
Siang itu Tania keluar dari kamar menuju dapur, dia terlihat sedang mengambil air minum.
"Apa kamu sudah baikan? ", Tania menoleh saat ada yang sedang memanggilnya.
Dan ternyata Mami sudah berdiri di belakangnya.
" Masih sedikit pusing, tapi habis minum obat tadi badanku sudah tidak panas lagi", Tania menjawab pertanyaan Mami.
"Ya sudah, kamu makan sana dan segera minum obat biar cepat sembuh. Jika kamu sudah sembuh ada yang ingin membawamu pergi dari sini? ", Tania mengerutkan kening mendengar ucapan Mami.
" Siapa yang Mami maksud? ",
" Dokter Indra", jawab Mami tanpa basa basi.
"Dokter Indra? Aku mau dibawa kemana Mi? Apa aku harus di rawat di Rumah Sakit lagi? ", Tania memberikan pertanyaan bertubi tubi kepada Mami.
" Tidak, kamu tidak di bawa di Rumah Sakit tapi Dokter Indra akan memperkerjakan kamu di kliniknya sekalian kamu di beri tempat tinggal di rumah Dokter Indra", jelas Mami kepada Tania.
Tania hanya mematung mendengar ucapan Mami.
"Kamu nggak usah banyak berpikir, lebih baik kamu terima saja tawaran Dokter Indra. Dia orang baik, karirnya mapan, wajahnya tampan dan juga seorang duda beranak satu. Jika kamu beruntung kamu bisa menjadi pendampingnya. Bukankah lebih cerah masa depanmu jika menikah dengan Dokter Indra, daripada kamu berada disini? Kalaupun Aldo berniat menikahi mu, kamu hanya sebagai istri kedua. Lain halnya jika Dokter Indra yang menjadi suamimu", Mami berkata sambil berlalu.
"Ada benarnya juga ucapan Mami, tapi... ", Tania masih terlihat ragu. Tapi sejak saat itu dia mulai memikirkan perkataan Mami.
Setelah berbicara pada Tania, Mami berniat untuk menelpon Dokter Indra. Beliau ingin membahas tentang tawaran yang di berikan Dokter Indra kepada Tania.
Ponsel pun lekas di raih oleh Mami dan mulai mencari kontak Dokter duda tersebut. Tak lama kemudian panggilan pun tersambung,
"Halo Dok"
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Enggak Dok, saya hanya ingin membicarakan tawaran Dokter tadi pagi. Saya sudah bicara pada Tania , sepertinya besok Dokter bisa menjemputnya".
" Oh, soal tadi pagi. Bukankah Tania masih sakit? ",
__ADS_1
" Tadi dia bilang panasnya sudah reda, tinggal sedikit pusing di kepalanya. Kalau dipake istirahat dan minum obat, besok pagi pasti sudah enakan"
"Oh seperti itu, baiklah besok saya akan memeriksanya kembali. Jika kondisinya sudah benar benar pulih saya akan mengajaknya, tapi jika masih perlu istirahat biar dia beristirahat dulu di rumah saja sampai kondisinya benar benar fit untuk bekerja"
"Baik Dok, baik. Sekali lagi terima kasih".
Panggilan berakhir dan Mami nampak tersenyum bahagia.
" Ada apa Mi, kelihatannya lagi seneng banget?", pertanyaan Kirani membuat Mami terkejut.
"Sini sayang, ada kabar baik buat kamu. Buat kita semua", kata Mami tak sabar untuk menceritakan semuanya.
" Kabar baik untukku? untuk kita? kabar apa Mi?", sama halnya dengan Mami, Kirani juga tak sabar ingin mendengarnya.
"Besok Dokter Indra akan menjemput Tania, dan tadi Mami juga sudah bicara kepada Tania", Mami nampak kegirangan.
" Terus Mi, Kak Tania bersedia menerima tawaran Dokter Indra? ", tanya Kirani yang masih penasaran.
" Belum di jawab iya sih, tapi Mami sudah menjelaskan panjang lebar bahwa kehidupan bersama Dokter Indra akan lebih cerah daripada dia tinggal disini. Mami yakin saat ini dia sedang memikirkan ucapan Mami", Mami nampak begitu yakin dengan ucapannya.
" Bener juga, tapi tidak ada salahnya kita coba. Jika masih gagal kita coba terus dan pantang menyerah. Setidaknya ada celah solusi agar dia berhenti mengganggu kamu dan Raihan", Mami berusaha menghilangkan kekhawatiran di hati menantunya.
"Baiklah Mi, Kirani terserah Mami aja yang ngatur", jawab Kirani terlihat pasrah dengan apapun yang akan dilakukan oleh mertuanya.
Hari telah menjelang malam, Aldo pulang dari kerja. Saat dia berjalan masuk hendak ke kamar, Mami memanggil Aldo sambil duduk menonton televisi di ruang tengah.
" Aldo, ada yang mau Mami bicarakan sama kamu? ",
Aldo berhenti dan menoleh ke arah Mami, dalam hatinya sedikit khawatir jika Mami masih akan memarahinya karena kejadian tadi malam. Tapi dia tetap berjalan perlahan mendekati Mami.
" Iya Mi ada apa?",
"Kamu duduk sini, Mami mau bicara",
Dengan hati hati Aldo duduk di samping Mami dan bersiap mendengarkan apapun yang akan Mami sampaikan.
__ADS_1
" Dokter Indra besok akan menjemput Tania dan di ajak tinggal di rumahnya sekalian Tania akan di pekerjakan di kliniknya",
Aldo nampak begitu terkejut mendengar ucapan Mami. Tapi Aldo tidak menjawab sepatah kata pun.
"Mami harap setelah tinggal bersama Dokter Indra, masa depan Tania akan lebih cerah dari pada disini menunggu hanya untuk di madu",
Aldo nampak menarik nafas panjang mendengar ucapan Mami. Aldo yakin jika Maminya juga ikut kecewa dan sakit hati jika benar Aldo akan menduakan Kirani dan menikahi Tania.
"Dan satu lagi yang Mami mau bicarakan sama kamu, temui istrimu di kamar Mami dan ajak anak istrimu kembali ke kamar kalian", ucapan Mami yang terakhir mampu membuka mulut Aldo.
" Baik Mi, aku akan mandi terlebih dahulu setelah itu akan aku temui mereka".
Aldo pun berlalu pergi ke kamar dan segera mandi. Lima belas menit kemudian Aldo keluar kamar dan berjalan menuju kamar Mami untuk menemui Kirani dan Raihan.
Mami sengaja masih tetap duduk di sofa sampai beliau melihat putranya sudah memboyong anak istrinya kembali ke kamar.
Mendengar pintu di ketuk, Kirani segera membuka. Kirani melihat suaminya telah berdiri di depan pintu.
"Aku mau mengajak kalian kembali ke kamar kita. Sini biar aku gendong Raihan", Aldo berkata dengan pelan dan meraih Raihan dari tangan istrinya.
Kirani hanya menurut, walaupun dia tahu bahwa suaminya telah di perintahkan Mami untuk menemuinya. Namun dia berharap jika suaminya juga punya niat sendiri untuk menemui dirinya dan putranya.
Setelah kembali ke kamar mereka, Kirani tak mengucapkan sepatah kata. Dia terlebih dahulu ingin mengetahui bagaimana sikap suaminya? apakah masih marah atau tidak.
"Aku minta maaf atas sikap ku sejak kemaren sama kamu", Aldo memecah keheningan dalam ruangan itu.
" Aku sudah memaafkan kamu", Kirani menjawab dengan di iringi senyum di bibirnya dan rasa bahagia di hatinya karena suaminya telah menyadari kesalahannya.
Aldo masih canggung untuk bercakap banyak dengan Kirani, mengingat beberapa hari lalu dia sering membentak dan berkata kasar padanya.
Kirani mengerti apa yang sedang di rasakan oleh suaminya sehingga dia yang lebih dulu memulai percakapan,
"Apa kamu sudah makan? kalau belum buruan kamu pergi makan dulu,biar Raihan aku yang gendong" .
----_-------
__ADS_1