
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.45 pagi.
Lima belas menit lagi operasi di mulai. Tania sudah berada di depan ruang operasi dengan memakai segala perlengkapannya.
Wanita yang akan mendonorkan rahimnya untuk Tania juga telah berada di ruang tersebut. Keduanya sempat bercakap cakap. Sekedar saling mengenal dan mengucapkan pesan pesan saling berterima kasih satu sama lain.
Indra mempercayakan operasi ini kepada rekannya. Tak sedikitpun Indra melepaskan genggaman tangan Tania.
"Semoga semua berjalan lancar ya mas", ucap Tania.
"Pasti sayang, aku selalu berdoa untuk itu", jawab Indra.
Waktu yang di tunggu telah tiba, pintu operasi mulai tertutup.
Dokter bedah di dampingi beberapa perawat serta tim anestesi sudah memasuki ruang tersebut.
Suntikan bius sudah mulai merasuk ke tubuh Tania . Detik selanjutnya dia sudah tidak merasakan sakit saat pisau mulai membelah perutnya.
Suasana begitu menegangkan, begitu pula bagi mereka yang menunggu di luar ruangan.
Ayah dan Bunda Tania baru saja datang.
__ADS_1
"Nak Indra kenapa operasinya begitu mendadak, maaf kami terlambat datang", bunda Tania menyapa Indra.
"Iya bun, maaf kami memberi kabar mendadak. Karena kami juga mendapat informasi secara mendadak", jawab Indra.
"Siapa wanita yang mendonorkan rahimnya untuk Tania nak?", ayah Tania juga ikut bertanya.
"Wanita tersebut pasien rumah sakit ini yah, dia sengaja menjual rahimnya", jawab Indra kepada ayah mertuanya.
"Apakah semua biaya sudah di cukupi?", ayah mertua Indra kembali bertanya.
"Sudah", Indra kembali menjawab dengan tetap memasang wajah tegang karena terbawa perasaaan nya yang gelisah menanti hasil operasi istrinya.
"Berapa biaya nya nak?", ibu mertua Indra masih ingin tahu tentang biaya operasi tersebut.
jawaban Indra membuat kedua mertuanya memujinya.
"Sungguh beruntung Tania memilikimu nak, kamu rela mengeluarkan biaya sebanyak itu untuk istrimu. Aldo saja dulu tidak memikirkan tentang hal itu", kata bunda Tania.
Indra hanya tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya. Sebenarnya dia ingin jujur kalau biaya yang dia gunakan itu adalah uang pinjaman dari Aldo.
Tapi Indra mengurungkan niatnya, dia takut jika mertuanya akan punya pandangan yang kurang baik pada dirinya.
__ADS_1
Jarum jam terus berputar, dan pintu operasi mulai terbuka.
Segenap tim medis keluar dan memberi keterangan bahwa operasi telah usai.
Indra segera memasuki ruangan dan menemui rekannya yang telah memimpin operasi tersebut.
"Semua berjalan lancar" , keterangan dari rekannya tersebut membuat hati Indra merasa lega.
Indra segera menghampiri istrinya. Indra mengecup kening istrinya dan memberitahu jika ayah bunda Tania sudah berada di luar ruang operasi.
Tania sangat senang mendengar hal itu, dia ingin segera menemui kedua orang tuanya.
"Selamat sayang, kata Dokter operasinya berjalan lancar. Semoga setelah ini kamu bisa memiliki keturunan lagi", bunda Tania berkata sambil mengelus rambut putrinya.
"Kamu beruntung nak, suamimu yang sekarang lebih mencintaimu dan memikirkan masa depan kalian dengan mengeluarkan banyak rupiah untuk operasi ini" , bunda Tania kembali memuji menantunya.
Mendengar ucapan tersebut Tania sempat sejenak melamun. Dia sangat menyayangkan mengapa dulu Aldo tidak mengeluarkan semua biaya ini saat mereka masih menjadi suami istri.
Dua puluh empat jam berlalu, kondisi Tania sudah mulai membaik. Lusa dia sudah di izinkan untuk pulang.
Selama berada di ruangan pasca operasi Tania menunggu kedatangan Aldo untuk menjenguknya. Namun sampai Tania di perbolehkan pulang, Aldo tidak kunjung datang.
__ADS_1
"Apa dia marah dengan sikapku kemaren?", Tania bertanya tanya dalam hati.