Dokter Indra?", Tania bertanya dalam hati.
"Aku mau sekarang Bi, nggak mau nunggu Papa", David tetap merengek.
" Tapi Bibi masih memasak , nanti gosong masakannya", Bi Nilam masih gencar membujuk David.
"Pokoknya mau sekarang, kalau Bibi ga mau ngantar aku berangkat sendiri sama pak sopir", dengan mulut mengerucut David mengucapkan kata katanya.
" Biar aku yang ngantar Bi", Tania menyela obrolan mereka.
"Tapi Non, katanya Non Tania baru sembuh dari sakit. Kalau ada apa apa di jalan nanti Bibi di marahi Tuan Indra", Bi Nilam nampak kebingungan.
" Nggak apa apa Bi, aku baik baik saja kok. Kan tadi sudah istirahat", jawab Tania meyakinkan.
"Hore.... beli es krim, ayo tante kita berangkat, Tante baik deh", kata David kegirangan.
__ADS_1
" Ya udah non hati hati dan ini uangnya, biar di antar sama pak supir", Bi Nilam akhirnya mengizinkan Tania mengantar David dan memberi sejumlah uang kepada Tania. Setiap hari Dokter Indra selalu menitipkan jatah uang belanja dan uang jajan David kepada Bi Nilam.
David langung berjalan kegirangan dengan menggandeng tangan Tania dengan erat untuk segera masuk ke dalam mobil.
Setelah di dalam mobil David bertanya sesuatu kepada Tania,
"Tante namanya siapa? ",
" Tania",
"Oh, Tante itu siapanya Papa? kok tidur di rumah David? Tante itu calon Mama barunya David ya? "
Tania terkejut mendengar pertanyaan pertanyaan David, dan sedikit kebingungan menjawabnya.
"Tante.. tante calon pegawai Papanya David di klinik", jawab Tania.
" Oh gitu..berarti tante bukan calon Mamanya David? ", anak kecil itu masih terus memberi pertanyaan yang sama.
" Tante.. ", belum sempat Tania melanjutkan ucapannya, tiba tiba David menyandarkan kepalanya di bahu Tania.
Tania kemudian dengan perlahan mengelus rambutnya. Merasa diperhatikan David malah memeluk Tania.
Tania berusaha memberi kenyamanan kepada anak itu, meski dia kurang paham kenapa David bertingkah seperti itu kepadanya.
"Tante jadi Mamanya David aja ya.. teman teman David kalau main sama Mamanya.. tapi David nggak punya Mama.. Papa juga kerja terus", ucapan David membuat hati Tania bergetar.
Heran dan haru campur jadi satu, entah kenapa mereka seperti ada ikatan batin meskipun mereka baru saja berkenalan.
"Kok tante diam aja, tante nggak mau ya jadi Mamanya David? ", David masih terus memojokkan Tania.
" Duh ni anak, gimana aku bisa jawab? memangnya kalau jadi emaknya aku nggak perlu nikah dulu sama bapaknya? padahal bapaknya suka apa nggak sama aku, aku juga nggak tahu", Tania bicara dalam hati.
Tapi sebisa mungkin dia tetap memberikan jawaban yang tidak mengecewakan kepada David, karena dia kasihan melihat seorang anak yang rindu kasih sayang ibunya.
"Tante bisa jadi superhero buat David, superhero bisa jadi apa aja", jawab Tania untuk menghibur David.
" Superhero? emang tante bisa berubah jadi apa aja?", tanya David penasaran.
"Kalau David kepengen dipeluk, tante bisa jadi Mama. Kalau David kepengen main, tante bisa jadi teman. Kalau David nggak bisa ngerjain PR sekolah, tante bisa jadi ibu guru. Kalau David lapar, tante bisa jadi chef".
__ADS_1
---------
(Semoga para pembaca selalu setia mengikuti kelanjutan novelku. Jangan lupa like and favoritnya ya👍❤🙏)