
Semua orang mulai membubarkan diri dari acara pemakaman, namun tidak untuk beberapa orang yang masih memilih untuk tetap tinggal.
Aldo yang di dampingi Kirani dan keluarga nya, dan juga Mami Aldo yang di dampingi para tim medis.
Semua hening, tanpa ada suara. Hanya ada tetes air mata yang mewakili semua jeritan hati.
Matahari sudah condong ke barat, dan bahkan perlahan mulai menenggelamkan sebagian sisi nya. Namun di antara mereka masih enggan melangkah untuk keluar area pemakaman tersebut.
Hingga terdengar satu suara dari seorang perawat, "Nyonya, cairan infus anda harus segera di ganti dalam tiga puluh menit. Kita harus segera kembali ke Rumah Sakit".
Mami Aldo hanya mengangguk kan kepala, entah apa yang ada di dalam pikiran nya semua berantakan. Apalagi untuk kembali pulang ke rumah, rasa nya tak sanggup menatap begitu banyak nya kiriman bunga bela sungkawa yang dikirim oleh para kerabat dan rekan kerja suami nya.
Mungkin sementara waktu tetap tinggal di Rumah Sakit itu lebih baik bagi nya. Aldo, Kirani dan orang tua nya ikut mengantar Mami Aldo kembali ke Rumah Sakit.
Mami Aldo di rawat di Rumah Sakit selama lima hari, kondisi tubuh nya sudah mulai pulih tapi belum pulih untuk hati dan pikiran nya. Beliau masih harus menggunakan kursi roda untuk berjalan pasca operasi di kaki nya akibat kecelakaan waktu itu yang membuat tulang kaki nya retak.
Hari pertama beliau pulang ke rumah dengan sudah menyandang status janda benar benar masih membuat hati nya hancur.
Aldo senantiasa mendampingi Mami nya kemana pun berada.Sudah hampir satu minggu Aldo tidak masuk kerja, begitu pun dengan Kirani.
Kini dalam rumah mewah tersebut hanya ada kesunyian, melihat kondisi Mami nya tiba tiba Aldo teringat akan Tania saat mereka tinggal serumah. Mami Aldo hanya termenung di atas kursi roda dengan tatapan kosong ke jendela.
Sebenarnya Aldo ingin menyampaikan pesan yang telah di amanah kan almarhum Papi nya untuk segera menikahi Kirani dan segera mempunyai keturunan, tapi melihat situasi yang masih sangat tidak memungkinkan membuat Aldo mengurungkan niat nya.
Hingga akhir nya sudah lewat tujuh hari Papi Aldo meninggal, Aldo mulai menyampaikan pesan yang sempat dia tunda.
__ADS_1
Siang itu seperti biasa Mami Aldo duduk termenung di atas kursi roda, dengan pelan Aldo mulai mendekati beliau.
"Miii.. " sapa Aldo dengan suara yang pelan
"Iya Aldo, ada apa nak? ", jawab Mami Aldo dengan suara yang lirih juga.
" Gimana kondisi Mami, sudah lebih baik kan Mi? ", Aldo memulai percakapan.
" Entah lah Aldo, Mami sampai sekarang masih belum mempercayai semua kejadian ini", Mami Aldo menjawab dengan suasana hati yang masih kalut.
"Iya Mi, Aldo pun juga merasakan hal yang sama. Ada yang ingin Aldo sampaikan kepada Mami tentang almarhum Papi", Aldo sudah mulai menyampaikan amanah almarhum Papi nya.
" Tentang apa Aldo? ", tanya wanita empat puluh lima tahun tersebut kepada Aldo.
" Sebelum Papi meninggal, almarhum Papi berpesan kepada Aldo supaya segera menikahi Kirani dan lekas mempunyai keturunan", Aldo menjawab dengan penuh tatapan kepada Mami nya.
Bagaimana tidak hancur hati seorang ibu yang akan menikahkan putra nya di saat sang ayah baru saja meninggal.
Tidak mendapat jawaban apapun justru Mami Aldo menangis tersedu sedu, Aldo lekas memeluk Mami nya dan berusaha menenangkan beliau.
Hingga sekitar tiga puluh menit berlalu, Mami Aldo mulai bisa meredakan tangis nya. Beliau mulai membuka mulut dan berkata sesuatu kepada putra nya, "Aldo, kita harus menjalankan pesan terakhir almarhum Papi supaya Papi tenang di sana. Tapi Mami masih butuh waktu untuk mempersiapkan diri Mami, mungkin setelah empat puluh hari meninggal nya Papi kita akan mendatangi orang tua Kirani untuk melamar nya".
" Baik Mi, Aldo terserah Mami aja yang ngatur. Yang penting Mami jaga kesehatan baik baik dan lekas pulih seperti dulu", jawab Aldo dengan menggenggam tangan Mami nya.
"Iya sayang, masa depan kamu masih sangat panjang nak. Semoga hidup mu senantiasa bahagia", dengan mata berkaca kaca Mami Aldo mendoakan putranya sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
" Makasih Mi", Aldo mengecup punggung tangan Mami nya.
Kirani yang melihat kejadian itu dari balik tirai ikut meneteskan air mata, selain sedih dia juga bahagia karena dia benar benar akan hidup berdampingan dengan Aldo dalam suatu pernikahan.
Tapi, tiba tiba Kirani juga teringat akan Tania. Kirani mulai cemas jika memikirkan Tania, "Bagaimana jika kekhawatiran ku suatu saat akan terjadi? bagaimana jika Tania benar benar kembali pulih dan kembali kepada Aldo? bagaimana dengan nasibku dan anak anakku kelak? apa suatu saat aku juga akan menjanda seperti Mami Aldo? ", pertanyaan pertanyaan itu tiba tiba memenuhi pikiran Kirani.
Namun di sisi lain Kirani juga berpikir bahwa dia tidak pernah berniat untuk merebut Aldo dari Tania, bahkan dia pun tidak pernah mengira akan berada dalam posisi seperti ini. "Lalu apakah aku bersalah dalam hal ini, aku hanya mengikuti jalan takdir ku. Aku tidak ingin menyakiti hati Tania, tapi aku juga tidak mau menyakiti hati Aldo dan keluarga nya. Ya Tuhan, apalah daya ku? siapalah diriku? apa yang harus aku lakukan? tuntun lah aku dalam setiap melangkah", Kirani menghembuskan nafas panjang.
Saat membalikkan tubuh nya Kirani sangat kaget begitu melihat wajah Aldo sudah berada di hadapan nya. Yang tadi nya Kirani sedang memperhatikan Aldo dan Mami nya dari balik tirai, justru malah kini Kirani tak sadar bahwa sejak dari tadi Aldo pun juga memperhatikan kegelisahan nya.
"Ada apa? ", tanya Aldo sambil memegang salah satu pipi Kirani.
Kirani hanya menggelengkan kepala.
" Ayo cerita kan saja pada ku tentang kegelisahan yang kamu rasakan? ", seolah Aldo bisa membaca isi pikiran Kirani.
Kirani malah tertunduk. Hingga kepala nya kembali mendongak setelah Aldo menyebutkan satu nama, " Tania? apa Tania yang membuat pikiranmu gelisah? ".
Mata Kirani membulat mendengar nama itu, lidah nya justru semakin kaku untuk menjawab pertanyaan Aldo.
Melihat kecemasan yang Kirani rasakan Aldo berusaha memberi sedikit ketenangan kepada hati Kirani sambil menggenggam kedua tangan nya, " Kamu tidak bersalah, aku yang membawa mu dalam kehidupan ku maka aku yang akan selalu menjaga mu. Kita berjalan di atas takdir kita masing masing, takdir ku hidup bersama mu dan takdir mu hidup bersama ku. Kamu mengerti kan? ".
Mendengar kata kata itu Kirani tak mampu menjawab sepatah kata pun namun dia justru langsung memeluk tubuh Aldo dengan sesekali meneteskan air mata. Entah apa arti air mata tersebut, mungkin Kirani terlalu bahagia bertemu dengan laki laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.
------
__ADS_1
(minta koment like and favorit nya ya...biar tambah semangat 💪💪)