
Indra termenung di kursi ruangannya. Sampai sampai dia tidak mengetahui seseorang telah berdiri di belakangnya.
"Dokter.. Dokter Indra",
Indra terkejut dengan panggilan yang mengagetkan dirinya lalu segera membalikkan badan.
Ternyata suara tersebut berasal dari Aldo yang berdiri di belakangnya.
"Tuan Aldo, maaf saya tidak tahu anda berada di sini", jawab Indra gelagapan.
"Saya juga minta maaf karena telah lancang masuk ruangan anda tanpa menunggu persetujuan anda. Tadi saya sudah mengetuk pintu dan pintu sedikit terbuka lalu saya berinisiatif untuk masuk karena melihat Dokter sedang melamun", Aldo menjelaskan alasan dia berdiri tanpa permisi di ruangan Indra.
"Oh iya tidak apa apa Tuan, mungkin saya yang kurang fokus. Kalau boleh tahu ada keperluan apa sampai Tuan meluangkan waktu datang kesini, apa ada yang sakit?", tanya Indra.
__ADS_1
"Tidak. Tidak ada yang sakit. Kebetulan saya habis besuk teman yang sedang sakit dan tidak sengaja melewati ruangan Dokter , jadi tiba tiba saja kepikiran untuk mampir", jawab Aldo.
"Oh baiklah, apa kita perlu keluar mencari cafe atau resto agar lebih nyaman ngobrolnya?" Indra memberi tawaran kepada Aldo.
"Tidak perlu Dok, sepertinya Dokter tidak sedang baik baik saja. Apa Dokter ada masalah?" Aldo balik bertanya kepada Indra.
Indra tersenyum lalu sedikit menunduk, kemudian menjelaskan sesuatu kepada Aldo
"Sebenarnya saya sedang mendapat kabar gembira, tapi di balik kabar itu saya menemui suatu kesulitan".
"Hari ini saya mendapat kabar ada seorang wanita yang bersedia mendonorkan rahimnya. Saya sangat senang karena jika Tania menerima donor rahim tersebut, ada kemungkinan dia bisa hamil dan kita bisa mempunyai keturunan. Tapi biayanya sangat besar. Saya tidak mempunyai cukup biaya tersebut", jawab Indra dengan sedikit lesu.
"Berapa biayanya Dok?", tanya Aldo.
__ADS_1
"Tidak. Tidak, Saya tidak bermaksud merepotkan Tuan. Saya hanya bercerita dan tidak ingin memberi beban", Indra merasa tidak enak hati kepada Aldo.
"Tidak apa apa Dok, Dokter tahu kan Tania bukan orang lain bagi saya. Dulu dia mantan istri saya, dan dia menjadi seperti ini juga karena saya. Jadi saya juga harus ikut bertanggung jawab atas apapun yang terjadi kepada Tania", Aldo memberi penjelasan kepada Indra. Berharap Indra mau menerima bantuannya.
Setelah diam beberapa menit, Indra akhirnya membuka suara.
"Baiklah, akan saya sebutkan nominalnya. Donor rahim tersebut membutuhkan biaya 250 juta. Saya hanya memiliki uang 180 juta itu pun sudah termasuk tabungan untuk sekolah David", dengan berat hati Indra menjelaskan kepada Aldo.
Tanpa banyak kata Aldo segera memberi jawaban, " Segera Dokter hubungi pendonor tersebut dan lakukan operasi pendonoran rahim secepatnya. Urusan biaya saya pastikan segera cair sore ini juga".
Indra terkejut , terharu juga merasa tidak enak hati.
"Tuan, saya sangat bahagia mendengar bantuan yang Tuan tawarkan. Tapi berapa lama kami mampu melunasi hutang tersebut? mungkin butuh waktu satu tahun atau lebih?".
__ADS_1
"Jangan pikirkan itu Dok, Dokter juga sudah banyak berjasa untuk keluarga saya. Yang penting fokus pada operasi nya saja. Selebihnya kita pikirkan nanti", jawab Aldo.
"Saya sangat berterima kasih Tuan, sebenarnya saya bisa saja pinjam uang kepada mertua. Tapi sebagai laki laki saya merasa ini adalah kewajiban saya sebagai suami dan Dokter untuk istri saya. Sehingga saya tidak ingin membebankan hal ini kepada mertua saya" , penjelasan Indra mengakhiri percakapan mereka siang itu.